Doa Yang Mengancam: Awas Kalo Ga Nonton!

Setelah sukses mengangkat novel best seller Ayat – Ayat Cinta, sutradara Hanung Bramantyo mengangkat cerita pendek yang masuk dalam daftar 'Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas' yang berjudul DO’A YANG MENGANCAM karya Jujur Prananto. Penulis yang berhasil dengan “Pertualangan Sherina” dan “Ada Apa Dengan Cinta”.

Ceritanya berkisar seputar Madrim yang sukses menikahi Leha dengan berbekal rayuan maut dan kehidupan mewah di Jakarta. Sayangnya, kenyataan berkata lain, Madrim yang hanya buruh bongkar muat di pasar induk, tak kuasa lagi mempertahankan Leha. Istrinya itu minggat dari rumah!

Ditengah kemiskinan dan penderitaan hatinya, Madrim mengadu pada Kadir, lelaki penjaga mushola kecil. Kadir pun menyarankan apa yang disarankan hampir setiap orang tua kepada anaknya, petuah lama yang berbunyi; bekerja keras diiringi doa. Dan, Madrim pun kembali giat bekerja, dan terus berdoa di mushola Kadir. Sayangnya, kehidupan Madrim tak kunjung membaik, pun Leha semakin tak berkabar berita. Kekesalan semakin menumpuk di dada Madrim, dan dalam salah satu doa terakhirnya, Madrim pun mengancam TUHAN! dan memberi tenggat waktu tiga hari. Jika doanya tidak terkabul, ia akan berpaling ke setan.


Pada hari ketiga, petir menyambar Madrim dan ia jatuh pingsan. Ia ditolong penduduk desa. Setelah sadar, tiba-tiba Madrim memiliki kemampuan yang dapat mengetahui keberadaan seseorang hanya dengan melihat fotonya. “Kemampuan melihat” ini dimanfaatkan polisi untuk melacak keberadaan para buron. Puluhan buron berhasil ditangkap polisi atas “petunjuk” Madrim
Hal ini meresahkan Tantra, seorang “buron kerah putih” yang kaya raya. Ia menculik Madrim dan menahan di apartemennya dengan memberinya gaji buta dan pengawalan ketat. Madrim pun seketika hidup berkecukupan. Madrim lagi-lagi mengancam Tuhan agar ia dibebaskan dari “kemampuan lebih”-nya yang ternyata justru menyiksa dirinya. Kadir menduga, jangan-jangan “kemampuan lebih” itu bukan pemberian Tuhan, tapi pemberian setan. Maka Madrim pun “menggugat setan”

Lagi-lagi Madrim mengalami koma. Setelah siuman, ia bukannya kehilangan kemampuan, tapi kemampuannya justru bertambah. Ia bukan saja bisa melihat gambaran seseorang saat ini, tapi juga gambaran di masa mendatang! Dalam tempo singkat kekayaan Madrim meningkat. Tapi ia tak kunjung bahagia karena ia justru tak mampu melacak keberadaan istrinya sendiri. Ia pun memohon pada Tuhan agar dipertemukan dengan istrinya
Apakah Madrim akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya?Cerita film ini mungkin akan sedikit mengingatkan anda pada filmnya Jim Carrey yaitu “Bruce Almighty”. Tapi dengan kultur khas Indonesia dan permasalahan dan kehidupan Madrim yang sangat dekat dengan sebagian penduduk negeri ini, film ini punya kesempatan cukup besar menjadi sesukses film ayat – ayat cinta. Secara juga hampir seluruh tim produksi Ayat – Ayat Cinta terlibat dalam produksi Doa Yang Mengancam, mulai dari Director of Photography yang dipegang oleh Faozan Rizal, Costume Designer oleh Retno Ratih Damayanti, sound dipercayakan kepada Adimolana, sementara Art Director dikerjakan oleh Oscar Firdaus.

Cerita film genre komedi-religi ini memang bermula dari sebuah cerpen karya Jujur Prananto dengan judul yang sama. Menurut Jujur, ia butuh waktu yang lama untuk mengamini permintaan pengembangan tulisannya kedalam bentuk skenario untuk konsumsi film layar lebar. “ Saya sendiri ragu – ragu untuk menyodorkannya untuk jadi film. Karena film ini film surealis dan sangat serius sekali,” tutur Jujur. Do’a Yang Mengancam, kata Jujur, pernah diminta untuk diangkat dalam bentuk film televisi. Namun ongkos untuk menggarap syuting untuk produksi layar kaca, bakal meroket. Alur cerita didalam cerpennya itu mengharuskan untuk mengambil gambar dibanyak lokasi, sehingga diperkirakan bakal menyedot biaya yang tinggi untuk sebuah karya layar kaca.

Sementara Hanung, mengklaim bahwa cerpen milik Jujur Prananto merupakan sebuah karya sesuai dengannya, dalam kapasitasnya sebagai sutradara. "Ketika saya membaca (skenario Do`a Yang Mengancam), saya sudah bisa merasakan bahwa ini `film saya`," katanya. Hal positif mengenai film inijuga diutarakan Faozan Rizal yang berperan dibalik kamera. Ia menjanjikan film ini sebagai karya puncaknya dan Hanung. Tandem Hanung dibeberapa filmnya seperti Ayat – Ayat Cinta, Get Married, Kamulah Satu – satunya, dan banyak lagi, merasa sudah tahu karakter Hanung dan Hanung sudah Tahu Karakter Pao (panggailan Faozan Rizal). “Hanung jadi tahu warnaku, warnaku melihat dunia. Dia kebetulan ngga suka warna-warna yang pop-up gitu. Aku juga ngga suka. Aku lebih suka desaturate color. Jadi lebih enak, karena ngga perlu menyesuaikan karakter-karakter berikutnya,” demikian ungkap Pao. Loh mengapa bukan Ayat – Ayat Cinta yang dianggap puncak karyanya yah ? Padahal Ayat – Ayat Cinta meraih sukseskan. ”Sebenarnya harus menjadi karya puncak kita berdua. Karena banyak kesalahan produksi ya. Terus saya ngga menganggap itu puncak, Hanung bilang yah next film-lah...”sambung alumni IKJ ini. Sebagai inti sinematografi dari film anyarnya kelak, Pao memberikan sedikit gambaran: sisi gelap manusia ketika membicarakan sesuatu yang suci. Mustahil warna-warna permen kan?Aming pun berkerja keras ekstra keras dan kemampuannya benar – benar diuji dalam film ini. Karena selain harus membawakan peran bertolak belakang dengan apa yang biasa dia lakoni, syuting film ini pun berlangsung dengan ketat dan sesuai dengan jadwal. Pantesan di televisi rambut Aming memutih.. he..he... By the way, makin banyak nih bintang – bintang extravaganza yang bermain difilm layar lebar, jangan cuma Tora lagi Tora lagi, atau Aming dan Edric Chandra doang dunk…. Kapan nih bintang – bintang yang lain menjadi bintang utama. Atau mereka akan membuat extravaganza versi layar lebar. Kita tunggu aja deh, asal jangan kacangan aja. Tetapi kayanya Aming yang paling beruntung, karena mendapat peran yang lumyayan unik dalam film ini dan benar benar jauh berbeda dari karakter2 yang pernah dia bawakan sebelumnya.

Bagi yang ingin tahu kaya apa sih filmnya? Tunggu saja di bioskop terdekat. Atau anda yang sudah membaca cerpennya, penasaran? Apakah versi filmnya sama dengan bayangan anda saat membaca cerpen Doa Yang Mengancam ?.(Ixe)

Jenis Film :
Komedi

Produser :
Leo Sutanto, Mitzy Christina

Sutradara :
Hanung Bramantyo

Penulis :
Jujur Prananto

Produksi :
Sinemart

Durasi :
90 Min

Pemain :
Aming
Titi Kamal
Ramzi
Dedi Sutomo
Nani Wijaya
Jojon
Zaskia A. Mecca
Cici Tegal
Cahya Kamila

(Bahan2: Cineplex 21)

1 Response to "Doa Yang Mengancam: Awas Kalo Ga Nonton!"

  1. Film ini menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap doa-doa yang kita panjatkan. Pengabulan doa, ternyata dilakukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda; langsung, ditunda atau dengan bentuk lain. Sebagai manusia, kita harus sadar sepenuhnya bahwa semua yang kita dapati ini adalah anugerah dari Tuhan. Yang membedakan antara orang sholeh dengan tidak adalah sikapnya dalam menerima anugerah itu. Film ini mengajarkan kita tentang itu.

    “Usaha tanpa doa adalah kesombongan, doa tanpa usaha adalah kesia-siaan“

Posting Komentar

SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR ANDA... JANGAN RAGU RAGU DAN MALU MALU, KAMI SIAP MENAMPUNG UNEG UNEG ANDA TENTANG POSTINGAN MAUPUN TAMPILAN BLOG KAMI... SEBELUM DAN SESUDAHNYA KAMI UCAPKAN THANK YOU SO MUCH..!

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme