The Curious Case of Benjamin Button: Drama Unik dan Menyentuh

“Saya lahir dalam keadaan yang sangat amat tidak biasa.” Dengan itu dimulailah “The Curious Case of Benjamin Button” yang diadaptasi dari cerita pendek karya F.Scott Fitzgerald tentang seorang pria yang lahir dalam kondisi seseorang yang telah berumur delapan puluh tahun namun seiring pertumbuhannya, kondisi fisiknya terus berjalan terbalik dari orang kebanyakan, dari tua ke muda. Berlatar belakang kota New Orleans pada masa berakhirnya perang dunia pertama di tahun 1918, hingga berlanjut menuju dimulainya abad ke 21, kita akan mengikuti perjalanan hidup dan cinta pria yang sangat istimewa ini. Disutradarai oleh David Fincher, maestro film2 thriller yang telah melahirkan “Seven” dan “Fight Club” yang juga dibintangi oleh aktor utama film ini yaitu Brad Pitt. “Benjamin Button” adalah cerita luar biasa tentang pria luar biasa berikut orang2 dan tempat2 yang ditemuinya sepanjang perjalanannya, cinta yang singgah dalam hidupnya, kebahagiaan hidup hingga kedukaan karena ditinggalkan oleh yang tercinta, dan juga apa yang menantinya di penghujung hari nanti.

Menyabet nominasi Oscar tahun ini sebanyak 13 buah. Pertanyaan pertama yang keluar adalah apakah film ini memang “sebagus” itu? Tapi setelah menyaksikannya sendiri, gue hanya menemukan dua kategori saja yang mungkin bakal menjadi kelemahannya dalam merebut piala Oscar, yaitu untuk kategori Editing Terbaik dan Naskah Adaptasi Terbaik.

Walaupun menyatakan diri adaptasi dari cerpen milik sastrawan terkenal F.Scott Fitzgerald, namun versi film ini sebenarnya punya banyak perbedaan kecuali tentunya ide tentang perjalanan umur yang terbalik tadi dan juga nama tokoh utamanya, Benjamin Button. Ide dasarnya tadi mungkin bisa dibilang tidak begitu sinematik, tetapi lewat tangan sang penulis naskah Eric Roth, dia mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah karya layar lebar yang bisa jadi hampir mirip dengan karya sebelumnya yang telah memberinya sebuah piala Oscar dalam kategori Naskah Adaptasi Terbaik yaitu “Forrest Gump.”
Ada banyak elemen dalam film ini yang mendukung kemiripan itu yaitu keunikan kondisi fisik sang tokoh utama, perjalanan hidup mereka yang luar biasa, dan juga perjuangan mereka dalam menemukan sang cinta abadi.

Meskipun sangat berasa “Forrest Gump”-nya tadi, ada pula momen2 dimana “Button” memiliki kelebihannya sendiri. Dan proses perjalanan umur Benjamin Button yang terbalik itulah yang paling menonjol disini, dikombinasikan pula oleh akting Brad Pitt yang sangat baik sekali dalam mewujudkan tokoh ini. Visual efek yang menawan juga tentunya tata make-up yang menjadikan semua pemeran disini tampil begitu meyakinkan. Menyaksikan penampilan Benjamin Button dari bentuk tua hingga ke mudanya benar2 menimbulkan decak kagum pada hasil kinerja para tim sukses film ini yang telah berhasil mewujudkan karya layar lebar ini.

Penyutradaraan David Fincher pada film ini bisa dibilang nyaris sempurna. Semoga film ini bisa memberikan Fincher penghargaan yang layaknya ia terima. Akting para aktornya juga sangat bersinar disini, akting Brad Pitt sendiri mungkin adalah penampilan terbaiknya. Sangat realistik dan menyentuh, nuansa yang dihadirkannya lewat karakter ini walaupun dibalik make-up tebal dan efek visual canggih untuk menyajikan kondisi fisiknya, tetap Pitt yang membuat tokoh Benjamin begitu unik untuk disaksikan. Aktris kualitas Oscar Cate Blanchet juga tampil maksimal seperti biasanya, dia mampu menyeimbangkan penampilannya dengan Pitt disini.

Tapi ada beberapa hal yang kurang bisa menyamahi kualitas “Forrest Gump,” “Button” sedikit bermasalah pada faktor editingnya dalam menciptakan beberapa plot yang cukup ganjil dan imajinatif – baik di plot utama ataupun sub plotnya – untuk membentuk sebuah alur cerita yang baik dan memikat disini. Meskipun editing film ini tetap menghadirkan sebuah gambaran yang indah pada ceritanya tapi masih tetap terasa ada beberapa hal yang kosong didalamnya.

Dalam caranya sendiri, “The Curious Case of Benjamin Button” menghadirkan versi “Forrest Gump”nya untuk penonton masa kini. Film ini melukiskan kanvas yang begitu indah tentang arti keberadaan kita di dunia ini dan juga definisi tentang cinta sejati lewat pandangan seorang individu yang sangat spesial. (JC)

Point: 8 bintang dari 10 (Sangat direkomendasikan sebagai sebuah drama cinta berkualitas dan unik di hari Valentine ini !!)

Jagad X Code

jagadxcode_buayafilm
Kalau bikin film yang pasti harus bikin judul yang unik dulu. Salah satu contohnya, yah film yang akan dibahas kali ini. Lantaran salah satu protagonisnya bernama Jagad yang tinggal di kali Code, bolehlah jika judulnya menjadi Jagad Kali Code. Biar sedikit unik ditulisnya Jagad X Code. Sebagai pemeran Jagad ditunjuk Ringgo Agus Rahman. Dia tidak sendiri, ada dua cowok yang lain dari kasta yang serupa dengannya menjadi sohibnya sehari-hari. Mereka adalah Bayu (Mario Irwiensyah) dan Gareng (Opie Bahtiar) . Mereka hanya masyarakat marginal yang bermimpi untuk hidup bahagia. Sehari-harinya mungkin mereka masih bisa bahagia lantaran mereka berdomisili dalam komunitas yang guyub dan akrab satu sama lain.

Tiga anak muda pengangguran ini berusaha mewujudkan keinginannya masing-masing. Jagad ingin membelikan mesin cuci bagi ibunya, Bayu ingin mempunyai sendiri lapak jualan buku dan majalah, sementara Gareng ingin membuat salon kecil buat Menik adiknya.

Keinginannya tersebut terbentur masalah dana. Mereka bertiga tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Akan tetapi, sebuah pertemuan yang tidak sengaja dengan tokoh preman bernama Semsar ( Tio Pakusadewo) seakan akan akan merubah semuanya. Mereka dijanjikan akan mendapatkan uang sebanyak tiga puluh juta jika mampu menemukan sebuah benda yang bernama flashdisk. Tetapi karena kesenjangan tehnologi, mereka bertiga tidak tahu apa itu flashdisk. Pun ketika mereka mencoba bertanya pada orang di sekitar mereka. Tidak seorang pun yang mengerti flasdisk itu apa.



Ketika flashdisk ditemukan, barulah mereka mengerti kenapa benda kecil itu dicari oleh banyak pihak. Benda itu memuat rahasia korupsi yang melibatkan banyak pihak, termasuk ayah Regina (Tika Putri), sahabat mereka bertiga. Akhirnya mereka memutuskan untuk melupakan benda kecil tersebut atas nama kejujuran dan persahabatan. Meskipun konsekwensinya, mereka tidak mendapatkan uang tiga puluh juta.

Tentu ada alasan penting sehingga Kali Code dipilih jadi lokasi syuting. Kali Code yang memanjang dari ujung Merapi hingga tengah kota Jogja adalah ikon yang pas untuk menggambarkan local wisdom (kearifan lokal) Jogja. Kali Code juga dianggap bias memaparkan dengan baik hubungan sosial masyarakat dengan lingkungan. Kawasan Kali Code yang dibangun Romo Mangun tak ayal menjadi ikon di komunitas internasional. Bahkan buah pikir sang Romo yang arsitek ini membuat konsep penataan kawasan Kali Code mendapatkan penghargaan arsitektur bergengsi, Agha Khan Award.

Pertimbangan lokasi Kali Code juga mengingatkan masyarakat akan perkampungan ini yang dijadikan oleh budayawan Romo Mangun sebagai contoh konsep perbaikan kampung. Setelah meninggalnya Romo Mangun, Kampung Code saat ini dikelola oleh warga sendiri, termasuk rencana untuk membuat sebuah museum Romo Mangun yang sekarang sudah berdiri tepat di ujung selatan perkampungan ini.

Kali Code sendiri adalah sebuah daerah yang dikenal dengan daerahnya sangat bersih dan orang-orang yang ada di dalamnya memiliki nilai seni yang tinggi.Tak heran, Rinngo punya kesan sendiri terhadap Kali Code. ”Gue kaget banget disitu benar-benar bersih, dan engga ada puntung rokok sedikit pun. Gue jadi takut buang sampah sembarangan,” ujar Ringgo yang juga bermain dalam film Kalau Cinta Jangan Cengeng.

By the way, bagaimana yah Rinngo jadi orang Jawa, padahal selama ini dia dikenal dengan logat Sundanya ?

Maka, Ringgo butuh latihan serius untuk menjadi orang Jawa dalam film ini. ”Sebulan penuh gue belajar bahasa Jawa, di luar syuting gue juga ngebiasain pake bahasa Jawa,” ujar Ringgo. Meski begitu, diakuinya tetap saja”kecepelosan” mengucapkan bahasa Sunda.”Gue sampai dijewer sama sutradara, karena gue kelepasan ngomong Sunda,” lanjut kekasih dari Revalina S Temat ini.

Pada awalnya Ringgo tidak mengetahui kalau perannya dalam film arahan Herwin Novianto ini sebagai orang Jawa.”Yang pertama kali itu setahu gue perannya jadi orang Sukabumi jadi gue pikir nyantai aja, tapi ternyata berubah,” ungkap Ringgo.”Bahasa Sunda dan Jawa itu kan sangat berbanding terbalik, jadi kalau hasilnya banyak kurangnya tapi gue udah berusaha maksimal,” lanjut Ringgo yang juga bermain dalam film Si Jago Merah.

Setiap film pasti membawa pesan yang tersirat. Pesan yang disampaikan film ini seperti tentang Masih ada nilai-nilai kejujuran yang coba diucapkan sambil lalu. Tidak harus menguliahi secara hitam putih, cukup memberi keteladanan. Kepolosan komunitas masyarakat kelas bawah dalam menyikapi pesatnya teknologi yang tak mampu mereka beli. Ketidaktahuan Jagad dan kawan-kawannya bahkan menjadi sumber dari konflik tersebut. Gagap teknologi macam ini sebenarnya bisa terjadi dimana saja, namun tidak selalu menjadi sumber konflik yang dahsyat macam yang ditunjukkan dalam film ini.

Tetapi sayangnya, biar Rinngo udah main dibanyak film tetapi aktingnya biasa aja sama aja kaya di film - film sebelumnya. Justru yang menonjol adalah akting penjahatnya (Tio Pakusadewo), maklumlah aktor senior.

Warna gambar difilm ini didominasi warna - warna sephia yang membuat film ini seperti film komedi 80 - an yang nyaman dimata.

Film JAGADXCODE menjadi jawaban atas dahaga penonton yang rindu pada Yogya. Film ini juga menjadi momentum untuk berpaling ke daerah yang ternyata punya banyak sisi yang tak kalah menariknya ketika diangkat ke layar lebar(for exp : film Denias dan Laskar Pelangi). Asal bikin filmnya gak asal dan ikutan – ikutan.



dibintangi oleh
ringgo agus RAHMAN
mario IRWIENSYAH
opi BACHTIAR
tika PUTRI
tio PAKUSADEWO

didukung oleh
ray SAHETAPY
ully ARTHA
feby FEBIOLA
tino SAROENGALLO
destaCLUB 80’S
butet KARTAREDJASA
djaduk FERIANTO
yati PESEK
didik nini THOWOK
MARWOTO
yusie AMOR

Sutradara
Herwin Novianto

Skenario
ARMANTONO

sinematografi
roy LOLANG

artistik
timothy d SETYANTO

penyunting
cesa david LUCKMANSYAH

tata suara
adityawan SUSANTO

tata musik
djaduk FERIANTO

produser
leni LOLANG


Ketika Horor Indonesia Mati Suri

Jikalau mau mengharap genre horor di Indonesia mati suri, mungkin blum waktunya kali yee... Secara, makin banyak aja tuh film2 sejenis yang kian getol mengisi perwajahan pita seluloid negeri ini. Antara bulan Februari s.d Maret ini aja udah terdaftar empat buah judul di direktorinya Cineplek 21 yang siap beredar. Masih tetap dihantui oleh karakter favorit genre ini dalam "Kuntilanak Beranak" dan "Kuntilanak Kamar Mayat," ada juga yang judulnya "Hantu Biang Kerok" yang kayaknya ikutan diracik dengan bumbu komedi. Denger judulnya aja udah bikin pusing apalagi pas ngeliat trailernya yang udah ngilangin selera karena yah gitu2 aja, gak ada bedanya, alias basi abieess...... Cuma kasih judul baru, kasih tampang artis baru (ada juga yang masih make langganan horor masa kini kaya Ju-Pe yang sepertinya mau mengganti popularitas Suzanna sebagai juragan horor Indonesia), formula dan kemasan horornya yah tetap itu2 aja yang diulang ratusan kali sekalian dimasukin adegan2 sensual biar lumayan ngilangin ngantuk.

Dan diluar dari tiga judul diatas, untunglah ternyata ada satu judul yang kayanya cukup layak untuk diperbincangkan lebih lanjut yaitu karya terbaru Rizal Mantovani, yang sebelumnya menurut gue cukup berhasil membawa warna lain dalam genre ini lewat karya debut horornya "Kuntilanak" walaupun dua film lanjutannya bisa dibilang ga terlalu menarik lagi alias cuma mengulangi formulasi lama aja. Film terbarunya yang bentar lagi bakal beredar ini diberi judul "Mati Suri." Ditilik dari trailernya bisa dibilang cukup lumayanlah, mudah2an Rizal bisa melanjutkan kepiawaiannya dalam meracik adegan horor yang lain dari yang lain disini. Si peramal laris Mama Laurent aja sampe diajak untuk promosi film ini, seperti yang bisa dilihat dalam trailernya dimana sang mama sedikit membagi pengalamannya sendiri yang mungkin dan bisa jadi adalah apa yang menjadi pedoman pembuatan cerita film horor ini. Yang cukup lain juga adalah poster filmnya sendiri yang digarap cukup serius dan unik, walaupun menurut gue masih rada mirip ide poster film horor luar yaitu "Pathology" dan "Shrooms." (Sebagai bahan perbandingan berikut gue lampirin dua poster yang dimaksud.)


Tetap memakai wajah blasteran sebagai tokoh utama filmnya ini, bila sebelumnya Rizal mempercayakan Julie Estelle dalam "Kuntilanak," sekarang giliran mantan Putri Indonesia tahun 2005 Nadine Chandrawinata untuk beraksi jerit2an ria di film baru ini. Berikut sinopsis dari film yang diproduksi oleh rumah produksi Maxima Pictures:
Menjelang pernikahan Abel (Nadine Chandrawinata) dan Wisnu (Yama Carlos - Pencarian Terakhir), seorang perempuan hamil mengaku pada Abel bahwa anak yang dia kandung sekarang adalah anak Wisnu dan memohon pada Abel untuk membatalkan pernikahannya, jika tidak, maka dia akan mengacaukan pernikahan mereka. Merasa frustasi, Abel memutuskan untuk bunuh diri. Beruntung, nyawa Abel masih sempat terselamatkan. Namun sejak saat itu Abel mulai mengalami berbagai peristiwa aneh dalam hidupnya. Ketika dia memutuskan untuk menenangkan diri di Villa sahabatnya, Charlie (Keith Foo), semua kejadian aneh tersebut mulai mengancam hidupnya dan satu-satunya cara untuk selamat, hanyalah jika Abel memilih untuk mati sekali lagi.

Behind the Scenes:
- Ada satu pengalaman unik yang menimpa Nadine di lokasi syuting film ini seperti yang dituturkannya berikut, ”Barang-barangku sempat ada yang hilang, tapi setelah syuting sudah kembali lagi,”. Syuting film ini sendiri berlangsung di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Nadine menambahkan benda yang dimaksud nilainya memang tidak terlalu mahal, hanya pernik asesoris, namun tetap saja membuatnya penasaran. ”Ketemunya sih di kamar atas, padahal saya hanya dua kali masuk ke sana,” ceritanya lagi dengan nada serius. Pengalaman gaib macam ini ternyata bukan persoalan besar baginya. Pasalnya, bagian yang dianggapnya berat itu justru malah pengalaman fisik. ”Saya nyemplung kolam renang jam 3 pagi,” ucap dara kelahiran Hannover, 8 Mei 1984 ini menggambarkan. Tak urung, fisiknya sempat drop di lokasi syuting, begitu menurutnya.

- Demi totalitas peran, Nadine melakukan observasi. Perempuan yang mewakili Indonesia di ajang Miss Universe itu mewawancarai orang-orang yang pernah merasakan mati suri. Ia mewawancarai empat orang teman. Dari situ kemudian Nadine menyempurnakan aktingnya.

Data2:
Pemain: Nadine Chandrawinata, Yama Carlos, Tyas Mirasih
Sutradara: Rizal Mantovani
Penulis: Ab Ac
Produksi: Maxima Pictures Dan Dreamscape Pictures
Homepage: http://www.matisuri.com
Durasi: 90 Min
(JC)

Siaga Film: G.I. Joe: The Rise of Cobra

Bagi penggemar serial kartun G.I. Joe ataupun pengoleksi kumpulan miniatur tokoh2 diserial ini pasti film terbaru yang merupakan hasil adaptasi bebas dari franchise mainan sukses "G.I. Joe: A Real American Hero" ini patut untuk ditunggu. Direncanakan untuk rilis tanggal 7 Agustus nanti, film baru ini merupakan hasil garapan sutradara yang sempat ternama saat menangani film petualangan-horor-komedi suksesnya Brendan Fraser "The Mummy" yaitu Stephen Sommers. G.I. Joe tentunya juga akan menampilkan barisan karakter yang sudah sangat dikenal dalam serial ini seperti Duke, Hawk, Snake Eyes dan lain2. Mengambil setting sepuluh tahun di masa yang akan datang, cerita film ini akan mengangkat tentang bangkitnya sebuah organisasi bernama Cobra yang pastinya akan menjadi lawan yang cukup tangguh bagi para jagoan kita di G.I Joe.

Film akan berfokus pada karakter Duke yang diperankan oleh bintang muda Hollywood yang lagi naik daun yaitu Channing Tatum (Step Up) dan pengenalan tokoh Ripcord (diperankan oleh Marlon Wayans, salah satu Wayans Brothers yang selama ini sering tampil dalam film2 komedi yang salah satunya adalah serial "Scary Movie") didalam tim G.I. Joe. Lokasi syutingnya tidak tanggung2, hampir diberbagai penjuru planet yang meliputi Artik, Paris, Moskow, Amerika, Australia hingga gurun Sahara yang hot namun eksotis. Menyaingi gurun Sahara yang hot, tentunya tidak kalah panasnya adalah dua bintang wanita yang bakal tampil disini yaitu Rachel Nichols sebagai salah satu anggota regu G.I. Joe, Scarlett, dan dari kubu lawan The Cobra yaitu si cantik namun mematikan Baroness Anastasia DeCobray aliaw The Baroness, yang diperani oleh bintang asal Inggris yang sudah tidak diragukan lagi keseksiannya, Sienna Miller.

So, dijamin film ini ga bakal tanggung2 bakal menjadi salah satu tontonan action paling mengasyikkan tahun ini. Berikut beberapa poster karakter yang cool banget yang telah diterbitkan untuk promosi film ini. Let's check it all out! (JC)

SEPULUH : Ari Wibowo Mencari Kesempurnaan Cinta

ariwibowo
Sepuluh adalah sebuah nilai kesempurnaan. Tetapi ternyata hidup tak harus sempurna untuk menemukan cinta yang sempurna. Pesan ini yang coba dituangkan sineas muda Henry Riady dalam karya perdananya yang bertajuk Sepuluh. Lebih jauh ia menambahkan bahwa kesempurnaan cinta, justru terletak pada keikhlasan serta tekad kita untuk berjuang dan bangkit dari keterpurukan dalam menjalani hidup yang jauh dari sempurna

Lewat mata kameranya, Henry memotret pergulatan hidup Yanti (Rachel Maryam) yang bekerja sebagai buruh cuci di perkampungan kumuh Jakarta, kehidupan anak jalanan dan dunia hitam. Sepuluh tahun lalu, Yanti masuk penjara akibat jebakan yang dipasang Aditya (Mario), suaminya yang juga seorang pecandu narkoba. Ini pukulan kedua yang harus diterima Yanti setelah Maria, putri semata wayang hilang bagai ditelan bumi.

Usai menjalani masa tahanan, Yanti berusaha membangun kembali hidupnya. Meski berusaha tegar, Yanti tidak bisa menghilangkan kenangan akan Maria. Kotak musik dan foto-foto Maria menjadi pilar bagi Yanti untuk melanjutkan hidup, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mongki (Yovana), gadis cilik yang dijadikan pengemis dan pengamen jalanan oleh Dargo (Agus Melasz), preman kelas kakap yang merajai kawasan itu.



Dekat dengan Mongki membuat Yanti sadar akan eksploitasi anak dan penjualan organ ilegal yang dilakukan Dargo. Karena satu per satu anak-anak jalanan menghilang tanpa jejak, Yanti mulai ketakutan Mongki akan menjadi korban selanjutnya. Ketakutan serupa juga menghantui Thomas (Ari Wibowo), mantan kekasih Yanti. David, anak tunggalnya menderita kelainan ginjal. Satu-satunya cara menyelamatkan David adalah dengan melakukan transplantasi ginjal. Donor ginjal yang diharapkan tak kunjung datang dan Thomas berperang dengan waktu.

Dalam kondisi putus asa, Thomas akhirnya mendatangi Dargo untuk mendapatkan ginjal sehat bagi David. Satu setengah milyar rupiah, harga yang harus dibayar Thomas untuk sebuah ginjal baru. Dargo memilih Mongki sebagai donor ginjal bagi David. Sebelum operasi dilakukan, sebuah rahasia masa lalu terbongkar. Sebuah pengorbanan dilakukan. Kesempurnaan cinta diwujudkan.




Dengan mengambil fenomena perdagangan organ ilegal dengan korban anak jalanan sebagai latar belakang cerita, Henry mengajak kita semua untuk sejenak merenungkan makna dari kata pengorbanan. Apakah selama ini kita telah cukup memberikan apa yang kita miliki kepada orang-orang di sekitar dengan tulus, terlebih kepada kelompok marginal yang sering kali kita lupakan. Inilah potret suram kota besar yang biasa kita lihat dari balik kaca mobil. Ternyata kaca mobil kita jugalah yang menghalangi pandangan kita dalam melihat realita kehidupan yang sesungguhnya. Itulah makna dari kesempurnaan cinta ditengah hidup yang penuh ketidak sempurnaan.

Film Sepuluh dipilih Ari Wibowo sebagai penanda debutnya kembali setelah bermain di film Pengantin bersama Sophia Latjuba ditahun 1991. "Buat saya film ini mempunyai cerita yang kuat dan pesan moral yang ingin disampaikan. Film yang diangkat dari fenomena yang terjadi dimasyarakaty punya daya tarik tersendiri," kata ayah satu orang anak ini.

Dalam film Sepuluh, Ari berperan sebagai seorang ayah yang memiliki anak berpenyakit gagal ginjal. Demi menyelamatkan anaknya tersebut Thomas, tokoh yang diperankan Ari Wibowo, menghalalkan segala jalan termasuk penjualan ginjal dipasar gelap.
"Ceritanya sangat menyentuh. Dan akting sudah menjadi bagian dari hidup saya. Jadi saya memutuskan untuk bermain lagi di film. Saya menemukan kepuasan tersendiri bermain dalam film yang berbobot," jelasnya.

Ari pun menampik kalau di film ini ia mendapat bayaran tinggi, untuk memerankan sosok Thomas. "Bayarannya standar-standar saja. Karena kepuasan pribadi enggak bisa dibeli dengan uang,". kata Ari seraya melemparkan senyum khasnya.

Di tengah maraknya trend film religi, komedi seks dan horor dalam dunia perfilman Indonesia, First Media Production muncul dengan pemilihan tema yang tidak ‘biasa’ dalam membidik fenomena sosial di Indonesia. Film ini sebenarnya sama dengan tema film The Shaman, bedanya film sepuluh lebih unggul disisi dramanya, dimana kita bisa lihat akting ratapan tangis yang begitu dihati oleh Rachel dan Ari Wibowo. Jika Mega Utama masih kecil dan Lulu Tobing masih aktif didunia seni peran, mungkin film ini akan diisi oleh mereka. Yang mengulang kesuksesan mereka di sinetron Tersanjung dimana akting mereka bertiga begitu dramatis.






Pemain :
Ari Wibowo
Rachel Maryam
August Melasz
Keke Harun
Yofana

Sutradara :
Henry Riady

Penulis :
Henry Riady
Doddy Soeriapoetra

Jenis Film :
Drama

Produser :
Johannes Tong

Produksi :
First Media Production

Homepage :
http://www.film-sepuluh.com/



powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme