Siaga Film: Phobia 2

Udah pernah nonton horor antologi Thailand berjudul "Phobia" aka "4bia" yang beredar tahun lalu? Kalo udah kamu2 pasti sependapat dengan gue kalo film tersebut adalah salah satu film horor paling menarik yang pernah beredar. Makanya gue sangat menunggu kehadiran kembali para sutradara dari film tersebut untuk melanjutkan kembali kiprah mereka dalam menghadirkan berbagai cerita pendek menyeramkan, menegangkan namun menghibur untuk kedua kalinya di "Phobia 2". Sekuel yang sangat gue tunggu2 itu ternyata bakalan segera beredar pada bulan September ini di negara asalnya (mudah2an juga segera masuk ke jaringan perbioskopan di Indonesia). Mematok tanggal edar pada 9 September 2009 (9-9-9), film "Phobia 2" ini udah menghadirkan numerikal yang sangat unik dan menyeramkan. Bagaimana dengan previewnya? simak saja sajian gue di bawah ini.

Kalo pada "4bia" dulu kita disuguhkan empat buah cerita horor yang inovatif, untuk sekuelnya ini yang judul asli Thailandnya adalah "5Phrang", anda pasti udah bisa menebak kan ada berapa cerita nantinya yang bakalan bisa kita nikmati? Tentunya ada 5 buah horor baru yang tentunya akan semakin menambah rasa penasaran kita. Dari empat sutradara yang terlibat di film sebelumya cuma tiga aja yang kembali di film ini, mereka adalah duo Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom dari film2 horor super sukses seperti "Shutter" dan "Alone" yang kembali akan menghadirkan horor pendek mereka masing2, dan Paween Purikitpanya dari film "Body #9" yang terkenal dengan ciri khas hantu animasinya. Melengkapi mereka bertiga, sutradara yang tidak kalah terkenal dan telah menghasilkan film horor sukses berjudul "Dorm" siap menghadirkan fobia versinya sendiri yaitu Songyos Sugmakanan. Yang menarik adalah tampilnya sang sutradara kelima yang tidak lain tidak bukan adalah salah satu petinggi di perusahaan film GTH yang memulai debut penyutradaraannya disini yaitu Visute Poolvoralaks. Visute juga sebelumnya lebih dikenal sebagai produser film horor2 sukses Thailand.

Oke, berikut adalah kilasan pendek dari lima cerita yang akan tampil di "Phobia 2" ini.


Yang pertama adalah "Backpackers" hasil garapan sutradara Songyos Sugmakanan yang dalam segmen ini kembali mengajak kerjasama aktor cilik "Dorm" yang sekarang sudah menginjak usia remaja, Charlie Trairat. Charlie berperan sebagai pemuda misterius yang berprofesi sebagai asisten driver kontainer. Satu hari mereka berpapasan dengan beberapa remaja yang berniat menumpang di kendaraan mereka. Tapi ditengah perjalanan terungkap hal yang sangat menyeramkan yaitu isi kontainer yang sedang mereka tumpangi itu ternyata adalah berpuluh mayat manusia dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Segmen berikutnya adalah "Used Car" yang disutradarai oleh Parkpoom Wongpoom. Ceritanya secara garis besar adalah mengenai kutukan sebuah mobis bekas yang mempunyai sejarah tragis. Seorang pemilik showroom mobil bekas pada satu hari harus menghadapi berbagai kejadian menyeramkan saat harus menghadapi sebuah mobil yang ternyata masih belum bisa dilepaskan oleh pemiliknya yang udah menjadi penghuni alam lain.

"People on Set" adalah segmen garapan Banjong Pisanthanakun yang kembali menjadi ajang reuni dengan aktris Marsha Wattanapanich yang dulu menjadi bintang utama di film "Alone" hasil karya duetnya dengan Parkpoom Wongpoom. Segmen satu ini cukup menarik dan pasti bakal sangat menyeramkan, ceritanya mengambil seting langsung di sebuah produksi film. Marsha membawakan peran seorang aktris ternama yang sedang menjalani syuting sebuah film horor. Yang menjadi masalah disini adalah sang aktris pemeran hantu tiba2 jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Selang beberapa waktu, mereka bersiap kembali melanjutkan syuting ketika sang pemeran hantu telah kembali di set. Yang menakutkan adalah si aktris pembantu itu terlihat semakin kuat saja aura hantunya dan mulai menyebarkan teror sebenarnya kepada sang aktris utama dan seluruh krew film.

Berikutnya adalah "Thorny Palm Tree" hasil karya Paween Purikijpanya. Film ini menampilkan cerita seorang pemuda yang sepertinya sengaja disembunyikan oleh orang tuanya di sebuah tempat pertapaan para biksu setelah melakukan perbuatan yang sangat fatal. Tetapi pembalasan atas perbuatannya itu tampaknya akan tetap mengejarnya dimanapun dia bersembunyi. Teror dan berbagai kejadian meyeramkan segera siap meyergapnya di tengah2 lokasi pertapaan yang sunyi.

Yang terakhir adalah cerita pendek berjudul "Shared Room" yang dibintangi penyanyi terkenal Thailand “Dan” Worawech Danuwong dan disutradarai oleh produser veteran Visute Poolvoralaks. Dan berperan sebagai pasien rumah sakit yang ternyata harus berbagi kamar dengan kakek2 yang sudah koma dalam waktu lama. Di kesendiriannya berbagi kejadian supranatural mulai menghantuinya. Timbul keraguan dalam benak Dan, apakah kakek di ranjang sebelahnya masih hidup ataukah sudah dijemput ajal?


Sangat menarik sekali menyimak preview berbagai cerita singkat yang telah dipersiapkan untuk menguji nyali kita di "Phobia 2" ini. Semoga hasilnya nanti memang tidak kalah bahkan bisa lebih baik dari film pendahulunya.

Merantau: Bangkitnya Film Seni Bela Diri Khas Indonesia

Cerita dalam film “Merantau” diawali oleh drama kekeluargaan dimana ada seorang pemuda Minang bernama Yuda (Iko Uwais) yang akan segera meninggalkan kampung halamannya untuk melaksanakan tradisi perantauan. Yuda melangkah dengan berat hati karena harus meninggalkan sang ibunda tercinta (Christine Hakim), kakaknya Yayan (Donny Alamsyah) dan kembang desa yang ditaksirnya demi mengadu nasib di ibukota. Yuda sendiri adalah pemuda yang sangat menguasai ilmu bela diri peninggalan leluhurnya yaitu silat Harimau, dan itu juga yang nantinya akan menjadi bekal yang sangat berguna bagi perjalanannya. Didalam sebuah bus menuju Jakarta, Yuda bertemu dengan seorang pemuda lainnya bernama Eric (Yayan Ruhian) yang belum apa2 sudah membagikan pesan2 pesimis tentang susahnya mewujudkan mimpi di Jakarta. “Kamu mengingatkan saya pada diri saya 15 tahun yang lalu. Penuh semangat dan impian menaklukkan dunia. Tapi hidup di Jakarta tidak mudah. Sekarang saya bahkan kerja apa saja di Jakarta,” kata Eric.
Meskipun kata2 itu belum menyurutkan semangatnya, tapi sesampainya di Jakarta, Yuda mulai dihadapi oleh berbagai kejadian yang mencobai keteguhan hatinya. Rumah yang ditujunya ternyata sedang direnovasi, dan nomor telepon si pemilik rumah pun tak bisa dihubungi sama sekali. Walhasil, Yuda pun harus luntang-lantung tak karuan karena tidak ada sanak saudara yang bisa didatangi. Dalam kebingungannya, tanpa sengaja Yuda bertemu dengan kakak beradik yatim piatu bernama Astri (Sisca Jessica) dan Adit (Yusuf Aulia). Kekerasan hidup di Jakarta kembali tergambar dari dua sosok ini, Astri adalah seorang penari disebuah kelab malam dengan bayaran yang kurang memadai juga bos yang keji. Adiknya Adit, kerjaaannya sehari hari adalah menjadi pengamen jalanan dan kadang juga mencopet demi sesuap nasi. Kesulitan hidup ini menjadikan sosok Astri seseorang yang suka bersikap sinis tetapi disisi lain dia sangat menyayangi adiknya dan rela mengorbankan nyawa sekalipun demi keselamatan Adit.
Pertemuan Yuda sendiri dengan mereka berdua ternyata semakin menyeret pemuda ini untuk masuk pada permasalahan2 yang kian pelik. Astri yang menjadi incaran sebuah organisasi perdagangan manusia dari Eropa pada satu hari menyebabkan terjadi bentrokan antara Yuda dengan bandit2 yang sedang mengejarnya. Yuda yang selalu memegang teguh prinsip2 kebenaran tidak bisa untuk tidak menolong Astri dan adiknya, dan mulai membantu mereka dengan berbagai upaya demi melepaskan diri dari penjahat2 tersebut.

Layaknya masuk ke sebuah restoran dimana kita memesan sebuah menu khas Indonesia sedangkan yang yang meraciknya adalah seorang koki bule, tentunya kita akan menikmati satu sajian yang sangat pas dengan lidah kita tapi juga memiliki cita rasa internasional. Begitulah sedikit banyak hal yang bisa digambarkan saat menyaksikan film “Merantau” ini. Sutradara film ini adalah Gareth Evans, sineas asal Inggris yang juga menjadi pencetus ide untuk membuat film yang sangat mengangkat budaya lokal ini. Mengangkat langsung sebuah tradisi merantau yang sangat terkenal dari masyarakat Sumatra Barat khususnya Minangkabau, juga aksi pencak silat Harimau yang menjadi bela diri khas dari daerah tersebut, film aksi satu ini benar2 berangkat dari sebuah gagasan yang sangat membumi. Gareth yang juga terlibat dalam penulisan skenarionya terlihat sangat menghargai budaya asli Indonesia ini dan ikut memasukkan pesan2 moral tentang kasih sayang dan kehangatan antar anggota keluarga. Awal film menjadi sarana bagi Gareth untuk menghadirkan kehangatan tersebut yang diwakili oleh keluarga Yuda, diiringi pula oleh lanskap daerah Minang yang begitu indahnya. Namun 20 menit pertama itu juga seakan dipersiapkan Gareth sebagai perbandingan bagi scene2 selanjutnya yang mengambarkan kekerasan hidup di Jakarta.

Film yang berdurasi dua jam lebih juga berhasil mewujudkan kolaborasi yang cukup baik antara aksi bela diri berani dan memukau, drama yang menjadi peredamnya, tata visual nan artistik dan tentunya musik latar yang pas dalam ikut membangkitkan adrenalin para penonton. Empat unsur yang disebutkan diatas tadilah yang menjadi kekuatan utama film “Merantau” ini. Masing2 saling melengkapi dalam menyajikan sebuah tontonan film aksi bela diri khas Indonesia yang udah sangat jarang kita saksikan di layar perbioskopan kita.Adegan2 dramatis juga dihadirkan semakin tajam lewat sorotan piñata kamera Matt Flanery yang menggunakan kamera HD, dimana kamera tersebut sanggup menghadirkan tampilan gambar tajam dan terang yang tentunya sangat mendukung kemunculan berbagai adegan dramatis dan artistik di film ini. Musik yang juga menjadi kekuatan tadi ditata oleh Aria prayogi dan Fajar Yuskemal, mereka menciptakan irama2 yang cukup pas bagi setiap adegan dan sadar tidak sadar ikut membangkitkan setiap emosi yang dirasakan penonton.

Yang satu lagi dan sangat tidak kalah pentingnya adalah penataan laga. “Merantau” tidak menyajikan tampilan pencak silat yang hanya diwarnai oleh aksi kuda2an ataupun tari2an seperti film2 aksi jaman baheula. Tetapi disini lewat bimbingan ahli silat veteran Edwel Datuk Rajo Gampo Alam, kemunculan pencak silat itu menjadi hal baru yang begitu memukau dalam layar. Atlet pencak silat nasional Iko Uwais juga menyajikannya begitu cepat, mantap, luwes, dan eksotik namun mematikan, tidak kalah dari seni Kungfunya Jet Li maupun Muay Thay-nya Tony Jaa yang terkenal lewat film “Ong Bak” itu. Pokoknya benar2 membuat film ini wajib tonton bagi penggemar film aksi di Indonesia

Di sisi kekurangannya, film ini masih memunculkan beberapa adegan klise dari berbagai film aksi dan tradisi Minang tadi yang seakan hanya dijadikan pemanasan saja di babak2 awal. Tetapi kekurangan2 tersebut menurut gue masih bisa diredam oleh berbagai hal lain yang lebih menghibur dalam film ini. So, jangan sampe ketinggalan untuk nonton “Merantau” di bioskop2 terdekat, karena ini adalah salah satu film paling menghibur di Indonesia untuk tahun 2009 ini.

Siaga Film: 2012

Mengisi rubrik Siaga Film kali ini adalah sebuah film segera tayang yang justru ingin menyiagakan kita dalam menghadapi tahun 2012 nanti. Yup, film berjudul “2012” ini akan menceritakan berbagai peristiwa murkanya alam pada tahun tersebut yang mengancam kelangsungan kehidupan manusia di muka bumi, atau dalam kata lain adalah ‘kiamat’. Sutradara film ini adalah Roland Emmerich yang karya2 sebelumnya mungkin udah banyak yang tau, seperti: “Independence Day” yang menceritakan serangan makhluk luar angkasa dengan UFO super gede terhadap bumi, “Godzilla” tentang serangan monster asli Jepang yang jadi mirip dinosaurus, “The Day After Tomorrow” yang mengisahkan dunia diambang kiamat akibat pemanasan global, dan yang terbaru tahun lalu adalah “10.000 BC” yang membawa kita kembali ke zaman manusia purba. Dari karya2 sebelumnya itu udah jelas bila Emmerich memang sangat suka mengerjakan film2 bertema disaster alias bencana. Maka dari itu untuk film terbarunya ini Emmerich udah ga maen2 lagi, segala jenis bencana siap digeber habis2an. Bahkan sutradara yang udah putus hubungan dengan rekan produsernya dulu yaitu Dean Devlin menjanjikan film “2012” ini sebagai ibunya semua film bencana lewat skala spesial efek yang bakal disajikannya untuk menghidupkan berbagai adegan mengenaskan yang menimpa umat manusia dan planet tercinta ini.

Penggambaran cerita “2012” sendiri mengambil ide dari prediksi bangsa Maya di Amerika yang memperkirakan bila bumi akan berakhir pada tahun tersebut. Dalam kalender mereka tersebut, diramalkan bahwa pada periode 1992-2012 bumi akan dimurnikan, selanjutnya peradaban manusia sekarang ini akan berakhir dan mulai memasuki peradaban baru. Bangsa Maya ini sendiri adalah sekelompok masyarakat yang misterius dan tinggal di wilayah selatan Mexico sekarang (Yucatan) Guetemala, bagian utara Belize dan bagian barat Honduras. Banyak sekali pyramid, kuil dan bangunan-bangunan kuno yang dibangun oleh Maya yang masih dapat ditemui di sana. Banyak juga batu-batu pahatan dan tulisan-tulisan misterius pada meja-meja yang ditinggalkan mereka. Para arkeolog percaya bahwa Maya mempunyai peradaban yang luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari peninggalannya seperti buku-bukunya, meja-meja batu dan cerita-cerita yang bersifat mistik. Dalam sejarah peradaban kuno dunia, bangsa Maya bagaikan turun dari langit, mengalami zaman yang cemerlang, kemudian lenyap secara misterius. Mereka menguasai pengetahuan tentang ilmu falak yang khusus dan mendalam, sistem penanggalan yang sempurna, penghitungan perbintangan yang rumit serta metode pemikiran abstrak yang tinggi. Kesempurnaan dan akurasi dari pada penanggalannya membuat orang takjub! Lantas apakah perhitungan kalender mereka tersebut adalah suatu hal yang memang patut dipercayai dan akhirnya malah membuat kita was2?

Oke, kembali ke film “2012” ini, seperti apa yang digambarkan oleh bangsa Maya tadi bila pada 21 Desember 2012 akan menjadi hari berakhirnya peradaban umat manusia, cerita dimulai ketika seorang ilmuwan Amerika menemukan sebuah fakta bila di matahari sedang terjadi badai yang tidak biasa dan sangat intens. Menyadari bila hal tersebut dapat menimbulkan masalah serius terhadap planet bumi, dia berusaha menghubungi penasehat di gedung putih. Namun pemimpin kabinet yang sombong itu bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menyampaikan ancaman tersebut kepada Presiden (Danny Glover). Setahun kemudian, penemuan sang ilmuwan ternyata terbukti benar, bumi sudah diambang bencana yang sangat besar dan Presiden Amerika mengorganisir sebuah pertemuan rahasia dengan semua pemimpin negara di dunia. Ironisnya, para penduduk malah tidak diberikan peringatan tentang bahaya yang mengancam planet bumi ini.

Mengawali tahun 2012, tanda2 dini menuju hari berakhirnya kehidupan manusia tersebut mulai mencuat ke permukaan: bencana gempa dimana2, tanah longsor dan retakan2 besar yang mulai membelah permukaan bumi. Cerita kemudian beralih fokus pada keluarga Jackson Curtis (John Cusack), seorang sopir limosin yang juga adalah seorang penulis di waktu senggangnya. Ketika sedang mengajak jalan anak2nya pada suatu hari yang cerah, tiba2 mereka dihadang oleh semburan magma gunung berapi yang begitu ganas. Selamat dari peristiwa tersebut, bencana gempa bumi besar yang melanda Los Angeles, hujan asam dan tsunami setinggi pegunungan himalaya telah siap menghabiskan bukan saja kelangsungan hidup Curtis sekeluarga tapi seluruh umat manusia yang selama ini menguasai bumi dengan congkaknya. Dalam kepanikannya, Curtis segera menemukan kenyataan bila para pemimpin dunia ternyata selama ini telah menyiapkan bersama2 sebuah proyek rahasia untuk menghadapi bencana super ganas itu. Proyek tersebut adalah untuk menyelamatkan setiap kalangan elit yang nantinya diharapkan akan membangun peradaban baru di bumi setelah bencana berakhir. Tetapi apakah bahtera Nuh abad millenium ketiga itu memang benar2 tidak menyisakan tempat bagi rakyat biasa yang sekarang hanya berharap untuk selamat dari bencana banjir besar kedua ini?

Oke, kalau dilihat dari titik pandang ilmu pengetahuan umat manusia sekarang, hal yang diprediksikan bangsa Maya yang akhirnya mendasari film ini mungkin tidak dapat dipercaya. Bahkan, tidak ada kitab suci agama manapun yang secara gamblang menyebutkan tahun atau tanggal berapakah kiamat itu akan benar2 terjadi. Meskipun begitu, bukankah kehidupan kita juga mengenal prinsip bila tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini? So, mungkin sehabis menonton film ini ada satu hal yang bisa kita jadikan pelajaran penting yaitu bersiap2 diri saja untuk menyambut kedatangan hari tersebut, kapanpun dan dimanapun akan terjadi. Semakin mendekatkan diri kepada Yang DiAtas adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan selain tentunya menjaga bumi kita ini dan membina hubungan yang lebih baik dengan lingkungan kita.

Murderer: Film Thriller Aaron Kwok Yang Nanggung Abis

Dalam film ini, Aaron Kwok berperan sebagai seorang kepala inspektur kepolisian berumur 40 tahunan bernama Ling. Dia begitu dihormati di kesatuannya karena telah berhasil memecahkan beberapa kasus yang rumit, memiliki catatan kerja yang sempurna, dan segera akan dipromosikan untuk menjabat posisi yang lebih tinggi. Setiap orang melihat masa depan yang begitu cemerlang didepan Ling dan menjagokannya untuk menjabat posisi tertinggi di satuan kepolisian Hong Kong tersebut. Ling juga memiliki keluarga yang tidak kalah sempurna, seorang istri yang cantik dan setia, anak lelaki yang rupawan juga tentunya diiringi gaya hidup yang sangat menunjukkan kemapanannya.
Tapi pada suatu hari, kehidupannya yang terlihat begitu sempurna tiba-tiba berubah haluan menjadi kacau balau ketika dirinya ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah lokasi kejadian kriminal. Disana juga ada rekan kerjanya yang terluka sangat parah. Ketika Ling terbangun di rumah sakit, dia tidak mampu mengingat apapun yang terjadi pada saat dirinya diserang, yang diketahui oleh para rekannya adalah Ling dan partnernya saat itu sedang mengejar seorang pembunuh berantai yang menjadi incaran mereka sejak lama. Pembunuh ini menghabisi korbannya dengan menggunakan alat bor listrik, seperti yang telihat pada rekan Ling yang terluka, tubuhnya dipenuhi lubang2 mengerikan akibat alat tersebut.
Setelah diusut, semua bukti2 dari lokasi justru memberatkan posisi Ling yang langsung dijadikan tersangka utama. Para saksi mata mengklaim bila mereka tidak melihat siapapun memasuki blok apartemen dimana dua polisi itu diserang selain mereka berdua saja. Dua kejadian pembunuhan sebelumnya juga terjadi ditempat yang tidak jauh dari kediaman Ling dan pada saat dirinya libur kerja. Ling malah tidak bisa memberikan alibi yang kuat tentang dimana dia berada sesungguhnya pada saat kejadian itu berlangsung. Selain istrinya Hazel dan anak angkatnya Sonny, hanya rekan sesama detektif yang memiliki nama julukan Ghost yang masih mempercayai bila Ling tidak bersalah. Sedangkan semua orang yang tadinya begitu mendukung Ling berbalik menudingnya sebagai seorang penjahat yang paling busuk, media juga menyebarkan berita yang semakin memberatkannya dan membahayakan kesempatan promosinya.

Sama seperti alur cerita yang tadinya menunjukkan kehidupan Ling yang begitu menjanjikan dan akhirnya berubah menjadi sangat tidak menentu, begitulah kira2 perasaan yang timbul saat kita menyaksikan film “Murderer” ini. Style yang ditunjukkan pada bagian2 awal film terkesan agak kasar dan agresif, tapi irama yang rada kurang mulus itu tampaknya bisa termaafkan dengan cerita yang sepertinya dibangun menuju suatu plot yang menarik dan menjanjikan hal2 yang membangkitkan tensi ketegangan. Sutradara debutan Roy Chow (sebelumnya dikenal sebagai asistennya Ang Lee) menunjukkan kalau dia memiliki bakat dalam menyajikan adegan2 horor dan mengaduk isi perut lewat beberapa scene film ini. Tetapi, setelah ‘set-up’ yang sudah cukup baik dan penuh intrik tadi, sepertinya Roy sulit memutuskan kemana dia akan membawa kelanjutan cerita film ini. Banyak adegan flashback dan penampilan ulang peristiwa2 penting karena sang sutradara berusaha meyakinkan diri bila penonton tidak melewatkan satu hal penting sekalipun. Terdapat juga beberapa pertunjukan tanggung ketika karakter2 dalam film ini berulang kali dihentikan dari apa yang sedang mereka lalukan sekedar untuk memberikan kesempatan bagi pembahasan setiap hal yang berhubungan dengan cerita latar.

Penampilan Aaron Kwok yang dulu dikenal sebagai bintang manis idola remaja yang sekarang menjelma menjadi aktor watak itu juga bukanlah penampilan terbaiknya. Masih kalah jauh bila dibandingkan dengan performanya di “After This Our Exile” yang memenangkannya piala Golden Horse Award sebagai aktor terbaik, malah juga belum bisa menyaingi penampilannya di “The Detective.” Disini Kwok menyajikan performa ‘over PD’ yang justru berkembang menjadi sesuatu yang kurang menarik atensi penonton. Aktor2 lainnya yang tampil dalam film ini juga tidak bisa berbuat banyak dengan skrip yang membatasi ruang gerak mereka, hanya bisa memberikan akting yang standar2 saja.

Menuju penghujung film, penonton disuguhkan ‘twist ending’ layaknya film2 karya M. Night Shyamalan yang tampaknya adalah hal yang menggugah pihak Cineplex 21 untuk mengimpor film ini ke Indonesia. Twist yang ditampilkan disini cukup lumayan memang, cukup absurd dan menggelikan hingga harus disaksikan dengan mata kepala sendiri untuk bisa mempercayainya. So, bagi penggemar film dengan adegan berdarah2, mungkin film ini bisa menghibur anda tapi jangan harapkan sebuah film yang cukup kuat walau sebagai perbandingan untuk karya sekelas “Saw” sekalipun.

Angels & Demons: Misteri Di Balik Keindahan Kota Vatikan

Mungkin sudah agak kurang up-to-date bila menghadirkan review film lanjutan “DaVinci Code” yang kontroversial ini, tapi ga ada salahnya juga, toh filmnya baru mulai beredar dua bulan yang lalu. Oke, cerita “Angels & Demons” yang novelnya justru muncul lebih dulu dari “DaVinci Code” ini dimulai dari peristiwa meninggalnya Paus di Vatikan yang dibarengi oleh pencurian sebuah sumber energi antimateri berkekuatan ledak dahsyat dari sebuah badan riset di Genewa, CERN. Sementara itu, empat Kardinal yang tadinya dicalonkan untuk menjadi pengganti sang Paus pun malah diculik. Para penculik ini ini meninggalkan jejak2 yang berupa simbol2 kuno dan Profesor ahli simbologi Robert Langdon pun didatangkan oleh kepolisian Vatikan untuk menyelidikinya. Selidik punya selidik, akhirnya Langdon menemukan petunjuk bila ada sebuah organisasi tua yang sebelumnya diduga telah musnah yaitu Illuminati yang menjadi dalang dibalik semua peristiwa ini. Para pengikut Illuminati mengeluarkan ancaman untuk menghabisi keempat kardinal yang mereka culik dan juga menggunakan sumber energi antimateri untuk membumi hanguskan Vatikan. Dibantu oleh Vittoria Vetra, ilmuwan yang menjadi utusan CERN, juga kepolisian Vatikan, Langdon harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan para Kardinal dan menggagalkan misi bejat Illuminati.

Dalam film ini, aktor handal peraih Oscar Tom Hanks kembali melanjutkan duetnya dengan sutradara Ron Howard yang juga kelas Oscar itu dari film sebelumnya. Bila dibandingkan dengan “DaVinci Code”, nilai lebih film ini datang dari temponya yang lebih cepat dan makin banyaknya adegan aksi. Tapi dibalik semua itu pastinya juga ada konsekwensi yang harus dibayar oleh “Angels & Demons” yaitu kurangnya pengembangan karakter dan chemist yang dibangun antar para tokoh dalam film ini. Tom Hanks sebagai pemeran utama yang terlihat semakin lekat karakternya dengan Robert Langdon ini masih memberikan penampilan yang cukup maksimal meskipun bisa dibilang bukanlah permainan terbaiknya yang bisa menambah koleksi piala Oscar di lemari pajangnya. Sementara itu aktor asal Inggris Ewan McGregor memberikan performa yang lumayan memikat sebagai Patrick McKenna sang Camerlengo (Kepala Rumah Tangga Vatikan). Walau kemunculannya disini cukup terbatas, tapi aktor veteran Stelan Skarsgaard yang juga baru tampil lewat film musikal “Mamma Mia!” tahun lalu itu tetap tampil berkharisma sebagai pejabat Swiss Gaard, Komandan Richter. Dan sebagai pengganti Audrey Tatou juga untuk melanjutkan penampilan aktris internasional yang mengucapkan bahasa inggris dengan aksen unik mereka adalah Ayelet Zurer, bintang asal Israel yang menjadi pemanis film dengan perannya sebagai Vittoria Vetra.

Bagi para penonton yang mungkin belum pernah membaca versi novel “Angels & Demons” sepertinya bisa menikmati versi film ini tanpa gangguan berarti. Lain halnya bagi mereka yang justru adalah pendukung dan pemerhati setia novel karya Dan Brown ini, karena durasi film yang lumayan terbatas, sangat jelas bagi mereka bila banyak hal2 yang terlewatkan disini sehingga kurang bisa memaparkan detail yang muncul di versi tulis secara akurat dan sempurna. Layaknya “DaVinci Code”, Ron Howard kembali melakukan beberapa perubahan yang menyebabkan beberapa detail yang dituliskan Brown terpaksa tidak bisa dihadirkan dalam film ini.

Tetapi dibalik setiap kekurangan yang masih bermunculan di film kedua Langdon ini, “Angels & Demons” tetap menjadi film yang lumayan menghibur sebagai pengisi waktu tonton kita. Tensi ketegangan yang dihadirkan cukup bisa dijaga dengan baik sepanjang durasi film berlangsung. Misteri yang menjadi bumbu utama film ini berikut teknik Landon dalam menguraikannya dilatar belakangi oleh pemandangan kota Vatikan dan bangunan2 bersejarahnya yang bernilai seni tinggi itu dengan sangat indah. Mungkin lebih indah dari penggambaran kota Paris di film pertama dulu.




powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme