9: Animasi Unik Berlatar Alamnya Terminator

Berawal dari Shane Acker yang membuat film pendek durasi 11 menit untuk tugas akhirnya ketika kuliah di UCLA. Hasil karyanya tersebut justru masuk nominasi Best Animated Short Oscar ditahun 2005. Pembuat film sekaliber Tim Burton pun begitu terkesan dan akhirnya mewujudkan niat Shane untuk mewujudkan film pendeknya itu menjadi sebuah tontonan layar lebar utuh dengan dana yang tentunya lebih besar. Apalagi film ini termasuk golongan film fantasi dan suasana yang cukup kelam yang menjadi ciri film yang sering dibuat Tim Burton seperti Batman.

Lewat film animasi uniknya yang berjudul "9" ini, Shane menceritakan kejadian pasca kehancuran dunia dimana mesin telah berhasil memunahkan ras manusia. Namun, ada sebuah kelompok kecil makhluk unik yang telah diberikan kehidupan oleh seorang ilmuwan pada hari2 terakhir manusia. Mereka disebut "Stitchpunk" dan mereka melanjutkan perjalanan cerita mereka di muka bumi pada masa kehancuran peradaban manusia. Adegan awal film dimulai ketika sebuah boneka hidup tersadar di atas reruntuhan puing bangunan. Salah satu boneka "Stitchpunk" itu mempunyai nama singkat saja, 9. Tak lama kemudian, 9 bertemu dengan kaumnya dan sekelompok boneka itu lantas berjuang menemukan cara cara untuk bisa mengalahkan mesin mekanik. Salah satu jenis mesin mekanik itu adalah sebuah kelelawar berkaki robot yang sangat sangar.
9

Teman-teman seperjuangan 9 di antaranya 1 yang disuarakan Christopher Plummer, serta 2, seorang veteran perang (Martin Landau). Lalu ilmuwan penemu tua bernama 3 dan boneka kembar yang bisa berkomunikasi satu sama lain tanpa suara dengan panggilan 4.
Tokoh lain yang tampil adalah seorang insinyur dengan panggilan 5 (John C. Reilly) insinyur, 6 seorang kreatif yang sering tenggelam dalam dunianya sendiri serta 7 (Jennifer Connelly) pejuang yang tangguh. Memiliki visi ingin menciptakan tatanan dunia baru tanpa kehadiran mesin2 mekanik yang memonopoli dunia, semua boneka hidup itu bergerak di bawah komando 9 untuk memperjuangkan kelangsungan bumi. Pertama2 mereka harus mengumpulkan kembali dan membebaskan satu-satunya jiwa manusia yang selamat, yakni jiwa The Scientist. Namun, tugas tersebut, ternyata, tidak mudah karena sembilan stitchpunk itu terpisah-pisah. Mereka juga harus menghadapi mesin-mesin ciptaan Fabrication Machine.



Virtual kamera dari film ini diposisikan hanya sembilan inci dari dasar lantai, menunjukkan dunia dari perspektif karakter. Hal ini melebarkan pandangan yang membutuhkan lingkungan dan karakter dengan detil tinggi. Di Starz Animation Toronto, 125 perancang animasi mengembangkan detil yang luar biasa banyak untuk tiap adegan. Hal ini membutuhkan karakter kuat untuk mengkomunikasikan karakter bahas tubuh, animasi raut muka, dan kombinasi dari latar belakang 2D dan 3D. Starz Animation Toronto yang menggunakan Autodesk, Inc.’s (NASDAQ: ADSK) Autodesk Maya dan Autodesk Mudbox 3D software. Starz Animation Toronto mengembangkan detil yang luar biasa banyak untuk tiap adegan. Hal ini membutuhkan karakter kuat untuk mengkomunikasikan karakter bahas tubuh, animasi raut muka, dan kombinasi dari latar belakang 2D dan 3D. Adam berkata, “Semua perancang saat ini dapat bekerja dengan 2D dan 3D, dan Maya membantu untuk menjembatani dunia. Hal ini membantu untuk mengambil jalan pintas tanpa mengkompromasikan kualitas visual, dan kita pun akan mendapatkan tiap kesempatan untuk menampilkan hal hebat.”
Adam menambahkan, “Kami menggunakan Mudbox untuk pertama kalinya dalam produksi ‘9’, terutama untuk detil dasar. Software ini telah membuktikan kehebatannya dan kami sangat ingin memakainya untuk proyek mendatang. Maya telah menjadi tulang punggung untuk pipeline digital kami sejak Starz Animation Toronto membuka pintunya. Kami sangat kagum dengan kekuatannya,fleksibilitas, dukungan hebat dan komunitas besar dari para perancang.”
Dengan hasil kerja keras Shane Acker dan tim animasinya memang film ini tampil dalam visualisasi dan detil yang sangat mengagumkan. Animasi terlihat sangat halus dan begitu rapi sehingga Anda pasti akan berdecak kagum dengan teknologinya yang sangat beda dari Transformer atau Harry Potter sekalipun. Sound effect yang dihadirkan juga terhitung dahsyat begitu juga dengan karakter setiap boneka yang punya ciri khas masing2. Para pengisi suaranya juga bekerja maksimal untuk memberikan jiwa bagi setiap "Stitchpunk" dalam film ini.

Tetapi latar belakang kehancuran dunia dan kekuasaan mesin yang dihadirkan disini juga sebenarnya bukan barang baru lagi, udah sering banget film2 jenis fiksi ilmiah kaya' gini yang mengisahkan hal serupa. Salah satunya tentu yang baru aja beredar yaitu "Terminator Salvation." Narasi yang dihadirkan dalam "9" bisa dibilang juga kurang padat dan ending yang tidak mampu menawarkan greget lebih sehingga begitu mudah untuk dilupakan ketika meninggalkan gedung cineplex.

9

















Meskipun begitu, film ini tetap memberikan banyak pelajaran tentang sebuah perjuangan tanpa henti, solidaritas, kesetiakawanan dan banyak hal yang positif sehingga cocok ditonton oleh Anda bersama keluarga tercinta.
9




















Jenis Film :Animation

Duber :
Elijah Wood
John C. Reilly
Jennifer Connelly
Christopher Plummer
Crispin Glover
Martin Landau

Sutradara :
Shane Acker

Penulis :
Shane Acker
Pamela Pettler
Ben Gluck

Produser :Tim Burton, Timur Bekmambetov

Produksi :Focus Features

Homepage :http://www.filminfocus.com/focusfeatures/film/9
Galerry :
http://www.shareapic.net/content.php?gid=728917&owner=ixeman

Durasi :79

Siaga Film: Amphibious 3D

Demam pembuatan film layar lebar berformat 3D semakin menguasai perfilman dunia, terlihat dari kian banyaknya produser yang berlomba untuk menanamkan investasi mereka untuk memproduksi film2 3D ini. Di Amerika sendiri telah dirilis beberapa judul yang laris manis dipasaran dan akan disusul oleh judul2 baru berikutnya. Bagaimana dengan Asia? tentunya tidak akan ketinggalan. Produksi2 film di belahan bumi bagian timur ini juga siap menyerap apa yang menjadi fenomena tontonan yang sedang nge-trend ini. Indonesia juga saat ini sedang dalam proses pembuatan film 3D pertamanya, meskipun tetap dibantu dan didanai oleh pembuat2 film internasional. Dengan biaya sekitar 2 juta dolar AS, "Amphibious 3D" menjadi projek besar sineas lokal yang berkolaborasi dengan sineas internasional. Brian Yuzna, sutradara kelahiran Filipina yang menetap di Amerika Serikat sejak dekade ’60-an, menjadi komandan di lapangan. Yuzna juga sebelumnya dikenal sebagai pendiri rumah produksi yang bernama Komodo Pictures di Indonesia yang telah menghasilkan sebuah film antologi horor bertajuk "Takut".

"Amphibious 3D" sendiri adalah film dengan genre creature/action adventure yang mengambil lokasi di Jermal yang ada di lepas pantai dengan kemunculan seekor moster kalajengking raksasa. Film ini di buat dengan teknologi 3D dan CGI, dengan lokasi syuting di lakukan hampir 100% di Indonesia. Dengan mengambil cerita tentang seorang ahli biologi kelautan, yang mengadakan penelitian di perairan Sumatra dan ia harus berhadapan dengan sekelompok penyeludup yang hidup di Jermal. Film dengan percampuran budaya barat dan timur ini, di tampilkan dalam bentuk 3D movie, membuat adegan dalam film ini begitu hidup. Apalagi adegan-adegan perkelahian dengan monster, semua itu di lakukan dengan bantuan CGI. Film dengan output 3D bergenre creature feature pertama di Indonesia ini selain di bintangi oleh beberpa bintang lokal, seperti Verdi Solaiman, Monica Sayangbati dan M.Aditya, film ini juga di bintangi oleh aktor sekelas hollywood, Michale Pare dan artis dari Belanda Janna Fassert.

"Amphibious" bercerita mengenai seorang ahli biologi kelautan, Skylar Shane (Janna Fassaert) yang mengadakan penelitian di perairan Sumatra. Di sana, ia harus berjuang melawan sekelompok penyelundup yang malah membuatnya terdampar di sebuah jermal. Jermal sendiri merupakan tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan, ciri khas perairan Sumatera bagian utara.
Di sana, ia bertemu Tamal (Monica Sayangbati). Pertemuan dengan Tamal membangkitkan kembali memori di masa lalu karena mengingatkan pada anaknya yang hilang, Rebecca. Tamal dijual pamannya yang merupakan seorang dukun, untuk menjadi pembantu di Jermal. Sejak kehadiran Tamal, banyak hal mistis yang melingkupi hidup Skylar.
Bersama Tamal dan Jack Bowman (Michale Pare), pemilik kapal sewaan, Skylar berusaha menemukan jejak kehidupan makhluk laut yang sudah punah di perairan Sumatra. Di tengah perairan yang gelap dan jauh dari peradaban, teror yang sebenarnya sedang mengintip di bawah laut. Semua terancam, termasuk Skylar dan Tamal yang menjadi kunci segalanya.

Berikut adalah penjelasan singkat beberapa karakter dalam film ini:

Jack Bowman : Orang Amerika yang tinggal di Sumatera berumur sekitar 40 tahun-an. Pemilik kapal yang biasa disewakan untuk turis. Jack memiliki perjanjian dan masalah dengan kelompok penyelunduk di Jermal.

Skylar Shane : Seorang ahli biologi kelautan yang berasal dari Australia, berumur 33 tahun. Skylar kehilangan putrinya Rebbeca pada saat ia sedang melaksanakan sebuah penelitian beberapa tahun yang lalu. Saat ini Skylar tengah berada di perairan Sumatera dalam salah satu risetnya meneliti jejak-jejak kehidupan hewan laut yang sudah punah.

Tamal : Seorang anak berusia 13 tahun yang dijual oleh pamannya untuk bekerja di jermal. Tamal memiliki kemampuan supranatural yang mematikan.

Aris : Kakak laki-laki Tamal berusia 16 tahun yang berencana untuk melarikan diri dari jermal namun gagal.

Boss Harris : Pemimpin dari jermal di tengah laut. Tubuhnya besar dan senang bernyanyi, terkadang lucu dan sering meniru gerak-gerik Elvis Presley sambil bernyanyi.

Jimmy Kudrow : Seorang preman berusia 35 tahun yang terdampar di jermal, dia bertugas sebagai koki, dan dia selalu mabuk.

Bimo : Orang kepercayaan jack yang bertugas menjaga keamanan di perahu.

Andi : Pria bertato banyak yang bekerja untuk bos Harris sebagai mandor.

Big Rudi : Berumur 18 tahun dan suka menganggap dirinya adalah anak buah Bos Harris.

Rizal : Anak laki-laki berusia 16 tahun yang kemampuan bicaranya lebih cepat disbanding kemampuan berpikirnya.

Nanung : Anak laki-laki berusia 14 tahun, yang paling muda dari geng jermal dan selalu tertawa terhadap lelucon tidak lucu yang dilontarkan Rudi.

Salah satu keunggulan "Amphibious" adalah kemunculan seekor monster kalajengking raksasa bernama Sea Scorpions. Untuk membuatnya, kru bekerja selama dua tahun. Penampakan Sea Scorpions sendiri merupakan gabungan dari kalajengking, lobster, dan udang berukuran sembilan meter. Selain dibuat dengan teknologi 3D, film ini juga kental dengan kehadiran computer generated imagery paling mutakhir. Pengambilan gambar "Amphibious" dilakukan menggunakan redcam 3D yang mengikuti pergerakan mata. Teknik seperti yang dilakukan pada "My Bloody Valentine". Saat ini, ada sepuluh film animasi 3D bergenre creature feature yang sedang diproduksi di seluruh dunia, "Amphibious" salah satunya. Dengan demikian, "Amphibious" akan menjadi film animasi 3D dengan genre tersebut di Asia Tenggara. Karena untuk skala, Jepang sudah mendahului. Dalam film yang rencananya diluncurkan tahun depan ini, seluruh pemain menggunakan bahasa Inggris. Khusus untuk anak Jermal, bahasa Inggris yang digunakan berlogat Indonesia.

Siaga Film: Serigala Terakhir

Bulan November nanti, ada satu lagi film Indonesia baru yang akan mengusung tema laga yang cukup jarang dimunculkan oleh sineas negeri ini. Terakhir yang menggoncang perbioskopan tanah air adalah pertunjukan pencak silat Iko Uwais dalam “Merantau.” Judul film garapan sutradara cewek Upi Avianto ini adalah “Serigala Terakhir” dan ini merupakan film layar lebarnya yang ke lima setelah dulu sempat menghadirkan judul2 seperti “30 Hari Mencari Cinta”, “Realita, Cinta dan Rock'n Roll”, “Perempuan Punya Cerita” juga “Radit dan Jani”. Buat yang menggemari film yang memiliki banyak adegan pertarungan seru, film ini tampaknya layak untuk dinantikan karena dengar2 hampir 70% adegan dalam film ini merupakan adegan perkelahian yang membutuhkan keahlian khusus. Upi juga tidak segan2 menghadirkan langsung enam pria berotot untuk menjajal karakter2 utama dalam film ini. Mereka adalah Fathir Muchtar, Reza Pahlevi, Dallas Pratama, Dion Wiyoko, Ali Syakieb dan tentunya tidak ketinggalan aktor langganannya Vino G. Bastian. Mengambil tema tentang persahabatan, pengkhianatan dan balas dendam, dalam benak gue saat usai membaca synopsis dan melihat trailer “Serigala Terakhir” adalah ceritanya rada mirip (atau mungkin terinspirasi) oleh sebuah film produksi Korea Selatan berjudul “Fate”. Entah hanya faktor kebetulan saja namun melihat adegan2nya dalam trailer emang terasa banget setiap atmosfir yang ada dalam film “Fate” itu termasuk adegan para sahabat itu saat sedang bermain bola.

Berikut adalah sinopsis lengkap film ini beserta penjelasan singkat tentang para tokoh utamanya, seperti yang dilansir oleh official website “Serigala Terakhir”.

Disebuah pinggiran Jakarta dengan sekelompok remaja laki-laki tumbuh dan menjalin persahabatan yang kuat. Mereka adalah Ale [Fathir Muchtar], Jarot [Vino G. Bastian], Lukman [Dion Wiyoko], Sadat [Ali Syakieb], dan Jago [Dallas Pratama]. Ale adalah sosok yang paling menonjol diantara mereka. Jiwa pemimpinnya sangat kentara sekali. Sementara Jarot adalah sosok yang paling tidak banyak omong dan tertutup
Suatu peristiwa dalam sebuah pertandingan sepak bola yang berakhir dengan keributan. Pada saat itu Ale tampak terdesak karena lawannya menggunakan pisau. Mereka semua berusaha membantu Ale. Sampai akhirnya Jarotlah yang berhasil melumpuhkan lawan dan tanpa diduganya pisau itu tertancap ditubuh lawan, rubuh bersimbahkan darah, dan mati. Seketika semua diam dan kemudian kabur meninggalkan Jarot seorang diri yang berdiri terpana tidak percaya
Persahabatan yang sudah mereka jalin eratpun teruji. Jarot harus mengalami pengalaman pahit di penjara seorang diri. Tidak ada seorang sahabatpun yang memperdulikannya
Perasaan sakit hati dan terkhianati mengubah Jarot menjadi lelaki yang keras. Keputusannya setelah keluar dari penjara untuk bergabung di kelompok Naga Hitam membuatnya jadi berseberangan dengan kelompok Ale. Karena kelompok Naga Hitam adalah musuh besar kelompok Ale.
Intrik demi intrik pun semakin rumit. Terlebih lagi ketika Jarot menjalin cinta lamanya kembali secara diam-diam dengan Aisya [Fanny Fabriana], adik Ale. Keputusan Jarot ini dianggap membahayakan bagi kedua kelompok yang berseteru

Vino G.Bastian (Jarot)
Ugal-ugalan, bengal, nekat, dan pemberani. Dibalik itu ia sangat menghormati Ale sahabatnya baginya Ale adalah panutan setia pada kelompok dan menjaga persahabatan mereka. Namun karena masa-masa pahit yang Jarot lewati di penjara dan karena banyak menyimpan luka di hatinya ia menjadi sulit terbuka pada orang, dia pun berubah menjadi sosok yang keras. Menjadi orang yang berdiri di persimpangan dan bingung dalam mengambil sikap khususnya yang berhubungan dengan sahabat-sahabat di masa lalunya.

Fathir Muchtar (Ale)
Mempunyai jiwa pemimpin yang tinggi dan sangat dihormati oleh sahabat-sabatnya emosional dan sangat ekspresif. Dalam persahabatan Jarot adalah sahabat yang paling diperhatikannya. Berperan sebagai kepala keluarga pengganti almarhum Ayahnya. Hingga sangat protektif pada ibu, adik perempuan dan adik laki-lakinya.

Reza Pahlevi (Fatir)
Pemuda bisu baik hati dan lugu. Sikapnya tertutup penyendiri dan tidak percaya diri. Fatir juga sangat mencintai dan menjaga neneknya. Ia sangat mengagumi dan menghormati Jarot, karena cuma Jarot satu-satunya orang yang tidak pernah menghina dan memandang kecil dirinya. Masa lalunya yang pahit dan penuh penghinaan membuat Fatir tumbuh menjadi sosok yang dingin

Dallas Pratama (Jago)
Sosok yang sok jagoan dan cukup temperamental, sikapnya tengil dan meremehkan orang lain. Nekat dan tidak peduli, jadi tidak pikir panjang dalam bertindak. Namun dibalik itu semua ia tetap setia pada kelompoknya.

Dion Wiyoko (Lukman)
Meskipun senang berkelahi, sosoknya paling tenang dan tidak meledak-ledak lebih bisa menjaga emosinya. Tetapi sifat tenangnya bisa berubah meledak ketika menyangkut keluarga, khususnya pada adik laki-lakinya hal itu karena sikapnya yang sangat protektif.

Ali Syakieb (Sadat)
Setia pada kelompoknya, meskipun tukang bikin onar tetapi kocak dan penggembira. Karakternya yang paling easy going, terkadang terlihat lugu dan bodoh sehingga Sadat pun selalu menjadi bulan-bulanan sahabat-sahabatnya.

Yang cukup spesial hadir dari soundtrack film ini yang digarap oleh grup band rock legendaris God Bless. Sebelumnya, mereka terakhir menggarap soundtrack film Duo Kribo pada era 1970-an. Band yang beranggota Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (vokal), Abadi Soesman (keyboard), Donny Fatah (bas), dan Yaya Moektio (drum) itu membuatkan satu lagu baru. Sisanya lagu lama yang di aransemen lagi. "Mungkin nanti menggunakan orkestra. Judulnya masih kami rahasiakan," ujar Ahmad saat jumpa pers menjelang syuting film "Serigala Terakhir" di kawasan SCBD. Untuk film “Serigala Terakhir”, God Bless memberikan lagu yang ekspresif. Syairnya tegar dan keras, sesuai dengan filmnya.

District 9: Fiksi Ilmiah Brilian yang Ditunggu tunggu

Film “District 9” bisa dibilang sebagai salah satu terobosan terbaik Hollywood tahun ini. Mempesona banyak kalangan pers saat ditayangkan perdana di ajang promosi Comic Con San Diego, film fiksi ilmiah yang diproduseri oleh Peter Jackson ini langsung menjadi buah bibir hingga masa edarnya Agustus – September kemarin. Dengan biaya produksi yang bisa dibilang cukup irit di industri perfilman sana yaitu US$30 juta saja, film ini berhasil melampaui apa yang telah ditawarkan oleh film2 lain berbujet super super wow (salah satu contoh adalah “Transformers 2” dengan bujet US$200 juta tapi tampil sangat tidak memuaskan).

Cerita yang digulirkan “District 9” berpusat pada seorang tokoh agen MNU (Multi-National United) yang ditugaskan untuk memimpin operasi pengumpulan persetujuan para alien (Non Humans alias “Prawns”) untuk dipindahkan dari pusat kota di Afrika Selatan ke daerah pinggiran. Ketegangan dimulai saat tokoh utama ini justru terinfeksi bioteknologi alien dan menjadikannya buruan utama MNU. Mau tidak mau, dia harus menyelamatkan diri ke tempat bertahan para alien tadi yaitu District 9. Karya film panjang perdana sineas asal Afrika Selatan, Neil Blomkamp ini benar2 kreatif dalam menyajikan sebuah topik yang jarang diperhatikan pembuat cerita lain. Dan mungkin hal inilah yang membuat sineas sebeken dan setenar Peter Jackson begitu kukuh untuk memproduksi film ini. Topik yang ingin menempatkan para makhluk asing alias Alien pada posisi derajat dan keadaan yang sama dengan umat manusia disini memang benar2 mumpuni.


Para alien dalam film ini tidak dikreasikan Blomkamp untuk tampil lebih pintar ataupun lebih bodoh. Selain wujud fisiknya yang memang sangat jauh berbeda, sifat dan nurani mereka benar2 mirip manusia. Mereka bisa sedih, frustasi, despresi, dan merana karena terdampar di tempat yang sangat jauh dari habitat asli mereka. Kenyataan yang mengharuskan mereka hidup layaknya budak di perkampungan kumuh, dalam lingkungan yang tidak layak dan sarat kriminalitas tampak sangat mirip dengan keadaan kaum penduduk asli Afrika dimasa2 berlakunya sistem apartheid.

Dihadirkan dengan muatan politis yang sangat kental di babak2 awal, “District 9” juga dibawakan dengan gaya mockumentary (dokumenter fiktif) yang cukup intens di 1 jam pertama. Babak ini memperkenalkan kita dengan kawasan Afrika Selatan itu paska kehadiran sebuah pesawat alien di tahun 1990 yang dimana akhirnya manusia mendirikan sebuah badan bernama MNU yang menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan dalam penggusuran wilayah tinggal para alien terdampar di District 9. Style ala documenter itu yang justru menjadikan cerita dalam film ini berasa nyata dan penonton pun seolah2 menonton tayangan berita di televisi yang sedang menyiarkan sebuah kejadian non fiktif. Mood ini kemudian dibawa untuk mencerna berbagai adegan aksi spektakuler yang mengisi babak2 pertengahan dan akhir film ini, yang tentunya menjadikan semuanya lebih seru dan menegangkan.


Sang tokoh sentral yang diperankan dengan sangat natural oleh bintang baru bernama Sharlto Copley juga menjadi faktor unggul film ini. Perkembangan karakternya disajikan dengan sangat baik, mulai saat dirinya menjadi salah satu manusia yang membenci dan mengganggap rendah para alien, kemudian terinfeksi dan mengharuskannya mengungsikan diri ke habitat alien. Sang agen MNU ini merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya dan siapa yang sebenarnya harus dipercaya. Kenyataan bila dirinya telah terinfeksi dan pelan2 mulai menjadi individu alien itu akhirnya membuatnya bisa merasakan apa yang sebenarnya dirasakan para alien terbuang ini. Dan kenyatan yang menimpa dirinya itu justru dianggap tragis oleh orang2 yang diwawancara dalam babak dokumenter film ini. Mereka selalu menyebutkan seorang agen MNU yang seolah2 mengalami sesuatu yang sangat mengenaskan. Karena itu, semakin jauh kita mengikuti jalan ceritanya maka akan dibuat semakin penasaran kita pada apa yang akan terjadi pada tokoh utama kita ini.


Akhirnya, ending yang disajikan oleh Blomkamp juga terasa sangat pas dengan apa yang telah dibeberkan sejak adegan awal. No happy ending for sure tetapi kita bisa menarik beberapa hal sebagai pembelajaran dan menyadari sebuah kesimpulan baru tentang keberadaan para Alien. So, “District 9” memang sebuah tontonan yang sangat segar ditengah gempuran film2 lainnya yang memang hanya mengandalkan kecanggihan spesial efek belaka. Film satu ini justru membuktikan bila sisi penceritaan, tema dan detil desain juga adalah hal yang sangat penting. Meskipun begitu, kita juga tidak bakal dikecewakan oleh divisi spesial efek film ini karena ternyata dengan bujet minim tadi, efek yang dihadirkan ternyata tidak kalah rapi dan mengagumkan dibandingkan film2 fiksi ilmiah yang telah hadir di tahun 2009 ini.

Nilai: 8,5/10 (Memuaskan!)

Get Married 2: Sebuah Sekuel Yang Cukup Baik dan Menghibur

Dengan suksesnya film “Get Married” yang dibintangi rombongan bintang seperti Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Aming, Desta, Meriam Bellina, dan Jaja Mihardja. Tidak heran bila rumah produksi Starvision Plus berniat mengulang kesuksesan yang sama dengan mengajak mereka kembali di film sekuel “Get Married 2”. Walaupun film ini merupakan kisah kelanjutan, tetapi penonton tidak akan kebingungan mengikuti jalan ceritanya biarpun belum pernah menonton film pertamanya. Karena jalan ceritanya dibuat berdiri sendiri-sendiri alias tidak begitu berkaitan. Mengambil waktu empat tahun kemudian dari film sebelumnya, film ini menceritakan kehidupan rumah tangga Mae, wanita dari keluarga sederhana yang diperankan oleh Nirina Zubir dengan Rendi, pria kaya raya yang diperankan oleh Nino Fernandez (menggantikan Richard Kevin yang membawakan tokoh ini di “Get Married). Karena pernikahan Mae dengan Rendi, maka sahabat-sahabat Mae yakni Eman diperankan oleh Aming, Beni diperankan oleh Ringgo Agus Rahman dan Guntoro yang diperankan oleh Desta bisa memperoleh pekerjaan di kantor Rendi, masing-masing menjadi satpam, office boy, dan supir. Dengan semangat kebersamaan, ketiga sahabat Mae itu tidak sungkan-sungkan ikut campur dalam urusan rumah tangga Mae, termasuk memberi nasihat dalam urusan tempat tidur mengingat Mae dan Rendi belum juga dikaruniai anak. Rendi yang merasa ketiga sahabat Mae itu adalah bawahannya dikantor menjadi sedikit tersinggung karena mereka mencampuri urusan pribadi rumah tangganya. Ketersinggungan Rendi membuat Mae kecewa dan menganggap Rendi tidak menghormati sahabat-sahabat yang telah dianggapnya sebagai saudara sendiri hingga akhirnya mereka bertengkar.Pertengkaran mereka membuat Rendi stres, ditambah lagi orang tua Mae yang diperankan oleh Jaja Miharja dan Meriam Bellina menuntut Rendi untuk segera menghamili Mae jika tidak mau bercerai.

“Get Married 2” masih sebuah prinsip yang mengatakan seberat apapun tema dan maksud yang hendak disampaikan sebuah film harus tetap menghibur. Maka dari itu, bisa dibilang film lanjutan ini ternyata lebih kocak dan lebih segar dibandingkan yang pertama. Komedi, konflik dan permasalahan lebih komplit. Kelakuan Mae, Eman, Beni, Guntoro, dan terutama kedua orangtua Mae yang diperankan dua aktor dan aktris kawakan, Jaja Miharja dan Meriem Bellina, membuat suasana semakin hidup dan mengocok perut kita, karena mereka bukan karakter yang tidak mungkin ditemukan di keseharian kita hidup di Indonesia. Meskipun menghibur dalam balutan komedi situasi tadi, tetapi masih terdapat beberapa bagian yang ceritanya tampak menggantung dan sedikit kedodoran (kalo ga ingin disebut agak maksain). Beberapa adegan lucu juga sepertinya tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anak2 yang masih di bawah umur. Yang menjadi kelemahan lagi di film ini adalah Nino Fernandez yang melanjutkan peran sebagai Rendy. Karakternya terlihat jauh lebih lemah dibandingkan film pertama dulu. Entahlah apakah ini karena tuntutan skenario yang mengharuskan penggambaran karakternya harus seperti itu, ataukah salah penafsiran Nino sendiri mengenai tokoh yang harus dibawakannya. Yang pasti Rendy di film kedua ini terkesan sangat kurang berwibawa dan cuma jadi bulan-bulanan trio Guntoro-Beni-Eman aja.

Tapi bagaimanapun, Film yang digarap Hanung Bramantyo ini masih tetap menghibur dan Hanung lagi2 berhasil menangkap potret kehidupan masyarakat Indonesia yang berwarna dengan baik. Film tentang persahabatan, cinta dan pendewasaan diri melalui keberanian menertawakan diri sendiri ini patut ditonton di bioskop2 terdekat anda.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme