Pesona Sadistik The Shaman

The_Shaman
Setelah para Laskar Pelangi mempesona kita dengan kisah dan keindahan alam Pulau Belitung. Maka,! bersiaplah kembali kita dipesona dengan keindahan alam Indonesia yang eksotik. Kali ini kita akan melihat keindahan Pulau Borneo lewat film yang berjudul The Shaman.Film produksi Indika Entertainment yang mengangkat isu penjualan organ tubuh ditambah mistik ala Kalimantan.

The Shaman berkisahkan tentang seorang dokter muda yang idealis, pintar, juga putra daerah Kalimantan bernama Ryan (Oka Antara) ditugaskan di sebuah klinik di sebuah desa yang dekat dengan Sendawar, Kutai Barat. Ryan ternyata tipe pria yang kurang peduli dengan peringatan masyarakat mengenai perbedaan kultur tradisional. Beberapa kejadian aneh menghampirinya tak lama setelah ia berdiam di desa itu. Penampakan seorang gadis dengan wajah penuh luka, orang – orang dengan luka di perut seperti dioperasi hingga hilangnya beberapa penduduk secara misterius membuat Ryan makin tersudut. Ryan harus berhadapan dengan Aziz, dukun yang memiliki kekuatan supranatural.


Ryan pun mengundang dua sahabatnya, Deny (Kemal Vivaveni) yang Metropolis dan Hasan (Vicky Nitinegoro) yang pencinta alam. Namun kehadiran mereka pun tak membawa pengaruh positif. Mereka malah mendapat pengalaman mendebarkan, juga tragedi di tengah belantara kelam hutan Kalimantan. Saat berlibur ke suatu tempat bersama teman- temannya, ia dihadapkan pada situasi mencekam. Satu per satu temannya hilang secara misterius. Ryan juga sering mendapat mimpi buruk dan mengalami kejadian mistis yang mengerikan.

Dibalik kisah filmnya ternyata ada satu kejadian menarik yaitu, tim produksi film THE SHAMAN harus menghentikan pengambilan gambar lantaran masyarakat disana mengharuskan mereka ikut dalam upacara ritual yang kebetulan sedang berlangsung di sekitar lokasi syuting. Di lain waktu, Oka pun harus melewati syuting yang melelahkan lantaran harus baku hantam dengan atlet panco yang berperan sebagai manusia bertopeng. Oka pun sempat terkena musibah lantaran kakinya kram ketika harus melakukan adegan berenang di sungai.

Difilm besutan sutradara Raditya Sidharta, Oka mengatakan bahwa kerja kerasnya untuk THE SHAMAN tak sia – sia. “Insya Allah film ini akan jadi film yang menarik berkat setting yang apik dan tema cerita yang berbeda, “ tuturnya. Ketika ditanya komentarnya seputar isu yang menyandingkan THE SHAMAN sebagai Hostel-nya Indonesia, Oka hanya tersenyum. “Pokoknya harus dibuktikan sendiri dengan menonton THE SHAMAN … hehehe ….., “ ujarnya.

Sebagai aktor utama film ini muncul nama Oka Antara yang sempat tampil dalam Ayat-ayat Cinta. Sebagai lawan mainnya, dipasangkan debutan Farah Debby.Di film ini, Farah kebagian peran sebagai gadis Dayak, anak kepala desa. Memang, fisiknya terbilang meyakinkan untuk berakting sebagai penduduk asli pulau Kalimantan itu. Awalnya, pemenang II Gadis Sampul 2004 ini sempat ngeri dengan mitos seram tentang suku Dayak. Perlahan-lahan, ketakutan itu sirna lantaran Farah mendapati fakta betapa ramahnya penduduk setempat. “Serulah pokoknya syuting disana. Memang ada beberapa femonena seram, tapi masyarakat di sana sangat membantu, “ terangnya tentang pengalaman selama syuting di pedalaman Eheng, Balikpapan.

Selain didukung oleh Oka Antara,Farah Debi, Vicky Nitinotonegoro, dan Kemal Vivaveni, film ini didukung juga oleh jebolan Indonesian Idol, Yaitu Dirly. Wah semakin banyak saja nih lulusan Indonesian Idol yang bermain film layar lebar, jangan – jangan bakal ada Indonesian Idol The Movie. Kita lihat aja nanti, asal jangan kualitasnya seperti FTV. Lewat film The Shaman, Dirly merasa mendapat pengalaman yang berbeda dalam hal akting. Selain persiapan yang lebih matang, penggarapan sebuah film, menurut Dirly, ternyata jauh lebih serius ketimbang sinetron. Meski hanya bermain sebagai bintang tamu, hal itu dirasa cukup buat Dirly mengembangkan kemampuan aktingnya.

Selain didukung oleh artis, sutradara, dan cerita yang bagus, film ini ternyata didukung oleh Orlando Bassi yang telah pengalaman terlibat dalam make up effect di trilogi LORD OF THE RINGS, PIRATES OF THE CARIBBEAN, HARRY POTTER. Seperti apakah hasilnya nanti, penasaran ? Lihat aja foto – foto nya sambil nunggu penayangannya di bioskop. (ix)

Genre : Thriller
Executive Producer : Kristuadji L
Producer : Wailan Menayang & Raditya Sidharta
Sutradara : Raditya sidharta
Penulis : Aria Bima
Pemain :
Oka Antara, Nadine Chandrawinata, Farah Debi, Vicky Nitinotonegoro, Kemal
Vivaveni, Pit Pagau, Julia Peraz, Dirly Indonesian Idol, Kimidia Radisti

sumber :http://www.blog.theshamanmovie.com/

Quantum of Solace: Seru Tapi Tak Ada Yang Baru

quantum_of_solace
Ketika banyak orang menyanjung arah baru yang telah diambil dalam penyutradaraan film Bond lewat Casino Royale, beberapa juga akan mulai berpikir dan bertanya tanya bagaimanakah kelanjutannya nanti di Quantum of Solace ini. Lewat penampilannya dalam Casino, sang aktor Bond yang baru Daniel Craig juga telah menyatakan dirinya mampu menjadi sosok spy flamboyan ini dengan taste yang segar dan sangat pas dengan masa sekarang. Dibanding dengan Bond2 yang lama, sosok dan karakternya yang lebih keras, juga lebih sedikit dalam hal mempermainkan para kaum hawa juga menjadi sesuatu yang khas yang coba dipatenkan oleh sosok Bond masa kini. Dalam film lanjutan ini penonton akan coba diajak lebih mendalami karakter Bond baru ini dan juga bagaimana kekerasan dan sifat pemberontak yang dibawanya dari Casino Royale akan mendapatkan pelajarannya disini. Bagaimanakah Bond mampu meredam semua perasaan marah dan dendam yang dimilikinya, dan yang lebih penting bagaimana langkahnya dalam menuju seorang sosok agen legendaris 007 dari MI6 itu.

Dalam seri Bond ke-22 ini, emosi Bond atas kematian Vesper lebih disorot. Bond pun mellow. Berbeda dari film Bond sebelumnya yang fokus pada masalah terorisme, 'Casino Royale' mencuatkan isu-isu lingkungan. Semacam pembalakan hutan dan eksploitasi minyak di Bolivia. 'Quantum of Solace' adalah jawaban dari film 'Casino Royale' yang lebih berbumbu drama. Yang jelas disini Bond telah meninggalkan line-nya yang paling terkenal yaitu, "My name is Bond, James Bond."
Bagi yang sudah nonton film sebelumnya, pasti sedikit banyak sudah tau kalau Bond punya dendam pribadi atas meninggalnya sang kekasih Vesper yang diperalat oleh orang yang bakal dikejar2nya dalam film ini. Hanya ada beberapa momen yang menunjukkan amarahnya, selepas itu Bond hanya sibuk membunuh para tersangka tanpa pertanyaan lagi. Dia juga lebih keras kepala dan tidak mengindahkan perintah M. Tapi bagi yang baru nonton disini, sepanjang perjalanan cerita, kita ga bakalan secara jelas menemukan motivasi dendam Bond ini. Selain mempertunjukkan Bond yang sibuk mondar mandir dari satu lokasi eksotis ke yang lainnya, menghabisi para antek2 musuh, mengendarai speedboat dan melompat dari pesawat. Skripnya sendiri hampir tidak mampu menyampaikan pada kita rasa sakit hati dan derita Bond yang mengendalikan diri dan setiap misinya.

Gue ga akan coba mereview secara dalam film ini dari segi actionnya, kenapa? Karena gue pikir saat ini sudah terlalu banyak sekali standar film2 aksi yang beredar dan sulit sekali menentukan mana yang bisa mengungguli yang lainnya. Dan gue pikir juga, Quantum of Solace masih membawa segi action yang tipikal dengan film sejenisnya, bahkan dalam beberapa bagiannya di film ini kita bakalan ngerasa seakan kita menyaksikan aksi2 dari salah seorang spy yang lainnya yaitu Jason Bourne dalam film2nya. Dan gue hanya bisa bilang kalau Quantum of Solace punya banyak adegan aksi yang menarik. Tapi tidak hebat. Jadi tidak begitu special.
Hal yang paling mengganggu dari adegan2 actionnya itu sendiri adalah gaya sineas film ini dalam menggunakan teknik editing cepat yang terlalu berlebihan kalo menurut gue. Sama sekali ga mengasyikkan, sekali saja kamu ngedipin mata maka kamu bakal kehilangan semua aksi itu. Seharusnya, Marc Forster, sang sutradara, lebih baik menyajikan berbagai adegan action itu dengan memanfaatkan ‘gaya gaya lama’ saja. Karena gue yakin lebih banyak penggemar Bond yang lebih suka kepada adegan ledakan dashyat yang ‘full frontal’, kejar-kejaran mobil yang seru, juga aksi perkelahian tangan kosong yang lebih lugas.

Hal lain yang cukup mengecewakan dari Quantum of Solace ini adalah kecenderungannya dalam meninggalkan segala hal yang mengaitkannya dengan karakteristik film film Bond sebelumnya. Jadinya yah seperti yang udah gue bilang diatas tadi, dimana disini kita kadang merasa menonton salah satu film Bourne bukannya Bond. Semoga dalam film Bond berikutnya karakter baru yang coba dibentuk sebelumnya dari agen ini bisa lebih diperjelas lagi garis karakteristik Bond-nya, jadi tidak melenceng hingga malah mirip karakter para pesaingnya.

Tapi, terlepas dari semua itu Quantum of Solace masih pantas menjadi sebuah film Bond yang layak tonton. Bukan karena ini adalah sebuah film action yang hebat. Tapi ini adalah film Bond dan disinilah kita bisa menyaksikan perkembangan yang terus digulirkan oleh karakter legendaris ini, dan itu pun belumlah selesai disini. Maka dari itu gue yakin banget pasti ada karya ketiga lagi yang akan melanjutkan Bond versi baru ini. Semoga saja di film selanjutnya, para produser dan juga sutradaranya bakalan lebih matang dalam mempersiapkannya, dan tidak terburu buru lagi hanya karena ingin mencari keuntungan semata dari penikmat film Bond. (JC)

Nilai: 7/10 (Seru tapi ga ada yang baru dan belum mampu melebihi film terdahulu)


Bermain Gokil dengan Si Jago Merah

poster si jago merah
Setelah Delon bermain difilm “ Vina Bilang Cinta “ (2005), Judika menyusul Delon dengan bermain film layar lebar. Filmnya Judika berbeda genre dengan filmnya Delon, kalau Delon bermain difilm drama, sedangkan Judika bermain film yang bergenre komedi yaitu “Si Jago Merah”. Film bergenre komedi itu, Judika bermain dengan Ringgo yang difilmnya yang sebelumnya bermain dengan sang pacar (Oh, My Good!), terus ada Desta Club 80' yang difilm lalu dikerjai oleh kelompok Titi Kamal (Barbi3), dan Yton Club 80' yang tidak mau ketinggal temen sebandnya ikutan main film. Si Jago Merah adalah film yang berceritakan tentang 4 sahabat, Dede (Ringgo), Judika 'Idol' (Rojak), Desta (Gito), dan Yton 'Club 80' (Kuncoro). Keempatnya merupakan mahasiswa perantauan yang jauh dari sanak keluarga dengan latar belakang berbeda, dan dari daerah yang berbeda. Perasaan senasib dan permasalahan hidup yang sama, kemudian menyatukan mereka, terutama saat mereka terancam DO (drop out) dari kampusnya gara-gara menunggak uang kuliah selama empat semester berturut – turut, orang tua mereka ternyata sudah tidak bisa lagi membiayai kuliah. Pihak Kampus memberikan kelonggaran agar mereka bisa tetap kuliah, tapi tetap harus membayar minimal satu semester dalam waktu beberapa hari.
si_jago_merah

Masing-masing mencari uang. Ternyata mereka tetap butuh biaya untuk hidup sehari-hari, apalagi sebagian dari mereka sebelumnya bergaya hidup ibu kota
Kuncoro memberikan solusi agar biaya operasional terjangkau dan mengajak mereka mencari rumah kontrakan dekat kampus, dan menjalani pola hidup sederhana. Solusi lainnya adalah kerja magang, tapi magang itu membuat mereka kelelahan. Jadwal kuliah menjadi berantakan. Gito mendapatkan ide untuk mencari part time job yang tidak melelahkan dan menyita banyak waktu yaitu sebagai pemadam kebakaran
Singkat cerita setelah ikut pelatihan, mereka diterima kerja magang di Pemadam Kebakaran, sebagai Pasukan Cadangan dengan perlengkapan seadanya dan diberi tugas untuk merawat mobil pemadam kebakaran yang sudah tua, yang dikenal dengan sebutan SI JAGO MERAH, yah dari pada Si Jago Mogok.
Mahasiswa-mahasiswa “tidak-beruntung” ini mendapatkan jatidirinya lewat sebuah tindakan heroik tanpa pamrih yang membuat mereka mendapat penghargaan dari Walikota (Rano Karno)
Untuk mendalam peran sebagai pemadam kebakaran, mereka pun harus berlatih sebagai petugas pemadam. Banyak hal baru yang mereka temui saat observasi ke markas pemadam kebakaran.

Bagi Ringgo, bermain dalam film besutan sutradara Iqbal Rais ini harus benar-benar dipersiapkan lantaran yang dihadapi kobaran api. Selain itu teknik-teknik menjadi petugas pemadam kebakaran harus pula dikuasai. “Dalam pelatihan film ini saya harus belajar memasang selang dan memeragakan menyemprot. Pokoknya berusaha seperti pemadam kebakaran beneran. Kita juga belajar bahasa-bahasa sandi. Misalkan 812 itu artinya ulangi, 102 artinya posisi di mana, 86 artinya aman, jadi tahu hal-hal yang demikian,” kata Ringgo, belum lama ini.
Jadi petugas PMK, lanjut Ringgo, memang tidak gampang. Apalagi saat melihat api. “Sempat ngeper juga saat ada api. Saya ngebayangin gimana kalau dalam kehidupan nyata. Pastinya apinya lebih gede dalam kenyataan. Bingung mau nyiramnya gimana,” ujarnya. Terlibat dalam film ‘Si Jago Merah’ ternyata mendapat banyak pelajaran yang diambil Ringgo. Misalnya saja bisa mengetahui kinerja petugas pemadam kebakaran, bahkan sampai data statistik dinas kebakaran. "Ya saat kita melihat pemadam kebakaran selang kelihatan enak. Saat kita coba sulit banget, selangnya kayak ditarik-tarik tidak bisa tenang. Makanya pas latihan kita sempat mecahin kaca rumah orang. Untung rumah itu kosong," ujar Ringgo
Lain lagi kebanggaan yang dirasakan Ytong 'Club 80'. Ia merasa bangga jika naik mobil pemadam yang sedang melaju. Kalau Desta akan mengutamakan tugasnya sebagai pemadam meskipun sang pacar datang.

"Kalau pacar saya datang ke lokasi, saya akan mendahulukan pekerjaan. Harus profesional dong. Bukannya nggak nafsu sama cewek tapi kan harus menolong korban dulu," jelasnya dengan rasa bangga.
Kalau film sudah ada cowoknya, gak mungkin dong gak ada ceweknya sebagai pemanis. Kali in, pemanisnya adalah Tika Putri. Tika berperan sebagai seorang wanita yang jatuh cinta kepada Desta yang kali ini cukup beruntung. “Jatuh cinta sama orang yang kaya gitu, nggak mudah, butuh waktu,” ungkap Tika.
“Pada awalnya aku putus dengan tunangan aku, dan setelah itu Si Ito (Desta) selalu menemani aku sampai akhirnya aku jadi deket sama dia,” terangnya.

Sementara itu, menanggapi dirinya yang akan beradu akting dengan komedian macam Ringgo dan Desta, Tika mengaku seringkali tidak bisa konsentrasi. “Namanya juga komedian, becanda melulu, jadinya bikin nggak konsen kalau latihan.” Tambahnya.

“Tapi seru juga sih ngeliat mereka gokil-gokilan, tapi kalo lagi jadi pemadam kebakaran mereka semua jadi orang yang serius,” jelas Tika menanggapi keempat lawan mainnya yang dikenal gokil itu.
film komedi yang disutradarai Iqbal Rais adalah film yang berada di bawah bendera Hanung Bramantyo Production. Hanung Bramantyo menyatakan, meski ini adalah film komedi ia tidak mau nantinya film ini hanya serta merta memberikan hiburan belaka, melainkan harus memiliki pesan yang kuat.
“Saya tidak mau film-film saya hanya menghibur, untuk itu saya pesan kepada Iqbal untuk membuat bagaimana media api itu memiliki pesan yang dapat membuat hidup menjadi lebih baik,” ujar Hanung.

Menurut saya cerita film ini agak kurang sesuai, seandainya empat sekawan itu posisinya bukan mahasiswa yang butuh uang tetapi ,misalnya anggota pemadam kebakaran yang baru lulus, mungkin lebih baik. Apakah tugas sebagai pemadam kebakaran merupakan pilihan terakhir ?

Gimana ya kira-kira raut wajah Ringgo yang lucu itu ketika melihat kobaran api besar? Atau ketika kita melihat mereka berempat berebutan selang air mobil pemadam kebakaran buat memadamkan kobaran api yang menyala-nyala. Yang terbayang pertama kali Pasti kocak banget karena mereka jebolan komedian yang berlawan dengan peran yang dimainkan dalam ˜Si Jago Merah” yang menuntut watak serius, tegang, dan berani mempertaruhkan nyawa pula. penasaran Datang aja ke bioskop dan tonton filmnya.(ix)



Pemain :
Ringgo Agus Rahman
Desta Club 80’s
Ytonk Club 80’s
Judika
Poppy Sovia
Tika Putri
Sarah Sechan

Sutradara :
Iqbal Raiz

Jenis Film :
Drama/comedy

Produser :
Chand Parwez Servia

Produksi :
Kharisma Starvision Plus

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme