Phobia 2: Ga Kalah Seru Dari Film Pendahulunya

Ditengah semaraknya perfilman horor di negeri gajah putih Thailand, “Phobia 2” yang menyajikan lima cerita horor pendek oleh lima sutradara berbeda, masih sanggup tampil cemerlang sebagai sebuah tontonan menyeramkan yang fresh, menghibur dan siap menggedor jantung dan nyali para penontonnya di setiap menit sepanjang durasinya. Sebagai sekuel “Phobia” yang telah dipuji2 para penggemar film itu, film satu ini tetap tidak kehilangan aroma horor yang menjadikan film pertamanya begitu menarik. Selain hadirnya kembali karya tiga sutradara yang dulu bekerja untuk “Phobia”, juga kemunculan dua sutradara baru yang salah satu diantaranya pernah menghasilkan sebuah film horor yang telah diakui kualitasnya di dunia internasional yaitu “Dorm.”

Film ini dibuka dengan segmen bertajuk “Novice,” menceritakan kisah menegangkan tentang seorang pria remaja yang harus membayar sebuah dosa besar dengan sangat mengenaskan. Sementara efek suara dan musik latarnya udah sanggup mendirikan bulu roma dan menjembatani kita masuk ke adegan2 horornya, kisah ini akan membawa kita masuk jauh ke dalam rimba dalam kekelaman malam, dimana makhluk2 halus bebas berkeliaran. Aktor remaja Jirayu La-Ongmanee (The Legend of King Naresuan) tampil bersinar di peran utama perdananya, terutama dalam adegan dimana dengan tanpa berdaya dia memohon pengampunan atas dosa2nya. Menurut gue, segmen ini juga merupakan karya terbaik sutradara Paween Purijitpanya yang seblumnya menggarap “Body # 19” dan segmen bertajuk “Tit For Tat” di “Phobia”. Ciri khasnya yang selalu menyajikan efek CGI pada kemunculan sosok hantu dan sinematografi yang unik, berpadu dengan sangat baik disini. “Novice” mungkin adalah segmen paling menyeramkan di “Phobia 2” dan menjadi pembuka yang sangat efektif sekali.
Skor: 8/10

Cerita pendek kedua, “Ward”, mengajak kita ikut merasakan bagaimanakah rasanya berada di dalam sebuah kamar rawat rumah sakit bersama seorang pasien koma tidur di sebelah kita. Adalah Arthit (Dan Worrawech) seorang pemuda yang mengalami patah kedua kakinya akibat kecelakaan motor. Dia harus dirawat dalam ruangan yang sama dengan seorang kakek2 yang sudah mengalami kondisi koma cukup lama. Tapi malam itu, sang pemuda merasa bila si kakek sebenarnya tidak sepenuhnya tidak sadar, sebab dia yakin akan hadirnya makhluk lain di dalam ruangan yang gelap dan sepi itu. Memiliki durasi terpendek dari lima kisah pendek lainnya, cerita “Ward” terasa kurang dari segi detil dan harusnya bisa diperkaya dengan munculnya sedikit diskusi tentang pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takdir di tengah masyarakat modern Thailand. Meskipun masih cukup menegangkan untuk dinikmati tapi segmen ini terasa sekali sangat buru2 dihabiskan.
Skor: 7/10

“Backpackers”, cerita ketiga, adalah jawaban Thailand terhadap film2 zombie Hollywood. Sementara plotnya mungkin lumayan mengkopi formula Amerika, tapi segmen ini masih bisa mengajak penonton mengikuti rollercoaster ketegangannya dari awal hingga akhir, menikmati kepanikan para protagonis menghindari gerombolan zombie kelaparan. Menurut gue, dari lima segmen yang ada, “Backpackers” ini paling berpotensial untuk dikembangkan lagi ceritanya untuk menjadi satu buah film panjang, menggali lebih dalam subplotnya yang menarik seperti asal muasal para zombie, roman antara dua bintang utamanya, dan reaksi pemerintah yang bisa disajikan secara parabel maupun satir. Endingnya juga terkesan membuka pintu bagi hadirnya sebuah sekuel yang mungkin juga bisa dilanjutkan di “Phobia 3” nanti. Sutradara Songyos Sukmakanant yang menggarap segmen ini sebelumnya dikenal lewat film “Dorm” yang telah meraih popularitas di berbagai festival internasional. Disini juga Songyos kembali bekerja sama dengan aktor cilik yang dulu bermain di “Dorm” yaitu Charlie Trairat yang telah beranjak remaja.
Skor: 7/10

Segmen keempat digarap oleh salah satu duo “Shutter” yaitu Parkpoom Wongpoom, “Salvage”. Dalam “Phobia” dulu Parkpoom menyajikan segmen penutup berjudul “The Last Fright” yang tokoh utamanya adalah seorang wanita yang dicekam ketakutan di dalam sebuah pesawat terbang. Sekarang, tetap mengandalkan roman kepanikan seorang wanita yang dibintangi oleh bintang cantik Thai, Nicole Theriault, Parkpoom mengalihkan lokasi horornya ke sebuah tempat penyimpanan dan perakitan mobil bekas. Segmen ini terasa kehilangan fokus pada saat plotnya membagi konsentrasi antara kepanikan sang tokoh utama mencari anaknya yang hilang dan ketakutannya menghadapi teror makhluk halus penghuni salah satu mobil bekas. Cerita ini sebenarnya bisa lebih diperdalam maksudnya bila subjek karma dan ketidakjujuran, yang mewarnai sebagian besar segmen dalam film ini, lebih diuraikan dengan terperinci. However, mungkin durasi lagi yang menjadi kendalanya disini.
Skor: 6,5/10

“In the End,” segmen kisah pendek terakhir adalah yang paling unik dan spesial diantara empat sebelumnya, dan yang menjadi peraih juara segmen favorit gue. Disajikan oleh peracik “Shutter” lainnya yaitu Banjong Pisanthanakun yang ternyata dalam “Phobia” dulu juga memenangkan keseluruhan segmen lewat cerita berjudul “In the Middle”. Kali ini sang sutradara kembali mengajak kwartet favoritnya dalam “In the Middle” yang lagi2 menyumbangkan banyak kelucuan khas mereka dalam kisah horor ini. Ceritanya mereka berempat adalah krew sebuah produksi horor yang sedang berusaha menuntaskan satu adegan terakhir dalam film tersebut. Bintang utamanya diperankan oleh Marsha Wattanapanit yang mungkin akan langsung mengingatkan kita pada perannya dalam “Alone”. Tak disangka dan tak diduga, pemeran sosok hantu dalam produksi itu terserang penyakit gawat dan harus dilarikan ke rumah sakit secepatnya. Kerja pun tertunda namun tidak berselang lama, si aktris kembali untuk menyelesaikan bagiannya tetapi dengan bingkisan teror yang akan menjadi mimpi buruk bagi semua krew di lokasi syuting. Heboh tapi sangat lucu, plot segmen yang satu ini menjelajahi berbagai twist yang akan mengejutkan anda. Akhirnya juga sangat tidak terduga dan tidak disangka2, jadi, seperti tagline nya film “The Sixth Sense”, “Never Tell The Ending To Anyone”.
Skor: 9/10

Jadi kesimpulannya, lagi2 perfilman horor Thailand berhasil menghadirkan sebuah antologi kisah seram yang sukses dan semakin memperkuat eksistensi franchise “Phobia” di mata penggemarnya. Maka dari itu, sangat2 ditunggu kehadirannya “Phobia 3” dengan enam kisah horor yang tentunya lebih menarik, lebih seram, lebih lucu dan durasi yang lebih efektif lagi.


Siaga Film: Sherlock Holmes

Mencoba mengikuti kesuksesan reka ulang Batman, James Bond, dan Star Trek baru2 ini, bulan Desember nanti satu tokoh legendaris bernama Sherlock Holmes juga akan kembali menjumpai para penikmat film dengan kemasannya yang baru. Tokoh satu ini mulai berkibar namanya sejak novel karya Arthur Conan Doyle diperkenalkan pada abad ke 19 dan sejak itu terus berkembang dan menjalajah berbagai jenis media hiburan yang menjadikan Holmes salah satu peran detektif paling terkenal sepanjang masa. Aktor handal yang sedang naik daun Robert Downey, Jr. (Iron Man) didaulat untuk memerankan sosok Holmes di versi terkini ini bersama aktor Inggris Jude Law sebagai Dr. Watson, sahabat serta mitra Holmes dalam mengungkapkan berbagai kasus kriminal. Dalam film berjudul “Sherlock Holmes” ini, berdua mereka akan tampil sebagai tim detektif Inggris muda yang siap menjelajahi dunia yang lebih realistik dan penuh misteri2 yang baru juga tentunya.

Guy Ritchie (Lock, Stock, and Two Smoking Barrels), sutradara ngetop Inggris dan mantan suami ratu pop Madonna itu, bertanggung jawab sebagai sutradara film ini. Tentunya kita juga bersiap untuk menyantap tampilan baru Holmes ini dalam racikan khas Ritchie yang cukup unik itu, tetapi sang sutradara juga sempat mengatakan bila dia berusaha untuk tetap mendekati karyanya dengan kisah orijinal karangan Doyle. Meskipun begitu, konon film ini juga merupakan hasil adaptasi dari sosok baru Holmes dalam sebuah buku komik karangan Lionel Wigram. Ceritanya akan membawa Holmes dan mitranya Watson pada kasus baru yang menantang kredibilitas mereka berdua. Yang sungguh berbeda dari gambaran Doyle pada sosok detektif kebanggaannya ini adalah Ritchie telah menciptakan Holmes yang memiliki kemampuan bertarung dan bela diri bak sosok pendekar Kung Fu ataupun Iko Uwais di “Merantau”, dan itu adalah hal yang belum pernah dihadirkan pada hasil2 adaptasi sebelumnya. Satu lagi, film ini bakal disajikan dalam bentuk komedi aksi, jadi anda tidak akan dibuat jenuh akan pemecahan kasus yang serius, melainkan anda juga akan dibuat tertawa akan aksi unik Holmes dalam memecahkan kasus-kasus yang rumit. Turut membintangi sebagai penyegar mata adalah aktris muda dan cantik Rachel McAdams, tentunya sebagai target asmara si detektif ternama.

Plot: Tak ada yang pernah meragukan kalau Sherlock Holmes (Downey, Jr.) adalah seorang penyelidik yang handal. Tak ada kasus yang tak bisa dipecahkan oleh Sherlock bahkan yang paling pelik sekalipun. Sherlock dan sahabatnya, Dr. John Watson (Law) adalah tim yang tak terkalahkan. Pihak kepolisian Inggris sudah sering kali terbantu oleh dua orang yang mahir dalam menyelidiki kasus kejahatan ini termasuk saat Sherlock dan Watson berhasil mengungkap kejahatan penyembah setan bernama Lord Blackwood (Mark Strong) dan membawa pria ini ke tiang gantungan. Kekalahan inilah yang tak bisa diterima oleh Lord Blackwood yang pada hari kematiannya bersumpah akan membalas dendamnya pada Sherlock Holmes. Tak berapa lama kemudian, sebuah kasus kejahatan kembali mengharuskan Sherlock Holmes dan Dr John Watson turun tangan. Serangkaian tindak kejahatan ini dilakukan bukan oleh sembarang orang. Bila Sherlock dan Watson gagal, maka seluruh negeri Inggris yang jadi taruhannya. Sherlock menduga semua itu ada hubungannya dengan Lord Blackwood yang telah meninggal di tiang gantungan.

Ada beberapa kejadian yang cukup mewarnai syuting film ini yang kemudian menimbulkan berbagai prasangka kalau “Sherlock Holmes” adalah salah satu produksi yang ‘dikutuk’. Rangkaian kecelakaan sempat terjadi pada pembuatan film ini seperti salah satu kecelakaan dialami pemeran utama Robert Downey Jr. Ketika sedang melakoni sebuah adegan perkelahian, dagu bintang 'Iron Man' itu terkena bogem mentah. Pukulan itu membuat Robert sempat tidak sadarkan diri. Dan juga kecelakaan fatal sempat terjadi pada November 2008 lalu di lokasi syuting dimana sebuah truk tangki yang berisi bahan bakar meledak. Kobaran apinya cukup besar sehingga membuat lokasi itu sempat ditutup.

Meskipun begitu, dengan tampilnya Downey, Ritchie dan tampilan baru untuk seorang Sherlock Holmes, film ini sudah cukup menjanjikan sebagai sebuah tontonan yang memikat. Semoga saja kegagalan film2 yang mengangkat seting masa Victoria sebelumnya seperti “The League of Extraordinary Gentlemen,” “From Hell,” “Van Helsing,” and “Around The World In 80 Days,” tidak menular ke film ini.

Kata Maaf Terakhir, Maaf.....

kata maaf terakhir
Biasanya orang menyesal belakang. Kalau udah tertimpa bencana besar atau tahu bahwa ajalnya sebentar lagi akan menjemput , baru deh ingat akan kesalahannya dan berusaha minta maaf (yah lebih baik terlambat daripada gak sama sekali). Seperti halnya Darma (Tio Pakusadewo) yang sedang menjalani bulan terakhir kehidupannya karena divonis dokter menderita kanker stadium 4.

kata maaf terakhir
























1.Sholat lima waktu
2.Puasa 30 hari
3.Berhenti merokok
4.Meminta maaf kepada Dania, Reza,dan Lara

itulah rentetan daftar tindakan yang dilakukan oleh Darma (Tio Pakusadewo) sebelum ajal menjemputnya. Dari keempat daftar yang dibuat,no.4- lah yang paling sulit. Darma tahu, dia telah melukai mereka sedemikian dalamnya, hingga rasanya tak mungkin mereka akan bisa memaafkannya. Enam tahun yang lalu, Darma meninggalkan Dania, istrinya dan kedua anaknya, Reza dan Lara, karena menghamili Alina (Kinaryosih), sahabat Dania.
Darma tahu bahwa keluarganya sangatlah terpukul akan kejadian tersebut. Oleh karena itu , setiap Lebaran, dia tak pernah mencoba untuk datang menemui mereka. Darma tidak sanggup jika harus menghadapi kemarahan keluarganya.






View gallery






Hingga suatu saat secara tak sengaja Darma bertemu dengan Lara. Ia berusaha keras mendekati Lara. Lara yang awalnya bimbang akhirnya luluh akan keinginan ayahnya. Karena jauh di dalam hatinya ia sangat merindukan peristiwa ini, di mana ia bisa bercengkrama kembali dengan ayahnya. Darma pun menyampaikan kondisi yang sedang dihadapinya. Lara pun mengalami dilema, karena di dalam hatinya ia ingin memenuhi keinginan ayahnya.


Film ini merupakan kolaborasi kedua antara sutradara Maruli Ara, dengan penulis skenario Leila. S.Chudori, dimana sebelumnya mereka telah sukses dalam serial televisi DUNIA TANPA KOMA, serial Tv yang bertabur bintang yang berbobot walaupun hanya beberapa episode (kapan lagi ada serial TV yang berbobot,yah ?). Di sini adalah debut mereka berdua dalam menggarap sebuah film.
kata maaf terakhir



























Tio Pakusadewo sebagai aktor senior patut diacungi jempol juga, karena ia mampu 'menghidupkan' film yang mengambil lokasi syuting di daerah Jakarta, Anyer, Puncak, Cibodas, Cibubur dan Cibinong ini. KATA MAAF TERAKHIR ingin menyampaikan kepada penonton, hendaknya menjaga keutuhan keluarga, sebelum semuanya terlambat dan hanya sesal yang tertinggal.

Film ini juga, debut Maia di layar lebar. Walaupun Maia yang sebelumnya sudah pernah menjadi pemain di acara EXTRAVAGANZA dan sitkom OB, ia tak menemui kesulitan berarti ketika berakting difilm ini . Ia menganggap adegan menangis yang paling sulit, hal ini bisa dimaklumi karena cerita ini ada kemiripan dengan kisahnya di kehidupan nyata.

Walaupun nama Maia Estianty sangat baru didunia akting, tapi bukan berarti dirinya mau berperan apa saja untuk sebuah film. Bagi mantan istri Ahmad Dhani tersebut, dirinya mau bermain film karena pesan yang disampaikannya.

Karena banyaknya pesan moral yang coba disampaikan dalam film ini, tentunya menjadi pertimbangan dirinya untuk mau bermain dalam film produksi Sinemart Pictures ini, yang disutradarai oleh Maruli Ara.

“Kenapa saya ambil? Karena buat saya pesan yang disampaikannya cukup menarik, sehingga film ini banyak menampilkan konflik ketika terjadi perceraian,” ungkapnya ketika jumpa pers film ‘Kata Maaf Terakhir’ di Planet Hollywood, Jl. Jend. Gatot Soebroto, Jakarta Selatan.

Bagi Maia yang baru saja mengalami perceraian dengan pentolan Dewa 19 itu, menjelaskan kalau perceraian itu selalu menimbulkan luka sehingga bisa trauma dan dapat menyeret kearah yang negatif.

“Karena perceraian itu meimbulkan luka sehingga menciptakan trauma dan bisa kearah yang lebih hancur,” terangnya.

Tak hanya itu, pesan pribadi atau tidak, saat itu Maia pun memberikan lampu merah kepada para wanita untuk mengganggu rumah tangga orang, dan ia juga mengencam bagi para laki-laki untuk berpikir ulang ketika berselingkuh.

“Kepada laki-laki supaya berpikir ulang ketika melakukan perselingkuhan, begitu juga wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain,” tambahnya.

Setelah film "Sepuluh", jarang sekali film yang bertemakan drama. Dibandingkan ditahun 80-an lebih banyak banyak film drama dibandingkan sekarang. Mungkin membuat film drama lebih sulit karena harus membuat penonton larut dengan ceritanya. Padahal, dengan bermain difilm drama, kualitas akting sang aktor maupun sangat akris teruji.


Film yang berdurasi 98 menit ini,menggambarkan sosok wanita yang tegar dan mandiri, yang berhasil bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setelah ditinggalkan suaminya, dimana ia dan kedua anaknya berjuang untuk berdamai dengan hati mereka masing-masing untuk dapat memberi sebuah kata maaf pada seorang suami dan ayah yang telah meninggalkan luka yang dalam di hati mereka. Arti kata maaf yang bukan sekedar ucapan yang mudah meluncur dari mulut setiap kita melakukan kesalahan, atau satu penyesalan mendalam atas kesalahan yang harus kita tunaikan dengan ikhlas. Tema itu juga yang coba diangkat dalam film ini.

"Maaf sebuah kata yang mudah diucapkan ,tetapi susah dilakukan"

Jenis Film :Drama

Pemain :
Tio Pakusadewo
Maia Estianty
Ade Surya Akbar
Amanda
Kinaryosih
Dwi Sasono

Sutradara :Maruli Ara

Penulis : Leila S. Chudori

Produser :Leo Sutanto, Mitzy Christina

Produksi :Sinemart Pictures

Homepage :http://www.sinemart.com/kmt

The Final Destination 3D: Ide Usang Berlapis Teknologi Ngetop

Kekeringannya sumber inspirasi di industri perfilman horor Hollywood dari hari ke hari semakin terlihat jelas, mulai dari mengadaptasi hasil karya film negara lain, mereka ulang produk lawas hingga mengulang2 ide horor yang masih dianggap laku lewat sekuel (Ya, horor Asia juga ga lepas dari metode yang satu ini). Begitu juga dengan serial “Final Destination” yang telah dimulai sejak tahun 2000 lalu, hingga sekuel yang terbaru ini telah mencatat empat judul yang tentunya terus mengulang formula yang sama dengan perbedaan lokasi dan pemain. Meskipun hasil yang dicetak tiga film terdahulu ga bisa dibilang begitu memuaskan, namun karena modal yang dikeluarkan untuk produksi tidak begitu besar, hingga laba sedikitpun sudah dianggap menguntungkan. Untuk film keempat ini yang diberi titel tanpa embel2 digit, cukup “The Final Destination” aja, telah dilibatkan teknologi 3 dimensi yang sedang naik daun. Apakah dengan kemajuan teknologi ini dapat membantu di segi penceritaan dan penokohan episode keempat ini menjadi lebih baik lagi?

Bila di film pertama segala sesuatunya dimulai dari kecelakaan pesawat terbang, di film kedua melibatkan kecelakaan lalu lintas dan di kali ketiganya, “Final Destination” mengubah permainan rollercoaster menjadi ajang maut, di film keempat ini tragedi itu dimulai dari ajang perlombaan mobil Nascar. Plot filmnya kira2 seperti ini: Niat menonton perlombaan mobil yang menyenangkan malah menjadi sebaliknya bagi Nick O'Bannon yang memiliki firasat bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Ia melihat beberapa mobil balap saling bertabrakan, terus berurut sampai dengan kejadian yang akan membunuh dia dan temannya secara brutal. Penglihatan ini membuat Nick panik dan memaksa teman-temannya untuk meninggalkan arena perlombaan, sebelum semuanya menjadi kenyataan. Berpikir bahwa mereka telah mengelabui ajal, Nick dan teman-temannya mencoba menjalani hidup baru. Namun sayangnya, semua ini malah menjadi awal yang mengerikan untuk Nick dan Lori. Penglihatan Nick kembali muncul dan teman-temannya satu per satu tewas dengan cara yang mengerikan. Sekarang Nick harus kembali menemukan cara untuk mengelabui ajal sebelum ia menjadi target akhir.

Sekali lagi, meskipun dengan modal cerita dan akting pas2an, film pertamanya masih menjadi yang terbaik dibandingkan film2 selanjutnya termasuk yang satu ini. Kenapa begitu? Karena semuanya menjadi terlanjur klise aja dan terlalu formulaik, meskipun adegan2nya dibuat semakin sadis dan menyajikan scene2 maut yang semakin realistik. Akting para bintang utama yang notabene bintang2 baru dan muda itupun tidak bisa berbuat banyak, akting mereka yang belum terasah dengan baik itu malah menebar kekakuan di setiap adegan. Sepanjang film dari adegan pembuka hingga penutup, semuanya hanya tentang metode2 bagaimana tokoh2 dalam film ini menemui ajal mereka saja. Tidak ada plot ataupun dialog yang cukup berarti untuk diingat ataupun dijadikan bahan perbincangan.
Mungkin hanya efek 3D nya aja yang bisa dibilang cukup menghibur bagi beberapa orang, lebih dari itu ga ada yang pantes untuk dijadikan sebagai bahan rekomendasi buat anda untuk menonton film ini. That’s all…

The Hangover: Lahirnya Trio Baru Pemancing Tawa

Kebanyakan komedi yang dianggap berhasil itu ceritanya diangkat dari kenyataan sehari hari, bahkan kita menemukan beberapa humor yang ironisnya justru menertawakan tragedi kehidupan manusia. Salah satu contohnya dapat kita temukan di film komedi terbaru yang sudah masuk jajaran komedi terlaris di Amerika sana yaitu “The Hangover”. Ceritanya tentang pesta bujangan di Vegas yang berujung kacau berantakan, dimana sang pengantin pria menghilang secara misterius, setiap orang tiba2 kehilangan akal sehat mereka, dan Mike Tyson yang berusaha mendapatkan harimaunya kembali.

Ya, mungkin beberapa dari kita ada yang pernah mengalami malam2 kacau seperti ini, tetapi mungkin tidak se-ekstrim apa yang digambarkan dalam “The Hangover”. Namun disitulah letak kekuatan sebuah komedi yang melebih2kan segala hal guna menyajikan humor2 wahid pengocok perut. Film satu ini begitu lucu karena meng-humoriskan ritual budaya, sebuah tradisi Amerika, yang mana sangat dekat dengan kebanyakan orang disana (dan mungkin beberapa orang di negeri ini juga menganggapnya lucu). Kesialan demi kesialan yang menimpa para tokoh utamanya juga masih tetap menjadi komoditi utama pemancing tawa. Trik ini sebenarnya sudah bukan barang baru lagi. Malahan bisa dibilang sumber lelucon yang satu ini sama tuanya dengan humor itu sendiri. Sebagai buktinya tonton aja komedi produksi Indonesia saat ini juga humor khas Warkop di masa jayanya dulu. Bedanya, “The Hangover” tak terjebak humor slapstick yang biasanya dikonotasikan dengan humor murahan.

Meskipun belum begitu tepat untuk mengklaim film ini sebuah sebuah karya yang brilian (baik dari segi sebagai sebuah komedi ataupun studi karakter), namun dari awal kehadirannya, film ini telah berhasil menemukan pijakan yang tepat sebagai sebuah komedi dan terus mengalirkan cerita yang stabil dan menarik untuk dinikmati. Terlebih lagi, jujur aja “The Hangover” hadir layaknya udara segar di tengah film2 komedi stereotip lainnya, dimana keadaan ini juga langsung memantapkan dirinya sebagai salah satu komedi terbaik untuk konsumsi penonton dewasa pada dekade ini.

Alasannya sederhana aja yang membuat “The Hangover” sukses melucu, karena karakter2 yang dihadirkannya memang benar2 lucu dan juga vulgarismenya. Kita tertawa saat menonton kemalangan para karakter dalam film ini karena kita menyukai dan berempati pada mereka. Apakah mereka stereotip? Pada tingkatan tertentu, iya, kita punya si cowok penakut yang selalu tunduk pada perintah pacarnya, Stu (Ed Helms); si unik dan serampangan Alan (Zach Galifianakis); dan si pencinta wanita yang kepercayaan diri dan penampilannya langsung mendaulat dirinya sebagai pemimpin trio gila ini, Phil (Bradley Cooper). Masing2 aktor utama ini menampilkan akting yang menawan, meskipun mereka belum punya nama besar di genre ini. Mereka juga mampu menampilkan peran mereka dengan sangat meyakinkan dan natural walaupun ditengah2 berbagai adegan gila sekalipun.

Helms dengan kenaifannya sanggup menciptakan kesegaran tersendiri bagi setiap adegan, disini pula si aktor kurang ternama sebelum tampil dalam film ini mempertunjukkan semua talentanya yang tidak bisa dianggap enteng. Cooper memanfaatkan tampang dan penampilannya, dia berhasil membelokkan tipikal figur seorang tokoh utama pria baik2 dan tampan menjadi si tolol, canggung, dan naïf tetapi juga punya narsisme tinggi. Galifianakis membawakan tipikal komedian gendut yang suka bertindak dan hidup semau gue, disini dia mendapatkan bagian yang menyumbangkan kelucuan terbanyak bagi jalan cerita. Chemistry yang hadir diantara ketiganya juga bisa dibilang kuat dan yang menjadikan kita sebagai para penonton secara tidak sadar semakin masuk kedalam alam absurditas yang mereka bangun.

Film ini merupakan komedi dewasa karya Todd Phillips yang sebelumnya sukses dengan film-film bergenre sama seperti 'Road Trip' dan 'Old School'. Bila dibandingkan dengan karya2 sebelumnya, jelas terlihat semakin matangnya Todd dalam meramu genre spesialisasinya ini. Yang jelas misinya untuk membuat penonton tertawa terbahak-bahak kembali berjalan dengan lancar dan sukses besar.

“The Hangover” pastinya ditakdirkan untuk hadir menjadi karya komedi terbaik dan tersukses di tahun 2009 ini, dan selebihnya, akan menjadi sebuah cult comedy di tahun2nya mendatang. Dan ketika kita hidup di tengah era perfilman yang semakin dipenuhi oleh sekuel2 ga’ penting, gue justru berharap bisa menyaksikan penampilan trio kocak ini lagi di film lanjutaannya. Dan itu adalah suatu hal yang jarang muncul di pikiran gue selesai menyaksikan sebuah film.

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme