Membangkitkan Max Payne Di Layar Lebar

max_payne_film
Max Payne adalah seorang agen anti narkoba di New York, bagaikan impian Amerika yang sempurna: pekerjaannya bagus, istrinya mencintainya dan mereka baru punya bayi perempuan. Tapi mimpi indah ini berubah menjadi mimpi buruk ketika suatu hari ia pulang ke rumah dan menemukan keluarganya dibantai oleh seorang pembunuh bayaran psikopat. Tiga tahun setelah kematian keluarganya, Max masih menyimpan dendam pada orang-orang yang telah menghabisi keluarganya itu.
Di saat yang sama, Max kemudian ditugaskan untuk menyusup ke dalam organisasi kejahatan yang mengatur perdagangan obat terlarang yang disebut Valkyr. Saat bertugas inilah, Max mendapat pesan untuk bertemu dengan Alex Balder (Donal Logue) di stasiun kereta api.


Saat Max baru saja bertemu Alex, tiba-tiba saja seorang penembak gelap menembak mati Alex. Max yang berada di lokasi saat penembakan kemudian menjadi tersangka utama pembunuhan ini. Di saat yang sama, pihak mafia juga menyadari bahwa Max adalah petugas kepolisian yang menyamar.
Merasa terjebak, Max kemudian melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan ini. Saat mencari Jack Lupino (Amaury Nolasco), orang yang bertanggung jawab atas perdagangan obat terlarang, inilah Max kemudian bertemu Mona Sax (Mila Kunis) yang punya alasan sendiri untuk memburu Jack Lupino. Kini dalam misi pribadi membalas dendam atas pembunuhan, ia juga diburu kepolisian New York, mafia, dan sebuah perusahaan besar tanpa belas kasihan, semuanya terjadi dalam badai salju paling buruk yang pernah terjadi. Tak lagi memiliki apa-apa kecuali kesetiaannya, tekadnya dan cintanya pada keluarganya yang telah tiada, Max membongkar misteri di balik pembunuhan itu dan mendapatkan pembalasan yang setimpal untuk dendamnya.

Film hasil arahan sutradara John Moore ini adalah adaptasi dari video game keluaran Rockstar yang cukup populer bagi kalangan gamer PC berjudul sama yang diluncurkan sekitar tahun 2001 lalu. Dengan bertema petualangan misteri yang penuh liku-liku, banyak adegan aksi tembak-menembak. Yang membuatnya menarik yaitu bila muncul tampilan efek gerakan lambat (slow motion) maka akan terdengar suara-suara degup detakan jantung yang justru membuat suasana menjadi sangat menegangkan.
Diversi gamenya sekuel yang kedua yaitu Max Payne 2, ini adalah sebuah game 3rd person action yang sangat menakjubkan. Physic Engine dalam game Max Payne 2 bisa dibilang mendekati sempurna, game ini menggunakan Physic Engine Havok yang juga digunakan 3D Mark 2003. Anda bisa melihat kesempurnaan tersebut saat anda berjalan menabrak tumpukan kardus, maka tumpukan kardus tersebut akan jatuh ke lantai, hampir semua benda yang ada dalam game Max Payne 2 dapat diinteraksi. Timba yang biasanya dibuat tempat air saat mengepel lantai juga bisa kita tabrak, botol-botol kosong, dsb. Jika kita lemparkan granat didekat benda-benda itu, maka benda-benda tersebut juga akan terlempar sesuai dengan berat masing-masing. Timba akan terlempar dalam jarak yang lebih dekat daripada botol kosong. Setiap objek dalam game ini juga akan membekas jika kita tembak seperti dalam game Max Payne sebelumnya. Grafik pada game Max Payne 2 sangatlah bagus dan mirip dengan aslinya. Game ini telah mengoptimalkan penggunaan fitur-fitur DirectX 9 seperti Pixel Shading 2.0, hal tersebut terlihat saat hujan mengguyur tanah-tanah yang terbuat dari beton, maka akan nampak genangan air yang memantulkan cahaya dengan samar-samar. Betul-betul mirip dengan aslinya. Max Payne (versi game) sangat terkenal saat pertama kali diluncurkan salah satunya disebabkan oleh adanya efek bullet-time ala Matrix, bahkan game Enter The Matrix yang juga menerapkan efek serupa tidak bisa sebagus milik Max Payne. Dalam Max Payne 2, efek bullet time tersebut telah dikembangkan lebih dalam. Efek suara yang ditawarkan game ini sangat bagus, suara-suara tembakkan terdengar sangat menegangkan, 3D Positional Audio sudah tentu digunakan dengan maksimal, suara tiap karakter juga sangat jelas terdengar dan sangat variatif. Memainkan game ini sungguh menegangkan, terlebih jika kualitas sistem audio anda bagus, serasa seperti menonton film bioskop. Tapi anehnya, CEO Take-Two, Jeffrey L. Lapin, mengeluh atas lemahnya penjualan game Max Payne 2. Kemudian dia pun mengungkap akan ada sekuel baru di serial tersebut. ”Akan ada Max Payne lain,” ujarnya. ”Saya pikir ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat seri berikutnya yang pastinya lebih spektakuler dari apa yang kita lakukan saat ini.” lanjutnya ketika berpresentasi di bulan Maret 2004. Kita tunngu aja apakah kualitas gambar, suara, dan karakter tokohnya lebih bagus film daripada gamenya ?
Film ini dibintangi oleh Mark Wahlberg, Mila Kunis, Chris Odonnell serta rapper Ludacris, Film ini juga sekaligus menjadi film debut pertama penyanyi yang terkenal lewat lagu Like A Bird, yakni Nelly Furtado. (Ix)

Directed by: John Moore
Cast: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Chris O'Donnell, Ludacris, Nelly Furtado, Beau Bridges
Studio: 20th Century Fox


Kembali Soal Krisis Timur Tengah Di Body of Lies

body_of_lies_poster
Satu permasalahan yang lagi getol2nya diangkat oleh para produser Hollywood adalah krisis di timur tengah serta permasalahan terorisme yang menyertainya. Entah mengapa mereka suka sekali bermain2 dengan cerita yang sebenarnya sangat sensitif ini, walaupun dari segi hasil, belum satupun film yang mengangkat tema jenis ini yang mampu mengumpulkan hasil penjualan yang bisa dibilang memuaskan. Ambil saja contohnya seperti “The Kingdom”, “Charlie Wilson’s War” ataupun “Lion for Lambs,” meskipun telah didukung oleh nama2 beken sekelas Tom Hanks, Julia Roberts, Tom Cruise, Meryl Streep, dan Jamie Foxx, toh hasilnya tuetep masih adem ayem aja. Heran yah, mungkin Hollywood kudu lebih mikirin buat bikin tema yang sedang trend saat ini, yaitu krisis ekonomi mereka disana. Kali ini ada lagi sebuah film yang bakalan bentar lagi diputer di bioskop2 tanah air, yang tetap coba ngangkat tema serupa yaitu “Body of Lies,” pemerannya kali ini juga ga tanggung tanggung, dua aktor tersohor di Hollywood Leonardo DiCaprio dan Russell Crowe.

Bermain2 di tema ini jelas film satu ini juga harus menampilkan banyak adegan action, intrik politik, juga ledakan dashyat yang tokoh utamanya adalah siapa lagi kalo bukan agen rahasia amerika yang tergabung dalam organisasi CIA. Yang jadi agennya kali ini pasti si Leo DiCaprio, aktor yang tambah keliatan dewasa dengan jenggot dan tubuh yang lebih tambun (pokoke buat cewek2 yang masih terkenang2 dengan sosok Jack di Titanic dulu, cepet2 deh dibuang jauh2 coz Leo is come with a new image now). Nama tokohnya adalah Roger Ferris, salah satu agen terbaik di tubuh CIA yang ditugaskan untuk terjun ke ganasnya belantara padang pasir timur tengah, dalam misi membekuk pimpinan teroris yang diduga akan beroperasi diluar Yordania. Dalam rencananya untuk menyusup ke dalam jaringan teroris tersebut, Ferris harus mengumpulkan dukungan dari seorang agen veteran CIA yang sarkartis, Ed Hoffman (diperankan oleh Russell Crowe yang pastinya akan mengejutkan anda lewat transformasi bentuk tubuh dan penampilannya untuk peran ini) dan juga pejabat intelijen Yordania, Hani Salaam (Mark Strong). Walaupun kedua orang ini tampil seakan berada dipihaknya, didalam benak Ferris masih penuh dengan pertanyaan, apakah keduanya memang benar benar dapat dipercaya ataukah justru musuh dalam selimut yang bisa saja menghancurkan rencana dan hidupnya dalam sekejap mata.

Film seperti ini sebenarnya memang cukup seru dan menegangkan untuk dinikmati, secara penokohannya juga yang justru dibuat abu abu bukannya hitam putih selayaknya karakter2 dalam sebuah film superhero yang memampukan kita dalam sekejap mengetahui siapakah tokoh yang jahat atau baik. Tapi dalam film seperti ini, setiap tokoh memiliki maksud dan niat tertentu di balik topeng yang mereka gunakan, dan kita seakan diajak untuk terus menebak nebak, manakah tokoh yang harus kita percaya dan sebaliknya mana pula yang tidak, untuk jawabannya pun baru bisa kita ketahui di akhir ceritanya. Menyaksikan dua bintang kelas atas seperti Leo dan Russell saling beradu akting dalam cerita penuh konflik seperti ini pun pastinya bakal sangat mengasyikkan. Karakter yang harus mereka mainkan disini juga bukan peran sembarangan, keduanya harus menunjukkan keseriusan yang besar, seperti yang sudah diberikan oleh Russell yang rela tubuhnya dibikin gendut dan keliatan tua demi riilnya tampilan tokoh yang dia bawakan. Di divisi penyutradaraannya juga tidak tanggung2, Ridley Scott yang namanya telah begitu terkenal dengan mahakaryanya “Gladiator” dan juga “Black Hawk Down” dipercaya untuk memegang tampuk pengendalian proses syuting “Body of Lies” ini. Nyampe disini udah mulai kebayang belum serunya film ini? Kalo belum, kebangetan deh…. He..he..he.. Oke, biar lebih jelas lagi, cek aja trailer dibawah ini n foto2 filmnya yang tersebar di postingan ini. Sampai jumpa dipenayangannya di bioskop bioskop terdekat yang kalo ga salah mulai 10 Oktober ini. (JC)

Kantata Takwa : film dari abad lalu

poster kantata takwa
Masih ingat dengan konser Iwan Fals bersama grup bandnya Kantata Takwa manggung di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno di tahun 1990 ? Atau belum nonton karena belum lahir.
Nah, ada kabar buat penggemar Iwan Fals atau OI, Iwan Fals bersama grup bandnya Kantata Takwa bermain film. Loh bukannya Kantata Takwa sudah bubar ? Film ini sebenarnya sudah dibuat 18 tahun yang lalu. Film Kantata Takwa, sebuah karya yang diangkat dari keberhasilan konser kelompok musik tersebut di Stadion Utama Senayan Jakarta pada 1991. Inti cerita film semi dokumenter itu merupakan kesaksian para seniman Indonesia tentang masa represi Orde Baru yang sarat korupsi, nepotisme, aksi penculikan dan pembunuhan para aktivis yang berseberangan ideologi dengan pemerintah. "Para seniman itu termasuk saya, yang dulu harus keluar masuk penjara," kata WS Rendra.

Erros secara berkelakar mengatakan, "Karena idenya gila, ya saya pikir harus melibatkan orang-orang gila," katanya, seraya menyebut beberapa nama termasuk Setiawan Djody, Iwan Fals, Sawung Jabo, Gatot Prakosa, dan produser Abdurrahim yang disebutnya sebagai "Pakistan gila".film kantata takwa
Berbeda dari film lain yang umumnya hanya menunggu 1-2 tahun sebelum diedarkan, Kantata Takwa sebenarnya sudah dibuat pada 18 tahun lalu. "Setelah jadi, film ini saya simpan di rumah," kata Gatot Prakosa.
Menurut Gatot, saat itu (masa ORBA) tidaklah dimungkinkan untuk mengedarkan film tersebut di bioskop. "Siapa yang berani?" katanya.

Menyambung ucapan rekannya, Erros mengatakan bahwa hal itu ada dampak positifnya. "Kalau dulu diedarkan, pastilah tidak jadi karena banyak sekali yang dipotong," katanya.

Berdurasi 72 menit, film Kantata Takwa menggambarkan kehidupan para seniman dan aktivis yang diburu aparat karena aksi-aksinya yang mengecam pemerintah lewat puisi, musik, dan lagu. Kecaman-kecaman itu diperlihatkan melalui beberapa lagu Kantata Takwa seperti Bongkar, Hati Nurani, dan Bento.

Film ini dibuat pada masa Soeharto berkuasa. Tentu karena sebuah workshop, yang di dalamnya ada WS Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, Jocky Suryoprayogo, Eros Djarot, saya Gotot Prakosa, Slamet Rahardjo Djarot, Chalid Arifin (almarhum), Soetomo Gonodosoebrata (almarhum) jadinya ya cukup seru. Malah sempat saat mendokumentasikan show Kantata Takwa di Stadion Senayan tahun 1991, kami dibantu 30 kameramen. Hampir semua kameramen Indonesia berkumpul membantu, di antaranya Tantra Suryadi, Hary Simon, Bambang Supriyadi, Monod, Ray Supriyadi, Roy Lolang, Yadi Sugandi sampai Judy Datau juga ikut membantu.

“Sebetulnya film ini disyut tahun 1990 mulainya. Ini sudah 18 tahun. Sutradaranya sebenarnya hanya dua orang, saya dan Eros Djarot saja. Sementara Slamet sebagai supervisor karena saat itu fungsinya lebih ke supervisi. Film ini menggambarkan masa orde baru, jadi latar belakangnya tentang bagaimana penculikan manusia-manusia kreatif di Indonesia, dihilangkan dengan istilah penembakan misterius (Petrus), kemudian juga kasus-kasus banyak di Sumatera, Jawa Timur, juga di sekitar Jawa ada banyak pembunuhan dan penculikan, tokoh-tokoh kreatif yang hilang. Kemudian juga banyak ide-ide kreatif yang dibungkam waktu itu karena masa rezim orde baru. Kemudian kita para seniman dan pembuat film berkumpul awal 90-an, ada sastrawan seperti WS Rendra, musisi Sawung Jabo, Iwan Fals, Jockie Suryoprayogo, dan musisi sekaligus industrialis Setiawan Djodi, yang punya dana besar. Kita sudah shoot kira-kira sampai 1994, karena itu kan semacam pertunjukkan-pertunjukkan dan rekonstruksi dari kejadian-kejadian yang menakutkan pada masa itu, kemudian kita rekonstruksi dengan cara yang menurut kita sesuai pada masa itu.”, tutur Gatot Prakarsa sang Sutradara.

“Kita tidak berani menampilkan umpamanya tentang tentara, karena saat itu masih gawat. Saat itupun film kita tidak boleh dirilis karena mengkritik jaman itu pasti kita dihilangkan juga. Karena itu kita buat tentara itu dengan symbol-simbol seperti orang dengan masker. Kita simbolisasikan semuanya secara puitis, karena kebetulan pada masa itu kan WS Rendra juga sering dicekal dan masuk penjara juga. Kemudian Dia membuat pertunjukkan yang membuatnya masuk penjara selama beberapa tahun. Nah setelah keluar itu kita bikin acara ini Kantata Takwa. Bentuknya Pertunjukkan musik tapi sebetulnya ada teaternya, puisinya, tari, dan sebagainya.”, tambah Gatot Prakarsa.

Film Kantata Takwa memang lewat 18 tahun dari waktu rilis yang seharusnya. Film yang pasti memecahkan rekor dalam rentang waktu antara syuting hari pertama (Agustus 1990) dan pemutaran publik perdananya (April 2008) dan menggunakan 30 kamera sekaligus, akhirnya bisa bersentuhan juga dengan publik. Setelah tertunda sekian lama sampai terendam banjir segala, Singapore International Film Festival tahun ini mendapat kehormatan menjadi tempat world premiere film dengan banyak nama seniman besar Indonesia itu.poster kantata takwaFilm ini sempat muncul di daftar film penting yang tak selesai; seakan sebuah janji bahwa sebuah gagasan luar biasa dicatat di dalamnya. Nama-nama besar (ketika itu dan mungkin sampai kini) ada di sana. Kredit penyutradaraan jatuh pada dua nama: Eros Djarot yang legendaris dengan Tjoet Njak Dhien dan musik Badai Pasti Berlalu, dan Gotot Prakosa sang pelopor animasi eksperimental negeri ini. Supervisi ada pada Slamet Rahardjo. Pendukungnya juga tak tanggung-tanggung. Cast-nya diisi dengan nama besar seperti Penyair Burung Merak Rendra, Sawung Jabo, pengusaha-cum-musisi Setiawan Djodi; dan tentu Iwan Fals sendiri. Scoring musik dipegang oleh Jockie Suryprayogo dan penata kamera ditangani oleh orang senior dalam film kita, seperti mendiang Soetomo Gandasubrata yang bisa dibilang melahirkan nyaris seluruh juru kamera yang aktif di perfilman Indonesia saat ini.

Uniknya kalo biasanya kita datang ke bioskop menonton yang namanya "film" itu sudah siap dengan sebuah konsep di kepala "Ceritanya apa, ya?". Tapi film "Kantata Taqwa" bagi yang sudah pernah nonton pertunjukan musik kolosal di abad lalu tentulah sudah siap mau menonton pertunjukan seni musik & lagu, bukan? Ditambah dengan pembacaan puisi-puisi Rendra, tentu saja! Tapi bagaimana halnya dengan kita generasi sekarang, yang tidak sempat nonton live-shownya di Senayan itu?

Generasi sekarang, menurut perkiraan saya, adalah generasi baru yang sudah siap untuk menikmati bahasa film ala video clip yang berisi lagu dan musik. Tapi memang, menikmatinya lewat pemutaran CD atau DVD di layar kaca, bukan di bioskop. Jadi, kalau saja generasi baru (generasi M-TV?) datang dengan kesiapan membaca film itu dalam bahasa video-clip seperti itu, maka mereka akan bisa menikmatinya.

Yang mungkin tergolong unik adalah pembacaan puisi Rendra yang biasanya hanyalah dibacakan dengan penampilan tunggalnya yang kesohor dan kharismatik itu, dalam film "Kantata Taqwa" kali ini juga ditampilkan dalam bahasa vide-clip yang memukau juga! Inilah yang boleh dikata baru, bahwa ada puisi yang ditampilkan dengan bahasa-filmis/media divideo-clipkan. (Mungkin ini untuk pertama kalinya di dunia, barangkali? olong dikporeksi kalau saya salah lho!)

Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura.

Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadi gimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.(ix)

Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa

Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot

Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra


Eagle Eye: Gimana Rasanya Dikerjain Teknologi

eagle_eye_poster
Nama aktor muda Shia LaBeouf mungkin sudah jadi trademark baru di perfilman internasional saat ini, sukses angkat nama sebagai bintang cilik dalam “Holes,” namanya sempat mengisi posisi peran pembantu dalam beberapa film sukses seperti “I, Robot” atau “Constantine”. Tapi porsi sebagai bintang utama yang mampu mencetak box office untuk film-filmnya langsung disematkan kepadanya ketika karya karya seperti “Disturbia”, “Transformers” dan yang terakhir “Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull” semakin meroketkan namanya. Untuk menunggu penampilannya kembali lewat kelanjutan “Transformers” yang lagi dalam tahap produksi saat ini, Shia datang dengan film yang juga jualan teknologi dan aksi seru dalam “Eagle Eye”. Lewat film yang muncul dari idenya Steven Spielberg yang juga sempat berencana untuk menyutradarai sebelum akhirnya lebih memilih untuk berkonsentrasi pada proyek “Indiana Jones” ini, Shia kembali dipertemukan dengan sutradara yang sempat bekerja sama dengannya dalam “Disturbia”.

Dalam film ini, Shia berperan sebagai Jerry Shaw, seorang pengangguran banyak acara yang baru aja menerima kenyataan pahit dengan kematian saudara kandungnya Ethan. Sementara, ditempat lainnya dikisahkan seorang wanita bernama Rachel Hollowman (Michelle Monaghan) yang sedang mengantarkan anaknya untuk mengikuti tur sekolahannya. Ketika Jerry tiba ditempat tinggalnya setelah semaleman ma-ju (mabok dan judi) dengan teman2nya, ada kenyataan lebih pahit lagi yang harus diterimanya. Rumahnya telah dipenuhi oleh berbagai perlengkapan atau persenjataan yang ga tau darimana datangnya, tiba tiba juga sepasukan polisi bersenjata juga telah mengepung rumahnya dan Jerry menerima telepon dari cewek misterius yang menyuruhnya untuk melarikan diri. Ditempat lainnya, Rachel juga menerima telepon yang sama yang mengintruksikan kepadanya beberapa hal yang harus dipatuhi atau nyawa anak satu satunya bakal berada dalam bahaya.
Jerry yang kemudian menolak untuk mematuhi perintah sempat tertangkap oleh pihak FBI yang mengejar-ngejarnya, namun lewat berbagai cara yang meliput pemanipulasian teknologi, sang penelepon misterius sanggup meloloskan Jerry dari kurungannya, dan kemudian mempertemukan dirinya dengan Rachel. Mulailah kedua manusia yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain ini diperalat oleh sang suara misteri, sementara pihak FBI yang dipimpin agen Thomas Morgan (Billy Bob Thornton) dan agen Air Force, Zoe Perez (Rosario Dawson) melakukan pengejaran yang tidak kenal lelah untuk menangkap keduanya yang telah dianggap sebagai teroris yang harus segera diberantas. Bagaimana Jerry dan Rachel mampu keluar dari jaring jaring yang sangat berbahaya ini?

Menonton film satu ini memang kita bakalan disuguhin berbagai aksi super hebat yang mampu memancing adrenalin, aksi kejar kejaran, tabrakan, ledakan, pokoknya semua faktor yang wajib buat sebuah film action lengkap tersaji disini. Tapi yang menjadi kekurangan film ini justru dari segi cerita, pondasi yang sebenarnya sudah cukup baik di awal ternyata menemui jalan buntu dipertengahan yang menuju tidak terbentuknya sebuah akhir yang baik untuk film ini. Twist yang ingin disajikan jadi tampil ga maksimal dan mungkin malah bisa bikin kita bilang “ini maunya ngapain sih??” Tapi sebagai sebuah film action yang menghibur dan faktor adanya sang bintang aksi masa depan Shia LaBeouf disini, film ini masih pantas untuk menjadi pengisi waktu luang anda, tanpa harus banyak mikir atas keabsurdan ceritanya.

Skor: 6 bintang saja (Middle Class)

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme