Public Enemies: Hiburan Bagi Penggemar Film Gangster & Johnny Depp

Film “Public Enemies” yang diadaptasi dari buku non fiksi karangan Bryan Burrorugh ini mengangkat cerita tentang latar belakang lahirnya biro intelijen paling berkuasa di Amerika yaitu FBI, dan juga menyorot kehidupan para kriminal yang mereka jadikan “Most Wanted” pertama di negara itu yaitu John Dillinger dan teman2nya. Mengambil setting pada tahun 1933, dimana negara adidaya itu sedang dilanda masa yang disebut sebagai “Great Despression,” sebuah masa dimana banyak manusia2 despresi melakukan hal2 di luar akal sehat. Kasus2 kriminal berkembang pesat sementara masyarakat semakin melarat. Tapi bagi seorang John Dillinger (Johnny Depp), waktu itu justru membuka kesempatan dan peluang usaha yang sangat menjanjikan. Dan dalam upaya untuk memerangi aktivitas kejahatan yang semakin merajalela, J. Edgar Hoover (Billy Crudup) membentuk FBI dengan misi pertama mereka menciduk komplotan John Dillinger. Agen flamboyan Melvin Purvis (Christian Bale) ditugaskan oleh sang pemimpin FBI untuk memimpin misi tersebut. Menggunakan metoda2 baru dalam sistem intelijen pada waktu itu seperti melacak lokasi dimana si terburu terakhir membeli jas ataupun menyadap pembicaraan mereka di telepon. Dipersolid pula oleh kekuatan bersenjata tim penembak terlatih, juga sifat Purvis yang tidak gampang menyerah, usaha mereka semakin menunjukkan jalan terang untuk menghentikan aksi2 kriminal geng Dillinger yang kian meresahkan setiap institusi keuangan.

Jalan cerita yang ditawarkan film ini cukup menarik, meskipun mungkin terkadang agak berasa lambat. Kita tidak disuguhkan pengembangan karakter yang cukup baik sehingga menjadi sedikit susah untuk peduli pada karakter2 yang ditampilkan disini. Detil mengenai anggota komplotan Dillinger pun tidak dibahas dengan maksimal sehingga kemunculan mereka disini terasa seperti tempelan saja padahal aslinya mereka memegang peranan yang cukup besar dalam kehidupan Dillinger. Ada pula sisi romantis yang digambarkan lewat hubungan Dillinger dan Billie Frechette yang lumayan berhasil membangun suasana walaupun kembali terkesan kurang diberikan porsi yang memadai. Untungnya disini tampil aktor2 berkualitas yang mampu membawakan peran mereka masing2 dengan baik, sehingga kelemahan di segi pembangunan karakter tadi bisa sedikit termaafkan. “Public Enemies” juga adalah sebuah film berdurasi panjang yang sepertinya udah menjadi standar tersendiri bagi sang sutradara Michael Mann. Sementara gue sendiri tidak terlalu mempermasalahkan soal durasi ini, tapi bisa gue lihat ada juga beberapa penonton yang cukup merasa bosan. Mungkin ada beberapa adegan yang harusnya bisa dipotong ataupun dipersingkat untuk menghemat durasi dan gue pikir malah bisa menjadikan pertalian ceritanya bertambah logis. Bagusnya disini, ada beberapa adegan baku tembak memukau yang juga adalah satu lagi trademark sutradara Michael Mann, adegan2 itu digarapnya dengan baik dan tampil dengan maksimal. Yang menjadi perhatian Mann lainnya adalah di penataan set dan dekor, kita benar2 dibawa masuk ke dalam dunia pada tahun 1933 lewat setiap detil yang diberikan Mann dalam film ini. Skripnya juga dibuat sangat dekat sekali dengan sejarahnya, dan jadinya mungkin agak terlalu setia dengan penggambaran zaman itu. Pada salah satu adegan diceritakan Dillinger yang berjalan melewati sebuah kantor polisi dengan santainya tanpa disadari oleh siapapun. Sementara hal itu adalah benar terjadi menurut sejarahnya, namun malah terkesan konyol bila dilihat dari kacamata penonton zaman sekarang. Ending yang dipilih untuk mengakhiri film ini juga gue rasa cukup baik dan natural.




Johnny Depp kembali hadir dengan performa yang tidak mengecewakan, gue sangat salut dengan aktor satu ini karena dia bisa membawakan peran apa aja dan menjadikannya spesial. Dia memerankan sosok perampok bank super cool John Dillinger yang tidak pernah berhenti untuk berpikir tentang hari esok, tapi selalu fokus pada apa yang terjadi hari ini. Keangkuhan, kearoganan dan aura Dillinger yang berbahaya berhasil dihidupkannya dengan baik. Christian Bale juga tampil cukup memuaskan tapi tentunya belum bisa disejajarkan dengan performa Depp. Karakter Melvin Purvis yang diperankannya kadang2 terkesan monoton dan menurut gue Bale juga tidak bisa berbuat banyak karena skrip filmnya terlihat kurang mendukung perkembangan karakternya sendiri. Aktris peraih Oscar Marion Cotillard tampil manis sebagai kekasih Dillinger, Billie. Dengan baik, Marion menampilkan sosok Billie yang seksi dan menghadirkan permainan emosi yang cukup pas. Dia juga tampil cukup serasi di sebelah Depp, gue cuma berharap bila perannya disini bisa mendapatkan porsi yang lebih besar.

“Public Enemies” yang menjadi pertemuan tiga filmmaker unggul ini tadinya menjanjikan sebuah film gangster yang sangat spesial buat tahun ini, namun sesuai pandangan gue, film ini hanya bisa mencapai level cukup baik dan menghibur saja Masih adanya kekurangan di berbagai hal membuat film ini belum bisa mensejajarkan diri dengan film gangster unggulan seperti layaknya “Godfather”. Dari segi cerita sebenarnya lumayan bagus, hanya faktor kekurangannya dipicu oleh minimnya pengembangan karakter dan editing yang sempurna. Johnny Depp jadi satu2nya bintang paling bersinar disini, meskipun banyak nama beken lainnya tetapi mereka belum bisa melampaui performa Depp dalam film ini.




(Klik Yuk Biar Kita Lanjutin ==>)

ICE AGE 3: DAWN OF THE DINOSAURS (ICE),Friend is Family

ice age 3,buaya film

Setelah berhasil dengan prequel yang pertama dan kedua, kali ini Ice Age kembali hadir di layar lebar dengan ” Ice Age 3 Dawn of The Dinosaurs”. Petualangan Manny, Diego dan Sid akan menemani liburan sekolah anak- anak. Seperti dalam prequel sebelumnya, Ice Age 3 Dawn of Dinosaurs masih menampilkan tingkah laku dari Sid, Diego, Manny dkk yang dapat membuat kita tertawa terbahak - bahak. Dan tentunya persahabatan mereka diuji lagi, seperti pertualangan mereka sebelumnya

Ice Age kali ini bercerita tentang istri Manny (masih inget dong sama Ellie) yang sedang mengandung. Ditengah kebahagian Manny dan Ellie, teman – teman mereka Diego dan Sid gak mau mengganggu, karena mereka berpikir Manny tidak membutuhkan mereka lagi dan sudah pasti Manny akan lebih memprioritaskan anaknya kelak. Hal ini membuat Diego dan Sid memutuskan untuk meninggalkan Manny . Diego merasa harus pergi dan mencari petualangan baru. Istri Manny tidak setuju dan Manny berusaha membujuknya namun gagal. Di lain tempat, Sid yang memimpikan memiliki sebuah keluarga secara tidak sengaja menemukan 3 buah telur berukuran cukup besar. Ia memutuskan untuk membawa ke 3 telur tersebut pulang dan merawatnya.

Manny tidak setuju dan menyuruh Sid meletakkan telur tersebut kembali di tempat asalnya. Dengan berat hati, Sid akhirnya menuruti apa kata Manny. Di dalam perjalanan, hujan pun turun. Sid memutuskan untuk berteduh dan ia pun tertidur. Keesokan paginya, Sid terbangun dengan keadaan ke 3 telur tersebut telah menetas. 3 Dinosaurus cilik menghampiri Sid dan memanggilnya mama. Sid pun senang bukan kepalang dan menganggap ke 3 bayi dinosaurus tersebut sebagai anaknya.
Download Screen Saver ICE AGE 3 yang keren disini

Ibu asli dari ke 3 bayi Dinosaurus tersebut muncul dan berniat membawa ke 3 anaknya pulang. Sid pun menghalanginya. Ibu Dinosaurus tetap membawa ke 3 bayi tersebut juga degan Sid. Manny dan kawan - kawan berusaha mencari Sid. Akhirnya Manny dan kawan - kawan menemukan sebuah jalan ke bawah tanah dimana disitulah tempat dimana Dinosaurus masih hidup. Mereka terkejut bukan kepalang ketika melihat sebuah hutan dipenuhi oleh Dinosaurus yang mereka kira telah punah.

Berhasilkan mereka menyelamatkan Sid? Ada baiknya anda menyaksikan film Ice Age 3 Dawn Of Dinosaurs dengan buah hati anda.

Ice Age layak diacungkan 5 jempol (satu lagi saya pinjam jempolnya yah) karena yang pertama Ice Age bisa sampe film ketiga dan Ice Age adalah satu dari sekian banyak animasi yang berhasil mengusung tema 'smart jokes'. Bayangin aja cuma dengan seekor Scrat yang mati-matian mengejar kenari saja kita sudah berhasil dibuat tertawa sampai sakit perut! Tingkah pola Scratte yang kocak berhasil membuatnya diingat oleh para penonton Ice Age, padahal karakternya sendiri tidak mempunyai dialog, hanya mengerat saja. Hebat khan!Difilm ini Scratte akhirnya menemukan tupai betina. Karakter yang lain juga selalu saya ingat, seperti Manny si Mammoth yang tadinya angkuh dan merasa jadi binatang paling hebat karena ukuran tubuhnya yang besar, lalu Diego si macan yang tadinya gahar tapi menjadi baik hati, lalu ada si kukang Sid dengan ketololan dan kepolosannya yang super adorable! Persahabatan hewan-hewan jaman es ini memang seru dan asik untuk ditonton, apalagi oleh seluruh keluarga.

Ice Age didukung oleh pengisi suara yang keren yang jauh beda dengan film Ice Age yang sebelumnya, seperti Ray Romano(Manny),John Leguizamo (Sid), Denis Leary (Diego), Queen Latifah (Ellie), Josh Peck (Eddie), Seann William Scott (Crash). Tahu gak? Ternyata storyboard artist Ice Age 3 Dawn Of Dinosaurs adalah orang Indonesia. Namanya Jony Chandra,dia adalah mahasiswa asal indonesia yang berkuliah di USA.
Awal dari dia bisa masuk sebagai animator film ini adalah setelah dia mengikuti kelas dari salah seorang profesor yang bekerja untuk PIXAR. Di film Ice age 2: The Meltdown dia juga ikut berpartisipasi, tetapi sebagai story artist. Kita merasa salur juga nih sama dia.


Walau film ini film anak & komedi, film ini cukup kontroversial, karena menampilkan T-Rex. Ajaib! Mammoth yang hidup ratusan tahun setelah T-Rex bisa satu frame dengan mahlukp rasejarah yang jadi logo Jurrasic Park ini.

Karuan aja hal ini jadi perbincangan hangat. Beragam spekulasi muncul soal jalan ceritanya. Soal kenapa sampe Manny, Sid dan Diego bisa ketemu T-rex. Dan tentunya soal kenapa seekor T-Rex yang hidup di hutan tropis bisa terjebak dijaman es.
Salah satu situs mengklaim ini adalah film yang dari segi ilmu pengetahuan paling buruk. Hehehe.. By The Away anak – anak tahu gak yah, kalo T-Rex gak hidup di zaman es. Sebaiknya anda mendampingi putra - putri anda saat menonton nanti.

Jenis Film :Animation - Semua Umur (general)

Pengisi Suara :
Ray Romano sebagai pengisi suara Manny
Queen Latifah sebagai pengisi suara Ellie
John Leguizamo sebagai pengisi suara Sid
Denis Leary sebagai pengisi suara Diego
Josh Peck sebagai pengisi suara Eddie
Seann William Scott sebagai pengisi suara Crash


Sutradara :
Carlos Saldanha

Penulis :
Michael Berg
Peter Ackerman

Producer :
John C. Donkin
Lori Forte

Original Music by
John Powell

Art Direction by
Mike Knapp

Produksi :20th Century Fox
Homepage :http://www.iceagemovie.com/



(Klik Yuk Biar Kita Lanjutin ==>)

Transformers 2: Pameran Spesial Efek & Megan Fox Belaka

Tak ada yang bisa menyangkal bila sekuel “Transformers” ini adalah salah satu film yang paling ditunggu2 tahun ini, setelah film pertamanya membuat gebrakan di pertengahan tahun 2007 lalu, setiap orang penasaran bagaimanakah sang sutradara Michael Bay bakal mengemas kelanjutan petualangan spektakuler yang diangkat dari franchise permainan keluaran Hasbro ini. Yang pasti, Bay dari awal produksi sudah mengambil ancang2 bila film lanjutan ini pasti akan lebih mega dari film perdananya, dengan bujet super wow yaitu 200 juta dollar Amerika, durasi yang lebih panjang dan lama, dan memunculkan robot2 yang lebih banyak lagi baik dari kubu Autobots maupun Decepticons. Sang musuh besar di babak awal juga dimunculkan kembali yaitu Megatron, yang lagi2 berhasil hidup kembali bak para pembunuh maniak dari film “Halloween” ataupun “Friday the 13th” yang ga bisa mati2. Untuk menambah rumitnya perjuangan para Autobots yang dipimpin Optimus Prime dan juga manusia sahabat baiknya Sam Witwicky, dihadirkan pula dedengkot gaek para Decepticons yaitu The Fallen yang juga menjadi tema film kedua ini, “Revenge of the Fallen.” Dan yang pasti seluruh pemeran utama juga hadir kembali melanjutkan karakter mereka masing2, Shia LaBeouf sebagai si cupu Sam Witwicky, Megan Fox sebagai kekasihnya yang super sexy, Mikaela (siap2 aja menyaksikan peragaan setiap kemolekannya yang benar2 dimanfaatkan oleh kamera secara habis2an kali ini), Josh Duhamel dan Tyrese Gibson sebagai dua tentara kebanggaan Amerika yang posisinya semakin tersingkirkan aja oleh para robot, juga dua ortu kocaknya Sam yang makin gila2an aja aksinya, terutama ibunya Sam yang kadang memberikan porsi humor slapstick yang berlebihan di film ini. Selain itu, mengingat bila Michael Bay adalah mantan sutradara video klip yang cukup beken, so pasti jejak2 karir lamanya itu masih tergurat secara gamblang disini, bisa dilihat dari model2 yang berkeliaran secara bebas dan merdeka terutama di bagian2 yang menampilkan suasana kampus Sam yang diceritakan telah menginjak bangku perkuliahan. Apa benar di Amerika sana ada sebuah perguruan tinggi yang isinya cewek2 super jelita dan molek2 seperti di film ini? Pasti bakalan rame tuh menjadi incaran para calon mahasiswa cowok.

“Transformers” yang pertama dulu mungkin dipuji2 atas keberhasilannya menampilkan spesial efek canggih yang menghidupkan penampilan para robot mainan yang sudah dikenal sejak lama itu. Tapi kalau dari segi cerita, justru dinilai lemah oleh banyak orang. Nah, bagaimana dengan sekuelnya ini? Bisa dibilang setali tiga uang alias sama2 aja, bahkan kalo mau jujur, malah lebih ancur. Plot, pengkarakteran, jalinan alur cerita, hingga editing yang baik benar2 diabaikan oleh Michael Bay yang terlalu bernafsu menampilkan peragaan spesial efek yang menyilaukan mata, efek suara yang memekakkan telinga dan ekspoitasi keseksian Megan Fox. Selain itu durasi yang menghabiskan waktu kita dalam ruang sineplek selama dua jam lebih itu bisa dibilang terlalu lama dan bertele2. Banyak adegan ga penting yang lolos dari gunting editor, adegan2 slapstik dan mengada2 yang gue pikir sama sekali ga ada nilai plusnya bagi kontuinitas jalan ceritanya sendiri. Humor2 yang dulu terkesan efektif saat ditampilkan dalam film pertama, disini malah lebih banyakan yang nanggung dan ga ngena ke sasaran. Beberapa lelucon menjurus malah bikin kening berkerut bukannya memancing tawa lepas, ada lagi penggambaran berlebihan yang disisipkan oleh Bay pada salah satu bagian vital robot raksasa Decepticons. What the hell did you think, Bay??

“Transformers: Revenge of the Fallen” sekali lagi membuktikan bila efek jor-joran, bujet gila2an, ambisi yang berlebihan itu bukanlah hal yang pasti bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Meskipun telah melibatkan lokasi syuting yang lebih mencengangkan dimata yaitu mesir (tentunya dengan set dan sinematografi yang lebih spektakuler dibandingkan “Ketika Cinta Bertasbih”), lengkap dengan pengrusakan piramid oleh para robot raksasa film ini, tetep aja kualitas cerita tidak bisa dijaga dengan baik oleh Bay. Duo penulis naskah Alex Kurtzman and Roberto Orci yang sebelumnya mendapatkan nilai plus untuk skrip “Star Trek,” tampaknya kembali pada titik lemah mereka dalam film yang tadinya dielu2kan bakal merontokkan setiap rekor box office ini. Tapi bukan berarti film ini betul2 jelek sekali, bagi kamu yang memang hanya mencari hiburan semata dan dengan senang hati menyantap suguhan visualisasi wuaah tanpa henti, film ini memang pantas buat dijadiin santapan pada waktu santai. Tapi buat kamu yang menginginkan efek heboh itu dibarengi dengan jalinan cerita yang kuat dan masuk akal, siap2 aja menelan ludah kekecewaan. Memang sih, mana ada yang namanya film fantasi itu ceritanya masuk akal, namanya juga fantasi. Tapi setidaknya ga usah terlalu ngebodoh2in lah seperti film satu ini. Ada kok film fantasi dengan efek canggih dan cerita yang tetap kuat dan berinteligensi, trilogi “The Lord of the Rings” adalah salah satu contohnya.





(Klik Yuk Biar Kita Lanjutin ==>)

Blood The Last Vampire: Vampir Lagi, Lagi Lagi Vampire

Jeon Ji-Hyun, aktris muda Korea yang kini dikenal dengan nama internasional Gianna Jun, dulu angkat nama saat memerankan karakter cewek super jutek dan sangar dalam drama komedi “My Sassy Girl”. Sekarang Gianna coba menjajal keberuntungannya di industri sinema Hollywood lewat film berjudul “Blood: The Last Vampire”. Karakter yang diperankannya disini pun berubah 360 derajat dari film2 yang pernah mengisi daftar perannya dahulu, bila sebelumnya Gianna lebih sering memerankan karakter cewek normal yang sehari2 kita temui di genre drama maupun komedi, sekarang dia harus menjajal peran yang mengharuskannya mempraktekkan ilmu bela diri, bermain pedang dan jumpalitan dalam membasmi vampir, monster, iblis dan berbagai makhluk halus lainnya. Tokohnya disini sebelumnya diperkenalkan dalam sebuah anime Jepang bernama Saya yang merupakan makhluk campuran antara vampir dan manusia. Tapi kalo dipikir2 apakah kita masih memerlukan karakter seperti ini di layar lebar? Secara sebelumnya juga sudah ada beberapa film yang menampilkan hal yang serupa, walaupun “Blood” disini sudah memiliki akar anime yang lumayan kuat.

Tapi bila memang hasilnya bagus, mungkin memang ga ada salahnya juga, toh tampaknya masih ada ruang bagi si pemburu vampir ini melakukan aksinya dalam pita seluloid, dan lumayan juga sebagai perbandingan dengan karakter yang berdekatan lainnya yaitu si pemburu vampire cowok Blade yang dulu diperankan oleh Wesley Snipes. Anyway, saat menyaksikan film “Blood: The Last Vampire”, gue berusaha untuk mencari faktor2 yang menjadi keunggulannya sendiri, namun tampaknya segi2 kelemahannya sendiri justru lebih tampil dengan prima, dan begitu mempesona hingga susah untuk dihindari.

Yang pertama adalah isyu pada karakter Saya yang diperankan Gianna, menjadi satu2nya pemburu vampir terkuat dalam cerita disini, secara klise tokohnya digambarkan sebagai pahlawan sempurna yang begitu mudahnya mengalahkan setiap musuh yang dihadapinya. Satu sabetan aja dari pedang katana-nya berarti kematian instan, cuma begitu aja, ga pake jurus apa2, dan ga ada tantangannya. Sangat jarang bahkan melihat Saya mengeluarkan keringat sekalipun (Well.. mungkin hujan lebat yang mengiringi pertempurannya juga bisa sedikit menyamarkan) saat menghabiskan sejumlah makhluk2 tanpa identitas yang terus menerus muncul. Jadi mungkin kamu udah tau apa yang bisa diharapkan sepanjang jalan cerita – sabet, tebas, sabet, tebas, cuci-bersih- sabet n tebas lagi.

Dasarnya dan dari sononya Gianna memang bukanlah aktris yang memiliki kemampuan bela diri yang memadai ibarat Michelle Yeoh ataukah Zhang Ziyi. Sutradara Chris Nahon yang menggarap film ini justru lebih mengandalkan editing cepat, adegan close up, permainan kamera juga slow motion disini dan disana untuk mengakali adegan aksi dalam film ini. Secara segi artistikal, mungkin hal itu bisa dipandang cukup menarik namun tetep aja bakal keliatan akal2annya dan lama2 juga bakalan menimbulkan rasa bosan. Gue rasa sendiri bila film ini masih punya banyak kekurangan dalam menampilkan adegan2 aksi yang sanggup menampilkan hal2 yang menegangkan apalagi baru. Meskipun begitu, adegan pertempuran pada babak akhirnya mungkin masih bisa dimaafkan ketika Saya mempertunjukkan sedikit kemampuan yang lebih potensial yang dimilikinya. Spesial efek yang dihadirkan pun bisa dibilang cukup standar dan agak mengecewakan. Adegan pengejaran diatas atap khas film kung fu juga jadi terkesan seperti menonton film kartun. Musuh2 yang dihadirkan pun sama sekali ga ada artinya sebelum pimpinan iblis Onigen muncul di penghujung pertempuran, tapi lagi2 kesan klise itupun muncul dari sosok musuh bebuyutan Saya ini, aroganisme khas antagonis dibanyak film2 aksi lainnya itu benar2 cuma buat ngulur waktu ato buang waktu aja. Toh sehebat apapun dia, tetep aja akhirnya kejahatan bakalan kalah sama yang namanya kebaikan, tul kan?

Jadinya secara garis besar mungkin disini adalah kurang adanya sesuatu yang inovatif, sesuatu yang bisa menjadi nilai tambah bagi penonton yang masih kurang familiar dengan bahan dasar dari film ini yaitu anime tadi. So, buat kamu yang pengen nonton film aksi dan hanya mau ngeliat aksinya aja dan ga peduli dengan plot yang seringan wafer ataupun mengharapkan adegan yang tampil dihadapan kamu sebenarnya bisa dihadirkan lebih baik lagi, mungkin film “Blood: The Last Vampire” ini bisa menjadi tontonan pengisi weekend yang lumayan menghibur. Setidaknya sosok Gianna Jun yang imut bisa jadi penghias layar yang manis buat diemut pikiran. (J-C)

(Klik Yuk Biar Kita Lanjutin ==>)

Siaga Film: Gamer

Pernah nonton film fiksi ilmiah dengan tema olahraga maut? Mungkin beberapa judul yang cukup familiar di telinga adalah filmnya Arnold Schwarzenegger “The Running Man,” “Rollerball” atau film terbarunya Jason Statham yaitu “Death Race”. Semuanya adalah film bernuansa futuristik yang menceritakan sebuah permainan yang sama2 menggunakan nyawa sebagai taruhannya. Nah, ini ada satu lagi film yang mencoba memanfaatkan alur serupa yaitu “Gamer”, cuma disini media pertaruhannya dikembangkan dalam sebuah layanan game multiplayer online yang saat ini sedang dan lebih nge-trend di kalangan anak muda. Menjanjikan sebuah tontonan pemacu adrenalin penuh adegan baku tembak, ledakan, dan strategi combat layaknya game aksi di PC ataupun Playstation, film “Gamer” ini adalah hasil racikan duo sutradara yang sebelumnya lebih dikenal lewat dwilogi “Crank” yang dibintangi oleh aktor aksi asal Inggris Jason Statham, yaitu Mark Neveldine and Brian Taylor. Kebetulan karya aksi gila2an mereka yaitu sekuel “Crank,” “High Voltage” juga baru2 saja ini beredar di pasaran, jadi mungkin masih fresh di pikiran bagaimana style penyutradaraan yang diusung duo ini. Dan style itu juga mungkin tidak banyak mengalami perubahan saat mereka menggarap film satu ini, hanya, tentunya tema futuristik disini bakalan menjadikan efek, desain produksi, dan budget untuk “Gamer” berada diatas “Crank.” Untuk film ini sang duo sutradara juga telah mempekerjakan barisan bintang yang lebih punya nama bila dibandingkan film terdahulu yang hanya memanfaatkan kharisma Statham. Sebagai tokoh utama, ada bintang aksi yang tak kalah sangar yaitu Gerard Butler yang angkat nama setelah sukses film adaptasi komik bangsa Sparta yaitu “300.” Butler didukung oleh aktor peraih Emmy Award dari serial “Dexter”, Michael C. Hall, ada juga pemeran utama dari serial TV sukses “Heroes” yaitu Milo Ventimiglia, aktor latin John Leguizamo, penyanyi rap Ludacris dan juga bintang muda yang baru aja kita saksikan performanya dalam film horor “Drag Me to Hell,” Alison Lohman.


Sesuai sinopsis resminya, “Gamer” adalah sebuah film aksi thriller berkonsep canggih yang mengambil seting masa depan dimana dunia game dan hiburan telah ber-evolusi menjadi sebuah hibrida baru yang menyeramkan. Manusia bukan lagi mengontrol tokoh rekaan dalam game, tapi justru manusia lainnya yang menjadi objek dalam game berskala masal, permainan multiplayer online zaman gelo’. Pada masa itu teknologi pengontrol pikiran telah begitu memasyarakat, dan sebagai otak dibalik permainan kontroversial berjudul “Slayers” itu adalah seorang milioner bernama Ken Castle (Michael C. Hall). Game yang merupakan gagasan terbarunya ini berjenis ‘first-person shooter game’ yang mampu memuaskan keinginan para gamer dalam melampiaskan fantasi permainan tergila mereka secara online, didepan para penonton global, objek mereka dalam game itu adalah manusia2 asli yaitu para narapidana, yang diperbudaki sebagai avatar yang harus bertarung sampai mati dengan avatar lainnya. Otak mereka telah diinstal oleh sebuah chip khusus yang memungkinkan kontak dengan para pengontrol mereka alias para gamer.
Kable (Gerard Butler) adalah tahanan hukuman mati yang tanpa diduga2 menjadi superstar dan pahlawan yang dipuji2 dalam game super sadis itu. Kable dikontrol oleh oleh Simon, remaja dengan status rock star yang terus menerus berhasil mengalahkan setiap tantangan dan mengantarkan Kable pada kemenangan di setiap minggunya. Direnggut dari keluarga mereka masing2, dipenjarakan dan dipaksa untuk bertarung melawan hati nurani mereka, para gladiator zaman modern ini harus berusaha mati2an dan selama mungkin untuk menaklukkan setiap rintangan, agar mereka dapat membebaskan keluarga mereka, mengembalikan identitas mereka dan menyelamatkan umat manusia dari teknologi kejam Castle.


Secara garis besar, cerita diatas mungkin akan langsung mengingatkan kita pada apa yang sebelumnya disajikan dalam “Death Race’. Dimana diceritakan para pemegang kuasa kejam yang memanfaatkan para narapidana untuk sebuah permainan maut yang digemari oleh publik. Memang sungguh memiriskan bila hal2 yang digambarkan dalam dua film ini benar2 terjadi pada masa depan nanti. Btw, Neveldine and Taylor telah sedikit memberikan penjelasan pada apa yang coba mereka tawarkan lewat film ini. Mereka mengakui bila dua film “Crank” mereka sebelumnya adalah murni dibuat untuk hiburan dan imajinasi liar mereka untuk sebuah film aksi. Tapi duo ini tetap menanti kesempatan untuk menggarap cerita yang lebih serius, bermuatan ide yang lebih besar dan peng-karakteran yang lebih komplek. Dalam “Gamer” mereka menciptakan tiga dunia yang unik, masing2 dengan corak dan desain tersendiri. Untuk game simulasi realitas ‘Slayers,’ digambarkan seting berskala besar, medan pertempuran para multiplayer gamer lewat ‘avatar hidup’ mereka masing2. Kebalikannya adalah ‘Society’, komunitas jaringan sosial para avatar yang penuh warna dan mengingatkan kita pada game “Sims”. Yang terakhir adalah dunia nyata dimana tinggal para manusia normal, termasuk para pemain game ini. Nevaldine menjelaskan bahwa tiga penampilan dunia ini akan berjalan dalam karakter khas mereka masing2, dengan tata set dan visual yang berbeda, juga dari pewarnaan dan gerak kamera hingga efek dan desain produksinya. Bagi yang udah nonton “Crank” juga pasti tau bila dua sutradara ini juga suka bermain2 dengan bahasa gambar yang vulgar, dan hal itu mungkin masih mereka terapkan di film terbaru ini, salah satunya lewat tokoh avatar seksi yang diperankan oleh mantan model Amber Valletta yang dulu juga sempat tampil sensual sebagai musuh Jason Statham di “Transporter 2”. (J-C)


(Klik Yuk Biar Kita Lanjutin ==>)

Copyright © 08-09 - BUAYA FILM - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template