Tampilkan postingan dengan label tora sudiro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tora sudiro. Tampilkan semua postingan

Wakil Rakyat, nonton dulu baru nyontreng

poster_wakil _rakyat_buayafilm
09 April 2009 adalah tanggal yang penting bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal tersebut seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai hak pilih, memilih orang – orang yang pantas duduk di kursi yang terhormat yaitu kursi dewan. Fenomena yang terjadi pada Pemilihan Umum 2009 adalah banyaknya caleg dari golongan rakyat kecil,seperti pengamen, penjualan teh botol, dan lain – lain. Artis – artis pun banyak yang menjadi caleg. Tora Sudiro pun gak mau ketinggalan menjadi caleg. Lewat filmnya yang terbaru di tahun 2009, Tora Sudiro berperan sebagai caleg yang musti menarik simpati di sebuah desa terpencil. Mengapa Tora bisa menjadi seorang caleg ?

Kisah dimulai ketika Tora (berperan sebagai Bagyo dituduh mengacau diacara rakernas sebuah partai besar pimpinan Zainuddin (Joe Project P). Karena insiden itu Bagyo harus kehilangan pekerjaannya. Musibah itu membuat rencana pernikahannya dengan Ani (Revalina. S. Temat) terancam batal. Apa lagi Abdul (Jaja Mihardja), ayah Ani memang tidak menyukainya. Bagyo terpaksa harus mencari cara terbaik untuk mewujudkan impiannya bersanding dengan Ani

VIEW GALLERY

Di tengah kesulitan itu musibah lain yang lebih besar datang menimpa Bagyo. Uang untuk ongkos orang tuanya datang melamar ke Jakarta dicuri oleh sekawanan penjahat. Karena tidak tahan tekanan yang bertubi-tubi Bagyo jadi gelap mata. Ia pergi mencari orang-orang yang membawa kabur uangnya untuk menuntut balas.

Kebetulan para penjahat itu sedang merampok seorang artis terkenal bernama Atika (Wiwid Gunawan). Aksi itu gagal karena Bagyo tiba-tiba muncul dan langsung menghajar mereka hingga babak belur (belajar dari mana yah si Tora ?). Tanpa disengaja tindakan Bagyo membuat Atika luput dari bahaya. Kejadian itu pun berbuntut panjang.
wiwid_gunawan_buayafilm
Bagyo disanjung sebagai pahlawan. Ia dipuja-puji karena dianggap rela berkorban untuk menyelamatkan Atika yang tak berdaya. Kisah keberanian Bagyo menjadi berita besar. Namanya langsung jadi buah bibir di berbagai media nasional maupun daerah (kaya Ponari aja).

Ketenaran Bagyo lalu dimanfaatkan oleh sebuah partai politik papan atas untuk menggaet dukungan massa dalam pemilihan legislatif. Bagyo dirayu oleh sang ketua partai, Wibowo (Tarzan) dan asistennya Dani (Dwi Sasono) untuk bergabung demi merebut suara rakyat di daerah pemilihan yang penting. Bagyo yang terlena dengan statusnya sebagai figur publik menyambut tawaran partai tersebut dengan penuh keyakinan. Ditemani bekas anak buahnya yang bernama Jereng (Vincent Rompies) Ia pun berangkat untuk berkampanye di Wadasrejo, sebuah daerah terpencil yang rakyatnya hidup serba kekurangan.

Di sana, Bagyo yang tidak punya pengalaman politik apapun mengalami kesulitan untuk menarik perhatian. Ternyata masyarakat Wadasrejo tidak mengenal sosoknya sama sekali. Bagyo harus mencari akal untuk memperkenalkan diri dan menarik simpati warga desa terbelakang itu.

Ternyata Bagyo menemukan kenyataan lain yang lebih penting daripada nama besar dan popularitas. Masyarakat desa lebih tahu apa yang paling mereka butuhkan. Bagyo pun terjepit antara kepentingan partai atau menolong seorang wanita desa yang mengalami kesulitan saat akan melahirkan (Francine Roosenda). Bagyo yang buta politik harus memilih antara merebut perhatian rakyat banyak atau menolong seorang wanita lemah di tempat yang jauh dari keramaian.


Bersamaan dengan datangnnya Pemilu, rasanya film “Wakil Rakyat” yang mengusung tema perpolitikan tanah air relevan untuk mengutkan premis teme politik dalam balutan komedi yang diharapkan dapat mengurangi ketegangan, menghibur sekaligus memberikan pencerahan. Apalagi film Indonesia dengan tema politik masih sedikit. Padahal jokes politik sangat banyak dan selalu bisa menghibur diantara hangar binger panggung politik kita. Mungkin film ini adalah film bertemakan politik pertama di Indonesia sejak kebangkitan perfilman nasional.

Bisa dibilang Chand Parwez sebagai pencetus ide film Wakil Rakyat cukup peka dengan situasi realita sehari – hari bangsa ini. Naluri sutradara muda Monty Tiwa yang sering menangani film komedi mampu menghidupkan kisah Bagyo. Yang enaknya lagi film ini didukung oleh bintang – bintang papan atas seperti Tora Sudiro, Revalina.S. Temot, Wiwid Gunawan, Vincent Rompies, Dwi Sasono, Francine Roosends, Tarzan, Jaja Miharja, Debby Sahertian, Joe Project P, Tessy, Marwoto, Mat Solar, Yati Pesek, dan banyak lagi, membuat beban Monty Tiwa untuk menghidupkan unsur komedi dalam fim Wakil Rakyat seolah lenyap dengan kemampuan nama – nama diatas. “….. Wakil Rakyat akan mengajak pencinta film Indonesia untuk merenung sekaligus menertawakan realita kehidupan politik bangsa ini.” pesan Monty. Makanya jangan coblos dulu baru mikir tapi nonton film ini dulu baru coblos eh contreng.

Catatan buat Tora, sejak bermain di Naga Bonar jadi 2 sebagai BoNaga dan Ququickie Express, belum ada lagi peran yang bagus buat dia. Apakah akan terjadi difilm ini?

Casts

BAGYO/ TORA SUDIRO


ANI/ REVALINA S TEMAT


JERENG/ VINCENT ROMPIES


ATIKA/ WIWID GUNAWAN


DANI/ DWI SASONO


ABIMANYU/ GADING MARTEN


ABDUL /JAJA MIHARDJA


NANIK /FRANCINE ROOSENDA


PRODUCTION


PT KHARISMA STARVISION PLUS


DIRECTOR


MONTY TIWA


PRODUCER

CHAND PARWEZ SERVIA

Tambahan : Kebetulan Tora Sudiro berperan juga sebagai caleg di salah satu sketsa extravaganza tanggal 21 Maret 2009. Memang lagi suasana Pemilu

Laskar Pelangi Diserbu Penonton

Postingan ini adalah terusan dari berita yang saya baca di Suara Pembaruan.com

Film Laskar Pelangi karya sutradara Riri Riza dan Mira Lesmana langsung menjadi fenomena saat pemutaran perdana di sejumlah kota pada Kamis (25/9). Sejumlah bioskop menambah studio dan jam tayang untuk menampung jumlah penonton yang membludak. Para guru dan pembaca novel menyambut film Laskar Pelangi dengan antusias.

"Dari dua minggu sebelum penayangan di bioskop, para pelanggan kami banyak yang telepon ke call center. Mereka umumnya menanyakan, kapan film Laskar Pelangi diputar dan apakah sudah bisa memesan tiket terlebih dahulu," kata Marketing Supervisor Blitzmegaplex Prima Haripurwanti di Jakarta, Kamis (25/9).

Blitzmegaplex menayangkan film itu di tiga ruang, yaitu auditorim 1 dengan kapasitas 535, auditorium 9 berkapasitas 283 dan Satin (IA/eksklusif) 52 tempat duduk.

"Kemungkinan, besok akan lebih ramai lagi, karena besok Jumat (26/9) akan ada meet and great dengan penulis novelnya langsung, Andrea Hirata. Termasuk juga saat weekeed," ujar Prima.

Pada tayangan perdana (25/9) yang dibuka untuk umum pada pukul 13.30 WIB, sangat penuh dan mengantri panjang. Bahkan, penonton rela menunggu lama dari pukul 10.00 WIB untuk mendapatkan tiket. Untuk auditorium 9 kapasitas penuh, sedangkan pada tayangan kedua di auditorium 1 pukul 14.45 WIB, merupakan rombongan dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang memesan 150 tiket, termasuk para artis yang merupakan calon legislatif (caleg). Ditambah pula dengan penonton umum yang semuanya berjumlah total 237 orang.

Erna seorang guru dari Sekolah Dasar (SD) Diniyah Aisyiyah di Pasar Rumput, Jakarta, sangat mengagumi Laskar Pelangi yang memberikan inspirasi dan pencerahan, terutama untuk guru yang sangat peduli dengan pendidikan, meskipun masih kekurangan.

Sementara itu, Humas Jaringan Bioskop 21 Noorca Massardi mengatakan, kesuksesan film Laskar Pelangi masih belum bisa ditebak. Selama bulan puasa, penonton bioskop cenderung turun hingga 50 persen. Tetapi, satu minggu menjelang Lebaran, tren penonton meningkat.

"Kalau sampai setelah lebaran, Laskar Pelangi masih main, film itu bisa tembus satu juta penonton. Jika bertahan lebih lama, jumlahnya pasti lebih banyak," tutur Noorca.

Imam, mahasiswa Yarsi dan 10 temannya tidak mengantre, karena menonton pada sore hari. Mereka mengaku sangat penasaran dengan novel yang difilmkan, maka wajib nonton pada hari pertama diputar di bioskop. Imam melihat ada seorang nenek yang nonton dengan kursi roda. Kelihatannya, ungkap Imam, orang tua itu ingin sekali menonton film yang menjadi pembicaraan publik.

Sekitar seribu orang guru menonton pemutaran perdana film Laskar Pelangi di Blitz Megaplex, Bandung, Kamis (25/9). Para guru dari berbagai tingkatan ini diundang oleh PT Telkom, Flexi dan Blitzmegaplex.

Vice President Operation Mizan Publika Putut Widjanarko mengatakan, sengaja mengundang para guru untuk menonton karena film yang penuh dengan inspirasi ini. "Ini salah satu bentuk apresiasi kepada guru-guru yang ada di Kota Bandung atas segala jerih payahnya untuk mendidik," tuturnya sesaat sebelum pemutaran film tersebut.

Selain dipenuhi para guru, pemutaran perdana film yang diadaptasi dari buku karya Andrea Hirata ini juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Dari 14 jadwal penayangan di Blitz Megaplex, sudah ada 5 jadwal penayangan yang tiketnya habis dipesan calon penonton. Setiap auditorium itu bisa menampung sekitar 300 kursi."Terharu dengan perjuangan Lintang dan Ibu Muslimah. Juga kedekatan dia dengan siswanya, saat kembali setelah tidak masuk lima hari, murid-muridnya langsung memeluk dia," kata Linda (36), salah seorang guru SD.

Leri (20), petugas tiket BSM XXI mengatakan tiket pemutaran film Laskar Pelangi yang ditayangkan lima kali sudah habis dibeli. "Yang tersisa tinggal barisan depan untuk yang tayang jam sembilan malam," terangnya.

Menurut dia, tiket-tiket itu sudah dibeli sejak pukul dua siang selepas pemutaran yang pertama jam 12 siang. Setiap studionya, tambah Leri, memiliki kapasitas sekitar 250 kursi penonton.

Di Yogyakarta, pemutaran perdana film Laskar Pelangi juga mendapat sambutan meriah. Penonton dari berbagai kalangan termasuk para guru antri tiket bioskop 21 di Ambarukmo Plaza.

Menurut sang novelis Andrea Hirata, Sri Sultan Hamengku Buwono X Gubernur DIY sengaja mengundang mereka untuk bertemu di Kantor Gubernur DIY Kepatihan. Raja Yogya itu bahkan mengaku sudah menonton pada Rabu (24/9), dan mengulanginya pada Kamis (25/9).

"Saya sangat senang karena tokoh sekelas Sri Sultan ternyata menaruh minat besar terhadap film Indonesia termasuk film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel saya dengan judul yang sama," kata Andrea Hirata di Ambarukmo Plaza.

Setelah pertemuan dengan Sultan HB X, ada rencana Mira Lesmana dan Riri Riza mengajak Sultan menonton kembali Laskar Pelangi.

"Kami juga mengajak puluhan guru-guru di Yogyakarta untuk menonton film ini. Saya tidak membual, tapi percayalah, film Laskar Pelangi adalah film terbaik di Indonesia," katanya.

Andrea mengatakan, anak kecil pun pasti suka karena pemandangan yang indah akan memanjakan siapa pun yang menontonnya. Andrea mengemukakan, awalnya ia pun tidak yakin film yang diangkat dari novelnya itu akan memperoleh sambutan positif dari penonton di Indonesia. Bahkan ia sempat tidak percaya diri untuk menonton film tersebut.

"Kalimantan, Sumatera, dan Lombok misalnya, sedang kita jelajahi. Interaksi dengan warga setempat diyakini memberi referensi dan wawasan yang luas. Ada konteks luar biasa di Laskar Pelangi, yakni melihat bagaimana pendidikan, arti pendidikan, persahabatan, dan pendidik. Pesan ini harus disampaikan," ujarnya.

Secara khusus Sultan HB X bahkan mengatakan bahwa film tersebut saat ini menjadi film terbaik di Indonesia. "Kemarin (Rabu 24/9) saya nonton dan hari ini (Kamis 25/9) nonton lagi," ujar Sultan bangga.

Menurut Sultan, film-film bermuatan pendidikan yang bagus dan mendidik seharusnya banyak diproduksi insan perfilman di Indonesia.

Di Kota Semarang, masyarakat juga sangat antusias melihat pemutaran perdana film Laskar Pelangi di Studio 21 Mall Ciputra dan E-Plaza Simpang Lima Semarang, Kamis.

"Animo masyarakat cukup tinggi, di mana sampai pemutaran ketiga dari empat kali pemutaran untuk hari ini selalu dipenuhi penonton," kata Joko S, Manajer Pemasaran Studio 21, Mall Ciputra Semarang di Semarang, Kamis.

(Foto: Laskar Pelangi official site & Kompas Images)

Siaga Film: Laskar Pelangi

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya...
(Laskar Pelangi - Nidji )

Itulah beberapa bait lirik lagunya Nidji yang bakal menghiasi soundtrack film Indonesia yang bener bener patut diwaspadai alias disiagai jadwal edarnya yang kalo ga berubah tanggal 25 September nanti yaitu “Laskar Pelangi.” Satu calon film berkualitas yang akan mewarnai libur hari Lebaran tahun ini, diangkat dari karya tulis best seller dan fenomenal dari Andrea Hirata, penulis asal Belitung yang telah terjual lebih dari 500.000 kopi di Indonesia, sesuatu hasil yang cuma berada satu tinggkat dibawah penjualan satu novel lain yang juga telah diangkat ke layar lebar terlebih dahulu yaitu “Ayat Ayat Cinta”. Menurut pandangan gue saat pertama kali melihat preview film ini adalah, “Laskar Pelangi” adalah sebuah film tentang kaum minoritas yang bakal dibungkus dalam kemajoritasan ide cerita, akting dan tata sinematografi. Diproduksi oleh Miles Films milik Mira Lesmana yang kembali bekerja sama dengan sutradara Riri Riza yang juga sedang mengerjakan film terbarunya Dian Sastro dan Nicholas Saputra, “Drupadi”. Buku Laskar Pelangi sanggup membuat kita tiba-tiba merasa bangga jadi orang Indonesia dan memompa semangat serta optimisme kebangsaan, dengan hadirnya karakter anak-anak Laskar Pelangi, Ibu Muslimah dan Bapak Harfan," ucap Mira Lesmana selaku Produser film ini. Selaku sutradara film Laskar Pelangi, Riri Riza mengungkapkan: "Laskar Pelangi memiliki cerita yang unik dan penuh dinamika dengan hadirnya 10 siswa dengan kararkter yang sangat kuat dan seorang guru ambisius yang mempunyai cita-cita besar dan luhur. Dan Andrea Hirata adalah faktor yang sangat penting kenapa kami ingin memfilmkan buku Laskar Pelangi ini. Saat pertama kali ketemu dengan Andrea, ada antusiasme yang terlihat di dirinya. Bertemu Andrea Hirata seperti melihat matahari yang bersinar keras sekali dan sangat inspiring." Proses syuting yang dimulai sejak bulan Mei 2008 kemarin mengambil lokasi 100 % di pulau Belitung, yang terletak di propinsi kepulauan Bangka-Belitung. Maka jangan heran kalau kita bakalan disuguhin pemandangan pemandangan nan indah yang sangat memanjakan mata disini. Dari mulai pantai biru berpasir putih bak salju, bebatuan karang besar yang khas dan indah juga panorama matahari terbenam yang romantis, yang kesemuanya itu seakan mengembalikan memori masa masa kecil saya sendiri saat masih di Bangka yang mempunyai pemandangan pantai seindah Belitung.Andrea Hirata Seman Said Harun adalah nama lengkap penulis cerita yang sangat menginspirasi ini, sementara “Laskar Pelangi” sendiri adalah novel pertama yang dibuatnya dalam tetralogi novelnya yang juga termasuk 3 judul lainnya yaitu “Sang Pemimpi”, “Edensor” dan “Maryamah Karpov”.
Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.
Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!
Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini!Untuk mencari pemeran tokoh-tokoh anggota Laskar Pelangi, Riri Riza melakukan casting di daerah Belitung dengan menggunakan pemeran-pemeran lokal dalam pembuatan film. "Dalam proses pembuatan film ini hampir 100% pengambilan gambar dan syuting dilakukan di Belitong. Dan satu hal yang cukup istimewa di film ini, 12 orang pemain, 10 Laskar Pelangi dengan dua karakter pelengkap yang memerankan Flo dan A Ling, semuanya asli dari Belitong," cerita Mira, antusias. Adapun keinginan Rira dan Mira untuk menampilkan anak-anak asli Belitong agar chemistry antara cerita dan para pemain muncul secara real dan natural. "Sejak awal kami memang tidak terpikirkan untuk menggunakan pemain di luar kota Belitong untuk tokoh-tokoh anak Laskar Pelangi. Jadi proses hunting dan casting pemain pun sudah kami lakukan sejak awal persiapan produksi," ujar Riri. "Meskipun anak-anak ini belum berpengalaman dan awam dengan dunia akting, tapi mereka ini adalah anak-anak yang sangat berbakat, punya keberanian, mau mencoba, dan yang terpenting, mereka bisa mempresentasikan tokoh-tokoh utama di film ini," lanjut Mira. Setelah menjalani proses hunting dan casting di Belitong, akhirnya terpilih juga 12 orang pelajar Belitong yang akan memerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling.
Meski begitu, bukan berarti Mira luput menampilkan para pemain profesional. 12 nama aktor profesional pun turut tampil meramaikan film ini, seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, Jajang C. Noer, dan Teuku Rifnu Wikana .
Cut Mini yang memerankan Ibu Muslimah dalam film ini mengaku perannya di film kali ini memberikan kesan yang sangat mendalam. ” Saya sering merasa ingin kembali ke Belitong,” kata Cut Mini yang masih sering menitikan air mata, saat kembali melihat adegan-adegannya di film tersebut.
Bagi Andrea Hirata film ini merupakan satu kebanggaan dan cara untuk mewujudkan keinginannya mendekatkan Belitong pada kemajuan. ”Saya berharap anak-anak Belitong berani bermimpi. Lihat sekarang, siapa sangka Zulfany yang hanya anak tukang jam kaki lima, hari ini bisa menjadi aktor,” kata Andrea Hirata yang tampil menemani Zulfany, pemeran ikal alias Andrea di masa kecil dalam film Laskar pelangi.

Kekaguman pada novel Laskar Pelangi juga datang dari vokalis salah satu grup band terpopuler di Indonesia yaitu Nidji. Ia langsung bermimpi membuat soundtrack filmya dan untungnya Mira Lesmana menelpon dan menawarkannya. Wuih, tanpa pikir panjang, Giring langsung menerimanya. Giring pun menciptakan lagu yang berbeda. "Sebelum mbak Mira ngajak kerjasama nulis theme song Laskar Pelangi, Gue sudah lebih dulu membaca novelnya yang dikasih sama mama. Jujur, ceritanya dahsyat. Dalam perjalanan tour luar kota, masih pagi-pagi buta, gue bilang sama teman-teman Nidji. Mereka pun terkesima, "kata Giring. Giring langsung menegaskan kepada teman-teman Nidjinya. "Pokoknya, jika ada orang yang nawarin bikin theme song Laskar Pelangi,tawaran itu harus langsung kita ambil. Pasti hasilnya bakalan bagus dan keren." Maklum. Isi kepala Giring sudah dipenuhi bayangan seperti apa lirik dan melodi lagunya. Tetap ada warna urban music ala Nidji, tapi minimalis hanya dengan menggunakan banyak gitar akustik.
Musisi lain yang juga terlibat dalam album soundtrack film ini adalah Netral, Garasi, Gita Gutawa, Gugun & The Blues Bug, Sherina, Ipang, dan Meng Float.
Jadi, “Laskar Pelangi” memang punya potensi untuk jadi salah satu film bersejarah di Indonesia berikutnya dan moga moga film ini bakal mencapai hasil sebaik novelnya dan menjadi film Indonesia terlaris berikutnya setelah “Ayat Ayat Cinta”. (JC)

(Bahan2 dan Foto: Laskar Pelangi Official Site, Official Blog)

Luna Maya CINLOK film Komedi

Mulutmu Harimaumu, makanya musti dijaga baik – baik. Apalagi sekarang harimau Sumatera udah jarang he .. he.. he…

Itulah yang dialami oleh dua tokoh didalam film Cinlok yang bentar lagi akan tayang, yah tunggu aja sampai tanggal 25 September 2008 di bioskop bukan dilayar tancep. Sebelum tahu kisahnya, kita bahas dulu dua tokoh utama disini.


Kenalin TORA SUDIRO (udah kenal kali) kali ini sebagai Samudra yang biasa dipanggil Cundra oleh sahabatnya Aron (bukan dipanggil ama KPK). Cowok yang kerjanya cuap – cuap di sebuah Departemen Store melalui pengeras suara yang ada di setiap sudut departemen store menyapa para pengunjung, memberitahu counter-counter yang memasang diskon, dan memutar lagu-lagu. Dia sih mengerasa sebagai penyair radio walaupun ruang lingkungnya kecil. Namun sebenarnya tak ada pengunjung yang mendengarkan dia, tapi Cundra menjalankan pekerjaan nya dengan rela-rela aja. Dari kecil sebenarnya dia udah seneng ngomong, dari kecil juga dia terbiasa gak ada yang mendengarkan. Waktu bayi kalau dia laper dan nangis, ibunya malah marah-marah. Waktu SD dia ngoceh mau ini itu, dicuekin sama bapaknya. Waktu ABG menyatakan cintanya ke lawan jenis, malah ditampar. Satu-satunya yang dengerin dia ya si Aron, sahabatnya dari SMA yang sekarang tinggal di Bandung.


Sekarang kenalin LUNA MAYA yang kali ini berperan sebagai Nayla atau dipanggil Nay (kerenkan). Bekerja di Spa (tapi lagaknya gak sepa) di sebuah hotel bintang lima di Jakarta, sambil sesekali main film atau sinetron sebagai figuran. Nay, seperti rekan-rekan seprofesinya di Spa, lebih senang kalau dipanggil memijat ke kamar. Biasanya yang memesan ibu-ibu pejabat atau cewek-cewek wanita karir yang menginap di hotel buat bisnis. Dari merekalah Nay mengkhayal jadi wanita karir, belajar bersikap dan berbicara dengan gaya “tingkat tinggi”, mengkhayal punya pacar atau suami yang kaya raya yang duitnya gak ada nomer serinya. Nay emang suka mengkhayal. Dia menulis khayalan dan mimpi-mimpinya di sebuah buku, di saat jam istirahat, atau pas lagi nungguin giliran casting.Iya... Nay terdaftar sebagai talent di salah satu agency kecil, tempat dia menyalurkan kemampuan dia berakting walaupun ujung ujungnya cuma peran sangat kecil dan figuran. Nay menyimpan sendiri khayalan-khayalannya.

Awalnya kisah ini terjadi disebuah stasiun tua yang unik dengan deretan kedai-kedai buat para pengunjungnya. Kedai penuh siang itu. Nay muncul dan terpaksa menumpang di meja Cundra. Nay menjaga sikap, memilih jadi cewek pendiam dan “sophisticated” yang terpaksa menumpang di meja Cundra padahal dia gak mau. Cundra duluan yang membuka percakapan. Nay bilang, “Saya disini bukan mau ngobrol dan diajak ngobrol.”. ia masih aja caim biar disangka wanita karir yang sukses. Terus Cundra bilang Nay gak usah takut dia gak lagi ngerayu Nay, dia udah punya tunangan. Nay gak percaya ada cewek yang mau sama Cundra. Cundra pun cerita tentang tunangannya yang namanya… Tika (Ria Irawan). Tika itu seorang disainer yang lagi naik daun yang pernah Cundra undang jadi bintang tamu di stasiun radio yang dia punya Cundra bilang dia bilang ke Tika kalau Tika lebih pantas jadi model daripada disainer yang cuma di belakang panggung. Disitulah awal kedekatan mereka. Tika yang kagum sama Cundra karena di umur yang masih muda, Cundra udah bisa punya stasiun radio sendiri. Mereka pacaran cuma tiga bulan, terus memutuskan untuk bertunangan. Cundra ke stasiun untuk jemput Tika habis show di Bandung. Nay gak mau kalah, ia mengeluarkan semua khayalan – khayalan yang telah ia simpan akhirnya dia cerita tentang pacarnya… namanya Tyo (Tukul Arwana). Tyo itu pengusaha. Nay ketemu Tyo di hotel bintang lima. Nay adalah manajer hotel tersebut. Tyo itu tamu yang “perfectionist”. Nay sendiri harus turun tangan memenuhi apapun fasilitas yang Tyo minta. Tyo lagi punya masalah dengan perusahaannya waktu itu dan Nay temenin dia ngobrol di coffee shop hotel sampai subuh. Nay memberi dia nasehat bisnis. Mereka semakin dekat ketika Tyo akhirnya memutuskan mengadakan bussiness gathering yang melibatkan pengusaha-pengusaha papan atas di hotel Nay. Mereka pun memutuskan pacaran dan mau menikah juga. Nay ke stasiun mau jemput Tyo yang baru pulang dari perjalanan bisnisnya karena cuaca buruk gak memungkinkan Tyo naik pesawat. Begitulah ketika akhirnya kereta tiba, KITA tau Cundra maupun Nay sama sama sudah berbohong. Cundra seneng akrena baru kali ini ada yang mau dengerin dia.



Begitu keluar dari stasiun, Cundra langsung cerita ke Aron tentang Nay. Begitupun Nay, ketika dari stasiun mengantarkan adiknya yang mau ikutan casting juga, langsung curhat ke bos Agencynya, Mas Robi, yang memang doyan ngerumpi. Besoknya Cundra pun mendatangi hotel Nay. Nay ngeliat Cundra dan langsung ngumpet. Dia lagi pake seragam spa, gak mungkin ketemu Cundra. Cundra kecewa gak bisa ketemu Nay. Nay terus telepon Cundra, nanya ngapain Cundra ke hotelnya. Dia ngeliat Cundra tapi gak bisa nyamperin karena dia lagi sibuk. Cundra bilang dia lagi cari restoran buat ngajak ceweknya makan malam. Nay bilang dia juga mau makan malam sama cowoknya. Cundra nanya dimana, Nay asal aja menyebutkan nama restoran dan bilang kalo Cundra mau makan disitu juga, boleh. Cundra mengiyakan. Repotlah mereka mencari pasangan. Cundra mengajak “Tika”, salah satu penjaga di departemen store. Nay mengajak “Tyo”, rekannya sesama figuran yang doyan akting juga. Mereka bertemu di restoran. Tau-tau seseorang nyamperin Tyo dan marah-marah. Dia ternyata pengusaha yang menyimpan “Tyo” sebagai pacar gelapnya dan cemburu liat Tyo jalan sama cewek. Katanya Tyo gak doyan cewek. Nay tengsin berat. Dia kabur ke belakang restoran. Cundra menghibur Nay, bilang “kadang kita gak tau siapa sebenarnya orang yang paling dekat dengan kita”. Nay akhirnya ngaku dia sedih bukan karena Tyo, tapi karena malu, bahwa sebenarnya dia udah bohong sama Cundra. Nay dapetin karakter Tyo dari suami salah satu ibu kaya yang sering nginep di hotel dan selalu manggil Nay memijat di kamarnya. Jadi manajer hotel juga cuma khayalannya. Cundra merasa bersalah, dia pengen ngaku juga, tapi Tika datang dan ngajak Cundra pulang. Tika bisik-bisik ke Cundra, “Lo janji cuma dua jam, cowok gue nungguin.” Sampe rumah Cundra gak bisa tidur, mikirin Nay, mikirin dirinya sendiri yang juga belum ngaku ke Nay. Besoknya Cundra nelepon Nay, nanya Nay dimana. Nay bilang dia di stasiun lagi mau menyendiri. Cundra heran, ngapain Nay menyendiri ke stasiun. Aron sahabatnya bilang, “Nay mau mengenang elo kali.” Berangkatlah Cundra ke stasiun. Disinilah, di stasiun yang sama, Cundra mengakui juga semua kebohongannya. Cundra juga bilang sejak pertemuan mereka, Cundra gak bisa berhenti mikirin Nay. Nay juga mengakui hal yang sama. Mereka sama-sama ketawa. Sama-sama ngerasa konyol. Cundra pun menyatakan cintanya dan Nay menerimanya. Stasiun menjadi saksi satu lagi perjalanan hidup dua anak manusia. Stasiun ini menjadi awal pertemua mereka sekaligus awal dari perjalanan cinta mereka.

Film ini cukup lumayan dinikmati tapi jangan sampe mati, apalagi sekarang sedang musim film komedi, pesaing dekatnyanya ya paling film horor gak jelas dan film religi. Ada banyak aksi - aksi yang gak diduga difilm ini yang sedikit nakal, dijamin semua itu bisa buat anda ketawa, namun sayang film komedi di Indonesia ujung - ujungnya pasti ada adengan hotnya. Klimaks film ini agak – agak mirip sama film Almh. Benjamin.S duet Elva Arnas (masih inget gak ?). Yah film ini cukup seger dengan didukung bintang – bintang seperti Tora Sudiro, Luna Maya, Tukul Arwana, Ria Irawan, Yeyen Lidya, Jurike Prastika dan Hj. Laeila Sari. Tora Sudiro pasti dapet Piala Citra kalo ada adengan cium sama Tukul Arwana Sang Miliarder Ndeso. Yah... selamat menyaksikan film ini, yang harusnya dilaunching setelah lebaran. Buat yang mudik pake kereta jangan khayal bisa dapet pacar seganteng Luna Maya atawa secantik Tora Sudiro. Remember LOVE WILL FIND YOU IF YOU TRY. (Ixe)


Jenis Film
- Comedy

Pemain
- Tora Sudiro, Luna Maya, Tukul Arwana, Ria Irawan, Yeyen Lidya, Jurike Prastika, Hj Leila Sari

Sutradara
- Guntur Soeharjanto

Penulis
- Titien Wattimena

Produser
- Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi

Produksi
- MD Pictures

Durasi
- 90 Min

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme