Barbi3, sekarang menjajah pria

Satu lagi film drama komedi yang hadir di Indonesia yang siap memberikan persaingan kepada film – film yang lain. Di film yang berjudul Barbi3 (sama sekali gak ada hubungannya sama Barbie, boneka yang terkenal diseluruh dunia itu). Menceritakan tiga orang mahasiswi yaitu,Marion (Titi Kamal), Alya (Poppy Sovia) dan Aline (Francine Roosenda). Tiga mahasiswi paling cantik, kaya (menurut ceritanya) dan sekaligus paling dibenci di kampus. Julukan 'Cewek Bling-Bling' pun dianugerahkan mahasiswa lain karena sikap ketiga gadis itu yang tak sungkan-sungkan mempamerkan harta dan gaya hidup mewah mereka.

Sebagai hobi, Marion, sang ketua geng, menjebak mahasiswa-mahasiswa yang terhitung jelek, kampungan dan lugu buat diajak kencan yang kemudian dipermalukannya. Sudah tidak terhitung pria-pria yang jatuh bertekuk lutut dibawah kaki para cewek bling-bling ini. Salah satu korban terbaru mereka bernama Stanley (Desta Club 80's) cowok baru di kampus mereka yang baru datang dari Surabaya untuk memperbaiki nasib. Di ibu kota, Stanley harus berhadapan dengan suasana pergaulan yang penuh prasangka dan ketidak pedulian di antara sesama mahasiswa.

Alya ditugaskan Marion untuk merayu Stanley dan mengajaknya kencan. Gayung bersambut, Stanley tentu saja merasakan seperti ketiban rejeki durian runtuh karena gadis secantik Alya mengajaknya kencan. Tapi seperti yang bisa diduga ketika Stanley sudah siap berdandan full dan norak (sesuai permintaan Alya), si pria justru ditolak mentah-mentah dan dipermalukan. Ketiga cewek bling-bling tertawa puas melihat korban terbarunya terkena jebakan mereka. Hanya saja kali ini ternyata Stanley lebih sensitif, tak tahan dipermalukan dan memilih untuk bunuh diri. Untungnya usahanya sempat digagalkan oleh Helen (Cathy Sharon), seorang gadis manis, baik hati dan memang dari dulu jadi korban dan bermusuhan dengan ketiga cewek bling-bling tersebut.

Helen-pun melabrak ketiga gadis musuh bebuyutannya dan menuntut pertanggung jawaban mereka. Seperti biasa, Marion, Alya dan Aline tidak ambil perduli dan malah pergi ke sebuah shopping mall untuk belanja dan mejeng.

Mungkin karena karma atas dosa-dosa mereka. Di perjalanan itulah mobil Fancy milik Marion ditabrak oleh bis kampus.

Cerita ini kemudian berlanjut di alam baka ketika roh para gadis remaja ini disidang oleh seorang malaikat (Sujiwo Tejo). Daftar dosa-dosa mereka terhadap para pria membuat ketiganya tidak bisa memasuki surga. Namun mengingat usia mereka masih muda, kesempatan kedua-pun diberikan, dengan syarat selama sebulan mereka diberi masa percobaan untuk kembali ke dunia untuk memperbaiki diri.

Maka dimulailah parade penebusan dosa ketiga mahasiswi cantik matre ini. Caranya? Hanya dengan satu-satunya cara yang mereka tahu. Mem-make over cowok 'jelek' yang pernah mereka permainkan untuk dicarikan jodoh agar bisa hidup bahagia.Satu persatu korban yang mereka dulu tindas didatangi dan dimintai maaf. Proses ini berjalan lancar sampai tiba giliran Stanley dan Helen. Rupanya Stanley memendam luka batin yang lebih dalam dari korban lainnya. Niat Marion, Alya dan Alin untuk bertobat dilihatnya sebagai kesempatan untuk balas dendam. Maka, keadaan pun berbalik. Stanley yang tertindas kini jadi pihak yang menindas. Tapi apakah benar yang mereka lakukan, atau mereka sudah tertular virusnya cewek bling-bling si BARBI3..?! Berhasilkah mereka meyakinkan Stanley bahwa kini ketiganya telah bertobat dan benar-benar ingin berbuat yang terbaik untuk mantan korban mereka? Dan apakah benar yang mereka temui pada saat mereka collapse karena tabrakan adalah malaikat?

Di balik kelucuan-kelucuan yang mengundang tawa segar BARBI3 mengusung pesan moral tentang perbedaan dan keragaman sebagai kenyataan yang indah saat kita mau keluar dari sudut pandang sendiri. Tentang sebuah pernyataan'maaf' yang seringkali meluncur sebagai kata, tetapi jauh dari hati yang tulus. Mudah – mudah yang pesan yang ditangkap tidak memberikan insprirasi bagi cewek – cewek yang kaya dan cantik untuk memamerkan kekayaannya dan mempermainkan orang.

Film ini kayanya gak cocok dikasih judul Barbi3, secara film ini yang pertama bukan yang yang ke – 3. Juga tokohnya tidak mencerminkan tokoh Barbie yang setia kawan, kreatif, dan tidak suka menindas orang. Tetapi persamaannya hanya gaya hidup yang bling – bling . Sebaiknya jangan mengajak anak – anak untuk nonton film ini, apalagi sampai mereka minta.

Cathy Sharon yang berperan sebagai Helen, kayanya lebih cocok memerankan Marion dibandingkan Titi Kamal yang mungkin lebih cocok memerankan Helen. Karena muka Cathy Sharon lebih bling – bling.

Selain didukung aktor dan akris bintang seperti Titi Kamal, Poppy Sovia,Francine Roosenda, Cathy Sharon, Desta Club 80’s, dan Sujiwo Tejo. Fim ini didukung oleh lagu yang bagus yang dinyanyikan oleh Rossa berjudul 'Hey Ladies' diciptakan oleh Melly Goeslaw yang diproduksi oleh PT. Trinity Optima Production, juga lagu Perih dari PT. EMI Indonesia yang dibawakan oleh Andra & The Backbone. Untuk urusan musik, dikerjakan oleh Innerlight & Drago. Sedangkan untuk post production, dilakukan di Technicolor-Bangkok, diantaranya dengan penggunaan tata suara Dolby Digital Stereo.

Kamu - kamu tinggal tungguin aja tanggal 25 September 2008 di bioskop - bioskop terdekat. (Ixe)

Jenis Film : Drama Komedi

Pemain : Titi Kamal, Poppy Sovia, Francine Roosenda, Cathy Sharon, Desta Club 80’s, Sujiwo Tejo

Sutradara : Monty Tiwa
Penulis : Monty Tiwa
Moviesta Writing Team

Produser :
Chand Parwez Servia

Produksi :
Starvision Plus

Siaga Film: Laskar Pelangi

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya...
(Laskar Pelangi - Nidji )

Itulah beberapa bait lirik lagunya Nidji yang bakal menghiasi soundtrack film Indonesia yang bener bener patut diwaspadai alias disiagai jadwal edarnya yang kalo ga berubah tanggal 25 September nanti yaitu “Laskar Pelangi.” Satu calon film berkualitas yang akan mewarnai libur hari Lebaran tahun ini, diangkat dari karya tulis best seller dan fenomenal dari Andrea Hirata, penulis asal Belitung yang telah terjual lebih dari 500.000 kopi di Indonesia, sesuatu hasil yang cuma berada satu tinggkat dibawah penjualan satu novel lain yang juga telah diangkat ke layar lebar terlebih dahulu yaitu “Ayat Ayat Cinta”. Menurut pandangan gue saat pertama kali melihat preview film ini adalah, “Laskar Pelangi” adalah sebuah film tentang kaum minoritas yang bakal dibungkus dalam kemajoritasan ide cerita, akting dan tata sinematografi. Diproduksi oleh Miles Films milik Mira Lesmana yang kembali bekerja sama dengan sutradara Riri Riza yang juga sedang mengerjakan film terbarunya Dian Sastro dan Nicholas Saputra, “Drupadi”. Buku Laskar Pelangi sanggup membuat kita tiba-tiba merasa bangga jadi orang Indonesia dan memompa semangat serta optimisme kebangsaan, dengan hadirnya karakter anak-anak Laskar Pelangi, Ibu Muslimah dan Bapak Harfan," ucap Mira Lesmana selaku Produser film ini. Selaku sutradara film Laskar Pelangi, Riri Riza mengungkapkan: "Laskar Pelangi memiliki cerita yang unik dan penuh dinamika dengan hadirnya 10 siswa dengan kararkter yang sangat kuat dan seorang guru ambisius yang mempunyai cita-cita besar dan luhur. Dan Andrea Hirata adalah faktor yang sangat penting kenapa kami ingin memfilmkan buku Laskar Pelangi ini. Saat pertama kali ketemu dengan Andrea, ada antusiasme yang terlihat di dirinya. Bertemu Andrea Hirata seperti melihat matahari yang bersinar keras sekali dan sangat inspiring." Proses syuting yang dimulai sejak bulan Mei 2008 kemarin mengambil lokasi 100 % di pulau Belitung, yang terletak di propinsi kepulauan Bangka-Belitung. Maka jangan heran kalau kita bakalan disuguhin pemandangan pemandangan nan indah yang sangat memanjakan mata disini. Dari mulai pantai biru berpasir putih bak salju, bebatuan karang besar yang khas dan indah juga panorama matahari terbenam yang romantis, yang kesemuanya itu seakan mengembalikan memori masa masa kecil saya sendiri saat masih di Bangka yang mempunyai pemandangan pantai seindah Belitung.Andrea Hirata Seman Said Harun adalah nama lengkap penulis cerita yang sangat menginspirasi ini, sementara “Laskar Pelangi” sendiri adalah novel pertama yang dibuatnya dalam tetralogi novelnya yang juga termasuk 3 judul lainnya yaitu “Sang Pemimpi”, “Edensor” dan “Maryamah Karpov”.
Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.
Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!
Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini!Untuk mencari pemeran tokoh-tokoh anggota Laskar Pelangi, Riri Riza melakukan casting di daerah Belitung dengan menggunakan pemeran-pemeran lokal dalam pembuatan film. "Dalam proses pembuatan film ini hampir 100% pengambilan gambar dan syuting dilakukan di Belitong. Dan satu hal yang cukup istimewa di film ini, 12 orang pemain, 10 Laskar Pelangi dengan dua karakter pelengkap yang memerankan Flo dan A Ling, semuanya asli dari Belitong," cerita Mira, antusias. Adapun keinginan Rira dan Mira untuk menampilkan anak-anak asli Belitong agar chemistry antara cerita dan para pemain muncul secara real dan natural. "Sejak awal kami memang tidak terpikirkan untuk menggunakan pemain di luar kota Belitong untuk tokoh-tokoh anak Laskar Pelangi. Jadi proses hunting dan casting pemain pun sudah kami lakukan sejak awal persiapan produksi," ujar Riri. "Meskipun anak-anak ini belum berpengalaman dan awam dengan dunia akting, tapi mereka ini adalah anak-anak yang sangat berbakat, punya keberanian, mau mencoba, dan yang terpenting, mereka bisa mempresentasikan tokoh-tokoh utama di film ini," lanjut Mira. Setelah menjalani proses hunting dan casting di Belitong, akhirnya terpilih juga 12 orang pelajar Belitong yang akan memerankan karakter Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, dan A Ling.
Meski begitu, bukan berarti Mira luput menampilkan para pemain profesional. 12 nama aktor profesional pun turut tampil meramaikan film ini, seperti Cut Mini, Ikranegara, Lukman Sardi, Ario Bayu, Tora Sudiro, Slamet Raharjo, Alex Komang, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Robbie Tumewu, Jajang C. Noer, dan Teuku Rifnu Wikana .
Cut Mini yang memerankan Ibu Muslimah dalam film ini mengaku perannya di film kali ini memberikan kesan yang sangat mendalam. ” Saya sering merasa ingin kembali ke Belitong,” kata Cut Mini yang masih sering menitikan air mata, saat kembali melihat adegan-adegannya di film tersebut.
Bagi Andrea Hirata film ini merupakan satu kebanggaan dan cara untuk mewujudkan keinginannya mendekatkan Belitong pada kemajuan. ”Saya berharap anak-anak Belitong berani bermimpi. Lihat sekarang, siapa sangka Zulfany yang hanya anak tukang jam kaki lima, hari ini bisa menjadi aktor,” kata Andrea Hirata yang tampil menemani Zulfany, pemeran ikal alias Andrea di masa kecil dalam film Laskar pelangi.

Kekaguman pada novel Laskar Pelangi juga datang dari vokalis salah satu grup band terpopuler di Indonesia yaitu Nidji. Ia langsung bermimpi membuat soundtrack filmya dan untungnya Mira Lesmana menelpon dan menawarkannya. Wuih, tanpa pikir panjang, Giring langsung menerimanya. Giring pun menciptakan lagu yang berbeda. "Sebelum mbak Mira ngajak kerjasama nulis theme song Laskar Pelangi, Gue sudah lebih dulu membaca novelnya yang dikasih sama mama. Jujur, ceritanya dahsyat. Dalam perjalanan tour luar kota, masih pagi-pagi buta, gue bilang sama teman-teman Nidji. Mereka pun terkesima, "kata Giring. Giring langsung menegaskan kepada teman-teman Nidjinya. "Pokoknya, jika ada orang yang nawarin bikin theme song Laskar Pelangi,tawaran itu harus langsung kita ambil. Pasti hasilnya bakalan bagus dan keren." Maklum. Isi kepala Giring sudah dipenuhi bayangan seperti apa lirik dan melodi lagunya. Tetap ada warna urban music ala Nidji, tapi minimalis hanya dengan menggunakan banyak gitar akustik.
Musisi lain yang juga terlibat dalam album soundtrack film ini adalah Netral, Garasi, Gita Gutawa, Gugun & The Blues Bug, Sherina, Ipang, dan Meng Float.
Jadi, “Laskar Pelangi” memang punya potensi untuk jadi salah satu film bersejarah di Indonesia berikutnya dan moga moga film ini bakal mencapai hasil sebaik novelnya dan menjadi film Indonesia terlaris berikutnya setelah “Ayat Ayat Cinta”. (JC)

(Bahan2 dan Foto: Laskar Pelangi Official Site, Official Blog)

Tipu Kanan Tipu Kiri Tapi Jangan Ampe Kena Tipu

Setelah lama muncul issue kalau Titi Kamal bakal acting bareng dengan her real-life boyfriend Christian Sugiono dalam satu film layar lebar. Akhirnya di bulan Ramadhan ini, terbukti juga kabar itu dengan beredarnya sang film yaitu “Tipu Kanan Tipu Kiri”, sebuah komedi yang maunya romantis dengan ditambah sedikit cita rasa khas India dan Malaysia didalamnya. Diproduksi oleh rumah produksi asal Malaysia dan Indonesia yaitu Tarantella Pictures (yang juga pernah memproduksi film “Diva”) dan Nusantara Films Sdn Bhd yang merupakan anak perusahaan dari Astro Shaw. Dengan melibatkan pemain dari dua negara serumpun ini dan sutradara, sinematograper dan krew teknik dari India, film ini selain di Indonesia juga akan ditayangkan di Malaysia, Singapore, Brunei dan India tentunya. Sutradaranya sendiri sebenarnya udah ga terlalu asing bagi para pecinta sinetron di Indonesia yaitu Sharad Sharan, yang dulu sering sekali muncul di produksi produksi sinetron-nya Multivision Plus. Kru yang terlibat dari film ini terutama dari industri film India, Bollywood. Seperti sinematorafer (kameramen) Santosh Thundiyil, yang pernah telibat dalam produksi 1998 box office hit Kuch Kuch Hota Hai dan film hit Krrish (2006). Selain itu juga koreografer Caesar Gonsalves dari India yang pernah bekerja dalam film seperti Kuch Naa Kaho, Munnabhai MBBS dan mengarahi tari Aishwarya Rai and Abhishek Bachchan. Soundtrack dalam film ini dikerjakan oleh Naresh Sharma, adik dari pengarah musik ternama Pyarelal dan telah mengerjakan musik untuk lebih dari 250 film. Tapi apakah dengan tangan tangan ahli dari India itu, film ini mampu tampil beda dari semua film komedi produksi Indonesia selama ini?

Berikut sedikit sinopsis lengkap filmnya: Film ini bercerita tentang seorang superstar Wulan yang tidak diperbolehkan menikah selama masih terikat dalam kontrak dengan perusahaan rekamannya. Tapi Wulan ternyata sebenarnya sudah menikah dengan Rudy tapi pernikahannya menjadi rahasia selama bertahun-tahun. Wulan adalah tipe wanita yang sangat posesif dan sangat sulit baginya untuk meninggalkan suaminya meskipun sebentar saja untuk konser. Suatu hari Rudy dipindah-tugaskan ke Kuala Lumpur, Malaysia dan di kantor barunya tersebut akan mengadakan pesta penyambutan dirinya, dimana dia diminta oleh Remo, bossnya untuk membawa serta istrinya ke pesta penyambutan itu. Tapi karena Rudy tidak mungkin membawa Wulan, karena akan dikenal oleh semua orang disitu. Rudy kehilangan akal, tapi berkat bantuan rekan kantornya, Mr.Fix yang menyuruh Rudy untuk menyewa perempuan lain yang akan berpura-pura sebagai istri Rudy. Akhirnya Rudy pun bertemu dengan Sara, penyanyi klub lokal yang disewanya untuk menjadi istri semalam di pesta boss Remo. Hal ini tentunya tanpa sepengetahuan Wulan. Ternyata di pesta malam itu Sara menjadi bintang. Wajahnya yang cantik dan suaranya yang merdu ketika bernyanyi secara spontan membuat Remo senang terhadapnya, dan hal ini membuat Lina, istri Remo menjadi berang dan merasa Remo menggoda Sara. Pesta malam itu telah selesai dan Rudy kembali ke apartemennya. Tetapi ternyata Wulan sudah ada di sana dulu, dia membuat kejutan kepada Rudy, bahwa dia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, jadinya bisa kembali awal dan bertemu dengan suami tercintanya lagi. Dan juga Wulan telah bilang kepada kakaknya, Indrayiti untuk ‘menjaga rumah’ selama Wulan dan Rudy sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rudy pun tersinggung, dan merasa bahwa Indrayiti datang bukan untuk menjaga rumah, tetapi untuk memata-matai gerak-gerik Rudy selama Wulan tidak di rumah. Akhirnya mereka bertengkar sampai Wulan nangis. Rudy pun hatinya luluh kembali dan secara spontan menyanyikan lagu yang dinyanyikan Sara dalam pesta malam itu. Wulan sangat suka dengan lagu itu dan berkata bahwa dia akan menyanyikannya dalam konser berikutnya. Rudy panik. Keesokan harinya, seisi kantor gempar dan terpesona dengan ‘istri Tuan Rudy’ Sara. Remo berkata bahwa Sara bernyanyi lebih bagus dari Wulan si superstar. Remo kembali mengundang Rudy dan Sara untuk makan malam di rumahnya, untuk menjelaskan kepada Lina, bahwa malam itu Remo tidak menggoda Sara. Rudy pun tidak bisa menolaknya karena itu adalah perintah langsung dari Lina, istri Boss, bahkan Remo sang suaminya sendiri tidak bisa untuk berkata TIDAK kepada istrinya. Akhirnya Rudy harus kembali menyewa Sara. Keadaan makin kacau karena Wulan sedang mau ada show, sedangkan Indrayiti, kakak Wulan akan datang dan Rudy yang harus menjemputnya di airport.

Jujur, menurut gue film ini hanya terasa seperti salah satu episode sinetron atau sebuah komedi India biasa. Akting dan cerita yang luar biasa klise seperti ini tampaknya lebih cocok untuk diputar di layar televisi aja daripada kita nikmati dalam bentuk layar lebar seperti ini. Christian dan Titi juga ga bisa berbuat banyak dengan akting mereka, apalagi dengan skenario yang cuma bisa buat having fun aja dan tidak ada ruang untuk menampilkan akting serius yang pantas untuk dikenang. Yah, bagi yang cuma nonton buat having fun dan ketawa ketiwi (yang sebenernya juga ga lucu lucu amat disini), dan yang juga masih belum bosen setelah disuguhin berondongan film komedi tanggung akhir akhir ini, film ini masih layak untuk dinikmati abis buka puasa. Tapi, bagi yang suka film yang lebih berkualitas dan punya sesuatu yang bisa dan layak dijadikan bahan diskusi dan pemikiran, ga usah buang buang waktu deh duduk di dalam ruang sineplek sambil liat gaya Titi Kamal akting sebagai penyanyi untuk kedua kalinya disini. (JC)

Produksi : Tarantella Pictures
Pemain : Christian Sugiono, Titi Kamal, Hans Isaac, Catherine Wilson, Azwar Ali
Sutradara/Produser : Sharad Sharan
Penulis : Vikram Sood
Jenis Film : Comedy

(Sumber : Tipu Kanan Tipu Kiri Official Site, Wikipedia)

Siaga Film: Quantum of Solace

Film Agen rahasia terpopuler sedunia, James Bond sebelumnya yaitu “Casino Royale” adalah perjudian terbesar disepanjang sejarah film ini. Dengan pemeran Bond baru yang membawa karakteristik yang sangat berbeda dan lebih fresh dari film film sebelumnya, Daniel Craig pada awalnya mungkin sangat dipandang sebelah mata oleh setiap orang tapi apa yang terjadi kemudian adalah, “Casino Royale” menjadi sequel agen 007 dengan hasil pendapatan tertinggi alias terlaris sepanjang masa. Lantas bagaimana dengan kelanjutan serial ini? Tentunya target yang telah dicapai oleh film sebelumnya mau tidak mau adalah beban yang lumayan berat yang harus mampu disetarai ataupun dilewati oleh sequel terbaru ini, petualangan Bond yang ke 22 di layar lebar, “Quantum of Solace”.
Di siaga film kali ini, saya coba membahas film Bond terbaru ini yang memang harus disiagai dan diwaspadai jadwal tayangnya yaitu 5 November nanti di Indonesia (Moga moga ga diundurin!). Kita mulai dari judulnya kali ini, sepintas kalau didengar sih “Quantum of Solace” lumayan keren, tapi apa maksudnya menamai film Bond terbaru dengan judul ini yah? Judul ini sama sekali ga tercantum dalam salah satupun buku resmi Bond karangan Ian Fleming yang pernah beredar. Mungkin judul ini didapat dari kumpulan cerita pendek yang pernah dibuat oleh Fleming, tapi cerita pendek yang memakai judul inipun sama sekali bukan inti cerita film ini karena plot film ini sendiri sama sekali baru dan sebuah hasil karya original dari para penulis skrip. Tapi sebenarnya ngapain juga dipermasalahin yah? Setelah Bond sebelumnya sudah membuat gebrakan dengan tampilan Bond baru yang lebih radikal, ga ada salahnya juga kan kalo para pembuat film ini coba menggunakan judul yang sama sekali ga ada hubungannya dengan novel novel Bond yang telah beredar. Tul ga?

Beralih ke bahasan yang lain, Film Bond terbaru ini juga akan mempersembahkan sesuatu yang lain dari franchise Bond sebelumnya yaitu, “Quantum” adalah kelanjutan langsung dari film sebelumnya yaitu “Casino Royale” dan bukan sebuah episode tersendiri seperti petualangan petualangan agen flamboyan ini terdahulu. Plotnya akan dimulai dari satu jam setelah berakhirnya “Casino”, yaitu dimana Bond berkonfrontasi dengan Mr. White, salah seorang yang bertanggung jawab atas kematian wanita yang sangat dicintainya, Vesper Lynd. Lewat White inilah, Bond akan mengenal lebih dekat sebuah organisasi rahasia yang telah memeras Vesper dulu. Intel forensik juga melacak adanya seorang pengkhianat di tubuh MI6 hingga sebuah kasus salah identitas mempertemukan Bond dengan Camille, seorang wanita dengan masalah dendam pribadinya sendiri. Camille jugalah yang kemudian memperkenalkan Bond dengan Dominic Greene, seorang pebisnis kejam dan salah satu kekuatan utama dalam organisasi rahasia tadi. Lewat petualangan yang membawanya dari Austria, Italy hingga ke Amerika selatan, Bond harus mengungkapkan segala kepicikan Dominic dan organisasi yang berada dibaliknya. Misi Bond bukan lagi misi mata mata biasa tapi sudah semakin kepada masalah pribadi, karena dia harus menemukan dedengkot dibalik pengkhianatan wanita yang sangat dicintainya, Vesper. Tapi selama film Bond tetap menjadikan jualan utamanya aksi aksi menegangkan yang seru abis, kejar kejaran mobil tingkat tinggi, permainan kartu yang mengasikkan dan tentunya cewek cewek manis yang aduhai dan seksi. Plot itu sendiri hanya sebagai bingkai dari semua aksi menegangkan Bond tadi.

Setelah Vesper diceritakan meninggal di film sebelumnya dan ga mungkin lagi buat kita menikmati kecantikan nan eksotis milik Eva Green. Bond baru ini menawarkan pesona yang tak kalah menggiurkan dari aktris dan model asal Ukraina Olga Kurylenko sebagai Camille, seorang mata mata Rusia-Bolivia yang diceritakan berseteru pada awalnya namun ujung ujungnya (tueteep) jadi pendamping Bond dalam setiap aksinya di luar maupun di dalam kamar. Ada juga aktris asal Inggris Gemma Artenton sebagai salah satu pemanis dari keagenan MI6.

Skrip kali ini masih tetap digarap oleh tim yang sama yang membuat “Casino Royale” kemarin, tapi satu hal yang cukup menarik adalah sutradaranya Casino yaitu Martin Campbell yang telah dua kali menyutradarai film Bond tidak akan kembali di sequel terbaru ini, dan posisinya digantikan oleh sutradara asal Swiss, Marc Forster yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pembuat film drama seperti “Finding Neverland” dan “Monster’s Ball” yang pernah masuk jajaran film terbaik di kompetisi Oscar. Walaupun pemilihan Forster cukup bikin garuk kepala karena sutradara ini sama sekali belum pernah megang film sekelas aksi Bond begini, moga moga lewat pengalamannya menyutradarai drama drama berkelas tadi, Forster mampu memberi sentuhan yang lebih berwarna di Bond baru ini.
Jadi, apa lagi yang bisa kita harapkan di film Bond terbaru ini? Well, dijanjikan sih film ini bakal menyajikan adegan action khas Bond yang suka muncul sebelum opening credits sebagai adegan action terpanjang dalam sejarah film Bond. Katanya sih durasinya hampir mencapai 30 menit dan melibatkan pertarungan di udara dengan menggunakan helicopter dan jet Harrier. Film ini juga akan mempertontonkan berbagai gadget canggih andalan Bond yang lumayan absent dan ga terlalu banyak ditampilkan di “Casino”. Daniel Craig juga akan tetap menampilkan sosok Bond yang keras dan garang, si susah diatur yang bakal membuat hubungannya dengan M agak agak bersitegang.
Sekarang tinggal kita menunggu hasilnya November nanti, mampukah film ini menyetarai bahkan mengungguli performa luar biasa “Casino Royale” sebelumnya? Coba cek dulu trailernya dibawah ini yang menurut gue sih tampaknya filmnya masih berpeluang besar untuk sukses dengan tampilan adegan adegan aksi yang super seru dan tata kamera canggih yang menampilkannya dengan sangat baik. Pokoke Bond baru dijamin seru... (JC)

"Quantum of Solace" Trailer:


GALERI FOTO:


powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme