4bia: Salah Satu Horror Terbaik Asia

Menjelajahi perfilman di Asia saat ini, ada satu periode yang sangat menarik yaitu saat memboomingnya genre horror produksi Asia. Dimulai dari produksi Jepang “The Ring” dan “The Grudge” yang langsung diikuti oleh menjamurnya film film sejenis di negara negara lainnya (Indonesia tentu salah satunya). Hollywood sebagai salah satu produsen film nomor satu di dunia itupun sampai sampai latah ikutan me-recycle film film horror hits Asia. Lantaran karena kehabisan ide atau hanya mengagumi kualitas horror Asia yang lebih baik dari produksi mereka. Tapi saat ini tampak produksi genre ini sudah mulai kian menurun, tidak seheboh tahun tahun yang lalu lagi, karya karya baru yang berkualitas juga sudah jarang kita temui di pasaran. Selepas gagalnya juga beberapa karya buat ulang yang digeber oleh para produsen Hollywood yang berniat melanjuti sukses Ring dan Grudge. Salah satu negara Asia yang tampaknya masih tetap konsisten dengan per-horror-annya adalah Thailand, yang sempat juga menelurkan beberapa produk berkualitas seperti “Shutter” dan “Alone”. “Shutter” pun telah mengalami proses peng-Hollywood-an yang dibarengi oleh hasil yang sangat jauh dari memuaskan kalo dibandingkan dengan versi aslinya. Ngomong ngomong tentang film ini dan juga “Alone” tentunya yang menceritakan tentang seorang wanita yang dihantui kembarannya (dan denger denger juga bakal direka ulang versi baratnya), mungkin beberapa dari anda sudah mengetahui kalo sutradara asli dua film ini adalah sama, yaitu dua orang bernama Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom (nama orang Thai emang rada susah dilafalkan…he..he..). Mereka berdua ini adalah sutradara generasi baru yang punya potensi sangat mengagumkan di Thailand sana, terbukti dua film mereka itu bukan hanya mampu menjadi hits dimana mana namun juga mengangkat nama perfilman negeri mereka. Sekarang mereka berdua hadir kembali dalam karya terbaru yang sebenarnya sudah dirilis di negeri asal sejak April lalu tapi baru muncul di bioskop Indonesia bulan bulan ini itupun hanya diputar di Blitz Megaplex saja, cukup disayangkan memang padahal film berjudul “4bia” ini mendapatkan respon yang sangat baik dari pemutarannya di negara negara Asia Tenggara lainnya dan juga telah meraih beberapa penghargaan di festival festival kelas Internasional.

“4bia” sendiri adalah sebuah film horror yang terbagi atas 4 segmen atau cerita, dimana bisa terlihat dari pemakaian angka itu pada title, dan juga kalau sekilas akan terbaca seperti kata Phobia yang berarti perasaan takut. Semenyeramkan itukah film ini hingga dapat menyebabkan para penontonnya menjadi phobia?
4 segmen ini juga uniknya bakal disutradarai oleh sutradara yang berbeda beda, modus seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru karena sebelumya juga pernah muncul horror berjudul “Three” yang mengambil tema serupa. 4 sutradara yang terlibat bukan nama nama sembarangan tapi adalah orang orang yang sudah diakui kualitasnya di Thailand sendiri, mencakup dua nama yang telah disebutkan tadi dan juga satu sutradara senior yang pernah mengguncang Asia dengan karya fenomenal “The Iron Ladies” yaitu Youngyooth Thongkonthun, dan satu sutradara fresh namun telah menunjukkan hasil karya yang unik dan berbeda di “Body # 9” yaitu Paween Purikitpanya. Menyajikan keunikan dan ciri khas mereka masing masing, empat orang ini memuaskan penonton dengan cita rasa horror yang berbeda beda dalam film ini (Nano nano kale…). Ada sentuhan action nya, komedi, drama perselingkuhan, dan juga remaja tapi tetap dalam balutan keseraman keseraman horror Asia yang sangat dekat dengan tekstur budaya kita. Banjong dan Parkpoom untuk pertama kalinya akan bekerja sendiri sendiri disini, masing masing akan menangani satu segmen.Kita mulai dari segmen pertama yang disutradarai oleh sang senior terlebih dahulu, Youngyooth dalam cerita berjudul “Happiness”. Bagian ini cukup unik karena dari 20 menitan durasinya, hampir sebagian besar cuma mengambil setting di satu lokasi dan satu pemeran saja. Adalah seorang cewek bernama Pin yang tak berdaya dan tinggal sendiri di apartemennya karena masih dalam masa penyembuhan setelah mengalami kecelakaan yang cukup berat. Dengan bantuan tongkat untuk berjalan dan kondisi kaki yang masih digips, Pin jelas tak bisa leluasa untuk meninggakan apartemennya. Hari harinya hanya diisi dengan meng-SMS temannya ataupun browsing mencari lowongan di internet. Satu SMS iseng membawanya berkenalan dengan seorang cowok, setelah itu mulailah mereka menjalin pertemanan lewat SMS yang silih berganti hingga Pin menemukan beberapa kejanggalan kejanggalan yang cukup mendirikan bulu kuduk pada sosok cowok misterius ini. Menyadari ada satu hal yang tidak beres, Pin mulai menjaga jarak dan tidak mau meladeni SMS dari cowok ini lagi tapi bagaimana setelah sang cowok malah memutuskan menyambangi Pin di tempat tinggalnya?
Aroma horror yang kental mulai terasa setelah Pin menemukan fakta fakta aneh tadi, walaupun minim dialog dan hanya diwakilkan oleh ekspresi Pin dan display tulisan SMS, segmen ini mampu menghadirkan sesi sesi mencekam di klimaksnya. HP disini seakan menjadi perangkat horror yang sanggup menyebarkan terror lewat fungsi getarnya, pemeran Pin disini pun tampil dengan akting yang sangat baik dan mampu menyampaikan pesan yang ingin disajikan oleh ceritanya dengan maksimal. Disini terbukti kalo film horror itu ga butuh pemain banyak yang hanya bisa teriak teriak ga jelas doing, juga rumah tua besar yang dibikin bikin agar seram. Lewat cerita ini, siapa sangka hanya dengan satu aktor dan satu ruangan kecil apartemen saja, ternyata bisa menghadirkan aroma keseraman yang begitu mencekam.Cerita kedua diberi judul yang cukup unik “Tit For Tat”, sedangkan dari segi cerita sih sebenarnya cukup standar yaitu tema balas dendam. Tokoh tokohnya adalah para remaja yang baru duduk di bangku sekolah kelas menengah yang mengerjai salah satu teman mereka yang rada kuper gara gara salah paham, karena mengira anak ini membongkar aktivitas madat mereka di depan guru. Anak itu tersebut lantas mengalami berbagai macam bentuk penyiksaan fisik dari para begundal sekolah ini. Yang tidak mereka ketahui adalah anak kuper ini memiliki satu kemampuan khusus yaitu ilmu hitam lewat sebuah buku kutukan yang nantinya akan dipakai guna membalas dendam pada mereka hingga satu persatu para penyiksanya ini akan menemui ajal dengan sangat mengenaskan. Membandingkan karya keduanya ini dengan “Body # 9” kemarin, jelas Paween masih menggunakan cara bertutur dan visual yang sama. Sisi visualnya juga sepintas akan mengingatkan kita pada gaya sineas horror lokal yaitu Koya Pagayo. Sosok hantu yang ditampilkan lewat efek visual disini juga masih mengadopsi kemiripan dengan “Body”, efeknya sebenarnya ga begitu canggih dan masih terkesan animasi, jadi sosok hantunya juga tampil ga begitu menyeramkan. Paween lebih menekankan pada beberapa tampilan yang cukup sadis, sedangkan dari segi cerita dan akting sih masih lumayan standar saja.

Banjong hadir lewat karya solonya di segmen ketiga, “The Middle Man”. Dengan menampilkan empat tokoh remaja pria yang dengan cukup brilian mengeluarkan celetukan celetukan tentang film horror dan spoilernya disini. Bahkan film karya Banjong dan Parkpoom yaitu “Shutter” pun tidak ketinggalan dijadiin bahan becandaan disini. Tema bagian ini memang bisa dibilang sangat menyegarkan, karena dengan sangat baik, Banjong meremix horror dengan komedi. Dalam ceritanya, ada empat remaja yang sedang berkemping ria di hutan dan merencanakan untuk melakukan aktivitas arung jeram. Malam sebelumnya didalam kemah mereka saling bercanda dengan menceritakan film horror dan komentar mereka tentang endingnya. Salah satu dari mereka malah nyeletuk kalau dia mati dia akan menghantui siapa saja diantara mereka yang tidur ditengah. Esok harinya aktivitas arung jeram dimulai dengan suasana riang gembira, namun ketika salah satu dari mereka tidak mengindahkan peringatan temannya untuk tidak berdiri di depan perahu dan ketika arus sungai sedang deras derasnya. Perahu terbalik tak bisa terelakkan dan salah satu teman mereka hilang terbawa arus. Usaha mencari teman mereka berujung tanpa hasil dan hingga malam hari ketika mereka sibuk berspekulasi didalam kemah, sang teman datang dengan kondisi pucat pasi, basah dan kedinginan. Bahagia awalnya karena mengetahui kondisi teman mereka yang selamat dan baik baik saja tanpa satu kondisi luka sedikitpun ditubuhnya, tiga sahabat ini kemudian mulai menemukan keanehan keanehan pada sosok teman mereka ini yang akhirnya berujung dengan kesimpulan kalau yang kembali bukanlah teman mereka lagi tapi adalah arwahnya.
Tidak bisa dipungkiri, segmen ketiga ini adalah segmen paling fun dari semuanya, paduan komedi dan horror menyatu dengan serasi sehingga tidak sadar kita bakal nonton dengan rasa tegang campur ketawa ngakak.Beralih ke segmen terakhir yang kembali menawarkan kondisi paling tidak mengenakkan lagi, yaitu gimana kalau kita cuma sendirian saja dalam sebuah pesawat terbang yang sedang mengudara, dan hanya ditemani oleh sesosok mayat. “The Last Fright” adalah buah karya Parkpoom yang bercerita tentang seorang prumagari Pim, yang dengan sangat terpaksa harus menjadi satu satunya pramugari yang bertugas dalam pesawat yang mengangkut jenazah seorang putri sebuah negara fiktif kembali ke negaranya. Lewat beberapa fakta yang digeber di awal cerita yang sedikit memberikan kita keterangan tentang latar belakang Pim dan sang putri, juga masalah diantara mereka. Kita dibuat tegang ketika terror demi terror terus menghantui Pim sepanjang penerbangan yang juga terganggu oleh cuaca buruk.
Segmen ini cukup menjadi penutup yang sangat baik dan menegangkan, akting Laila Boonyasak sebagai Pim juga patut diacungi jempol. Seperti penerbangan dalam kondisi cuaca buruk yang membuat kita terus menahan napas, inilah perasaan saat menonton segmen terakhir ini. Penuh kejutan dan adegan adegan mencekam yang bener bener bisa bikin phobia.

Bisa dibilang 4bia adalah salah satu film horror terbaik yang dirilis tahun ini. Dan buat kamu yang ngaku doyan nonton horror, film satu ini tentunya ga boleh dilewatkan begitu aja. Empat sutradara piawai yang telah membungkus film ini tentunya adalah kekuatan utama terciptanya karya horror terbaik ini. Sangat ditunggu karya mereka selanjutnya baik individual ataupun kerja keroyokan seperti ini lagi.

Nilai: **** out of ***** (Wonderful!)

2 Response to "4bia: Salah Satu Horror Terbaik Asia"

  1. Via says:

    gue udah nonton filmnya n setuju banget kalo emang ini nyeremin abis... bener bener cocok deh buat yang suka ditakut2in, asal jangan jantungan aje ye... :)

    Anonim says:

    buat saya film ini gak serem2 banget. padahal saya juga bukan tipe orang yang berani2 banget. mungkin karena hantunya juga kebanyakan cowok kali ya? gak tau knapa hantu cwo kok kayaknya blum se " hip " hantu permpuan dalam hal menakut2i. hahaha. tapi buat yang penakut kya sya film ini boleh jadi ajang percobaan buat nonton film horror.

Posting Komentar

SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR ANDA... JANGAN RAGU RAGU DAN MALU MALU, KAMI SIAP MENAMPUNG UNEG UNEG ANDA TENTANG POSTINGAN MAUPUN TAMPILAN BLOG KAMI... SEBELUM DAN SESUDAHNYA KAMI UCAPKAN THANK YOU SO MUCH..!

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme