Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 "HEBOH"

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1
Setelah novel “Harry Potter and the Deathy Hallows” karya JK Rowling tertib cukup lama, cerita tersebut akhirnya difilmkan. Para penggemar Harry Potter tentu sudah tidak sabar lagi untuk melihatnya, karena ini adalah film ketujuh sekaligus seksuel terakhir dari perjalanan Harry Potter. Saking hebohnya, JK Rowling dan David Yates membagi film ini memjadi 2 bagian. . Boleh jadi Rowling dan Yates ingin memberikan cerita yang lebih detail dibandingkan dengan 6 film yang sebelumnya serta memberikan klimaks, sehingga berkesan pada penontonnya. Emma Watson yang berperan sebagai Hermione Granger juga gak mau kalah heboh. Ia telah memulai kampanye hitung mundur untuk film ini. Watson yang tampil dengan rambut baru, berpromosi menawarkan 100 tiket premiere. Tiket ini secara resmi ditawarkan lewat laman Facebook Harry Potter yang bisa dilihat di sini http://www.facebook.com/HarryPotterUK. Selain di Facebook, Watson juga tampil di situs video youtube.

Di film sebelumnya, Harry Potter and The Half Blood Prince, siapa sebenarnya Lord Voldemort atau Tom Riddle mulai diungkap. Dumbledore mengungkapkan memori Tom Riddle melalui Pensieve kepada Harry, juga memori Slughorn, ketika Riddle menanyakan mengenai suatu Sihir Hitam. Memori ini mengungkapkan Riddle bertanya soal Horcrux, sebuah cara dalam Sihir Hitam untuk membagi jiwa ke dalam Horcrux sehingga pembuatnya tidak dapat mati selama Horcruxnya tidak dihancurkan. 

Dalam film Harry Potter and The Deathlky Hallows Part I ini menceritakan bahwa ketiga sahabat, Harry (Daneil Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) sudah tumbuh menjadi seorang remaja dewasa, dan diketahui bahwa mereka sekarang telah duduk di bangku kuliah. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa misi penting yang diberikan oleh Dumbledore. Mereka dikirim untuk menemukan dan menghancurkan semua Horcruxes yang telah hilang untuk bisa mengalahkan Pangeran Kegelapan, tapi perjalanan ini tidak akan mudah karena bahaya mengancam mereka semua. 

Namun hanya sedikit harapan yang tersisa untuk ketiganya, maka apapun yang mereka lakukan harus sesuai dengan yang direncanakan.
Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint) dan Hermione (Emma Watson) menjadi buronan hukum ketika Death Eaters menguasai Ministry Of Magic dan memberikan hadiah bagi siapa saja yang bisa membawa Harry kembali kepadanya untuk dibunuh Voldemort (Ralph Fiennes).
Penguasa kegelapan (Dark Lord) memberitahukan kepada semua Death Eaters untuk tidak membunuh Harry karena dia yang akan membunuhnya.

Harry tidak mengetahui bentuk dan dimana horcruxes berada namun ia harus menemukannya. Dalam pencariannya, Harry terus melihat dalam sekilas kedalam pikiran Voldemort dan ternyata dia juga sedang dalam pencarian. Voldemort sedang mencari tongkat sihir yang tidak pernah Harry ketahui. Ketika mencari tahu tentang tongkat sihir itu, pencarian Harry mengarahkannya pada sebuah cerita misterius tentang “The Deathly Hallows”.


Ketika sedang mencari horcruxes dan mendapat informasi tentang “The Deathly Hallows”, Harry menyadari dia dalam bahaya dimana dia pernah mengalaminya sebelumnya.
Ketika dalam bahaya, orang akan mati.
Diakhir cerita ini perkelahian pun tidak dapat dihindarkan lagi dan banyak orang yang mati.

Dalam satu adegan digambarkan ketika Voldemort memegang wajah Harry, dengan kebencian di seluruh tubuhnya dia mendesis "Kenapa kau hidup?" Dan Harry dengan berani menjawab, "Karena aku memiliki sesuatu untuk hidup." 

Bagian pertama dari film Harry Potter yang ketujuh ini kembali disutradarai oleh David Yates. Setelah menangani The Order of the Phoenix dan The Half-Blood Prince, Yates pasti sudah tahu luar dalam mengenai Harry Potter. Tiga artis utama Daniel Radcliffe, Emma Watson, dan Rupert Grint merupakan sosok yang tak tergantikan. Mereka sudah terlalu identik dengan Harry Potter, Hermione Granger, dan Ron Weasley. Bahkan jika sekarang membaca buku Harry Potter pun yang akan selalu terbayang adalah artis-artis ini.

Selain itu, meski pembaca setia juga sudah tahu ending cerita Harry Potter, namun mereka tetap saja ingin menyaksikan versi ‘live action’ yang konon akan paling mendekati bukunya sejak the Sorcerer's Stone. Demi niat serius tersebut, syuting panjang dimulai sejak Februari 2009 di Inggris dan diharapkan berakhir Juni 2010 ini. Sebagai catatan tambahan, pada tanggal tayang 19 November 2010 nanti juga beberapa film komersil lain justru malah menghindari konfrontasi langsung dengan the Deathly Hallows sehingga memilih ganti jadwal. Pesaingnya mungkin dari film kelas sutradara Oscar, Paul Haggis berjudul The Next Three Days yang dibintangi oleh Elizabeth Banks dan Russell Crowe.

Namun sejak pertunjukan pertamanya pada Kamis (11/11) lalu,film ketujuh perjalanan Harry Potter yang berjudul Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1,mendapat ulasan beragam dari kritikus film di Inggris. 
Cerita dunia sihir Harry Potter terus diburu para penggemarnya.Demikian dengan film-filmnya. Kamis (11/11) lalu,film ini telah dirilis di Inggris.Komentar pun beragam. Mulai dari dianggap membosankan hingga beberapa reaksi positif yang menilai film ini memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan sekuel-sekuel sebelumnya. 


Setelah premiere film ini, permainan Radcliff,Grint,dan Watson dinilai semakin bagus oleh beberapa pengamat film. Seperti yang dituliskan oleh harian asal Inggris The Daily Telegraph misalnya.Menurut Anita Singh, pengamat film harian tersebut memberikan empat bintang dari lima, untuk film ini. Baginya, The Deathly Hallows Part 1menjadi film yang paling menyeramkan dibandingkan enam sekuel terdahulunya. 

”Penampilan Ralph Fiennes sebagai Voldemort dengan karakter makhluk kurus yang sangat dingin, serta akting ketiga tokoh yang dimainkan oleh Radcliff,Watson, dan Grint mampu menunjukkan ketajaman mereka masing-masing,” ujar Singh. Allan Hunter dari The Daily Express malah memberikan skor tertinggi untuk film yang disutradarai oleh David Yates ini ”Film ini menampilkan semua yang kau inginkan dalam kisah Harry Potter. 

Spesial efek yang mencengangkan serta mantra-mantra yang membuat kau ingin mengucapkannya penuh emosi,”kata Hunter. Lebih lanjut, Hunter meyakinkan bahwa sosok Bellatrix Lestrange yang akan disaksikan oleh penggemar Potter akan terasa lebih kejam dari sosok Dementor. ”Karakter Lestrange ini lebih berbahaya dibandingkan dengan yang lain,”ujarnya yakin. 

Berbeda dengan yang lainnya, The Guardian menilai film yang diambil dari buku karya penulis JK Rowling ini sebagai film yang ”kelamaan” dan hanya menunda-nunda kematian seorang tokohnya. ”Deathly Hallows terasa tidak ada bedanya dengan enam film sebelumnya. Misinya masih sama,yaitu menghindari dan melawan Voldemort dan itu adalah hal yang sudah menjadi masalah dari awal film ini,”tulis The Guardian. 

Begitu pun yang dikatakan The Times.Kritikus film harian ini,Kate Muir, memberikan nilai tiga dari lima untuk sekuel ketujuh Potter. Menurut dia,ada kesan bahwa film ini telah diedit dan menjadi film yang agak memabukkan penggemar Potter. ”Film ini memang bisa menjadi sebuah mimpi buruk bagi penggemar Potter yang berumur lima tahun. Karena Part 1 ini jelas ingin mendapatkan pasar anak-anak yang tumbuh remaja bersama buku ini dan film ini akan membuat mereka merasa lulus ketika akhirnya nanti menyaksikan The Deathly Hallows Part 2,”yakin Muir.”

Masalahnya, dalam film ini terasa sangat minim sesuatu yang baru. Yang menarik hanya set lokasi syuting yang sangat megah,”tambahnya. Beberapa sanjungan dan kritikan memang dituai oleh film yang menghabiskan biaya sekitar 150 juta pound sterling atau setara dengan Rp2,1 triliun ini.Namun, ada juga beberapa pengamat film yang hanya menilai aksi-aksi dari pemeran tokoh-tokoh di Harry Potter. Seperti yang diungkapkan oleh jurnalis The Daily Mail,Baz Bamigboye yang hanya mengatakan bahwa dia sangat memuja akting Emma Watson yang berperan sebagai Hermione. 

”Emma Watson menyihir saya. Dia memberikan irama dalam film ini, dengan gayanya yang pendiam,penuh metodis, dia berhasil menjadi pemanas dalam film ini,”katanya. Lain lagi yang dikatakan oleh James Mottram dari The Independent. Baginya, film berdurasi 146 menit ini bak makanan pembuka yang akan membuat penggemar Potter kelaparan menanti kedatangan sekuel selanjutnya. 

Meski begitu, Mottram mengatakan bahwa film ini terasa sangat dilebarkan. ”Nafsu penggemar Potter akan dirangsang untuk mendapatkan sesuatu yang akan ditampilkan dalam akhir kisah Potter,” paparnya.

Ada sedikit berita buruk nih untuk kamu pecinta Harry Potter dan sangat menanti filmnya bakal muncul dalam versi 3 dimensi alias 3-D. Menurut Entertainment Weekly, Sabtu (9/10), Warner Bros., studio pembuat Harry Potter, mengumumkan pengalihan alias konversi film dari dua dimensi atau 2-D ke 3-D tidak akan selesai tepat waktu. Ketimbang menunda jadwal edar yang sudah ditentukan 19 November nanti, Warner Bros. memilih membatalkan proses konversi.  “Kami tak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah menanti akhir dari petualangan luar biasa ini,” kata pernyataan yang dibuat Warner Bros. pada media.

Ada yang mengira, langkah ini dipilih Warner Bros. karena mereka tak mau kecolongan lagi dengan memaksakan merilis versi 3-D. Awal tahun ini, Warner Bros. merilis Clash of the Titans dalam versi 3-D. Tapi, konversi 2-D ke 3-D film itu malah menimbulkan kecaman pers karena konversinya buruk. Jelas, Warner Bros. tak mau dikritik lagi. Apalagi untuk film Harry Potter yang bernilai ratusan juta dollar.
Meski begitu, Warner Bros. masih membuka opsi kalau bagian kedua Harry Potter and the Deathly Hallows akan rilis dalam versi 3-D. Bagian kedua baru akan rilis Juli 2011. Sutradara David Yates masih punya banyak waktu. Semoga saja mimpi kita nonton film Harry Potter dalam versi 3-D tetap terwujud.

Sumber:megiza,Metrotainment.net,Metrotvnews.com,Liputan6.com,TEMPO Interaktif,IMDB

The Social Network :Sosok entepreneur yang “tega”

The-Social-Network-movie
Film The Social Network, mungkin lebih familiar dipanggil dengan film Facebook. Yah gak bisa dipungkirin kalau Facebook memang fenomenal. Kehadirannya menjadi buah bibir hingga tak kurang dari 500 juta orang di seluruh dunia menggunakannya. Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook, kini tak lagi tampil sebagai sosok pria muda sederhana. Ia kini menjadi salah satu pria dengan kekayaan mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Nama Facebook pastinya jadi magnet untuk penonton, dan Hollywood segera mengambil kesempatan membuat film tentang awal berdirinya jejaring sosial yang kini anggotanya sudah lebih dari 500 juta itu. Tak heran bila kemudian Facebook pun difilmkan oleh perusahaan raksasa Columbia Pictures yang dirilis Oktober 2010 di seluruh dunia.
Sebagian dari adegan film berjudul The Social Network ini diadaptasi dari buku Ben Mezrich “The Accidental Billionaires: The Founding of Facebook” yang diterbitkan 2009. Buku itu menceritakan hari-hari Mark mendirikan Facebook, pertumbuhan dan berjayanya situs jejaring sosial tersebut.

Skenario The Social Network ditulis oleh Aaron Sorkin dan disutradarai oleh David Fincher. Jesse Eisenberg berperan sebagai Mark Zuckerberg. Bintang lain adalah: Brenda Song, Justin Timberlake, Andrew Garfield, Rooney Mara dan Armie Hammer.
Film The Social Network bercerita tentang Mark Zuckerberg yang saat menciptakan Facebook hanya dari kamarnya di Asrama Universitas Harvard Amerika Serikat, tempat Zuckerberg belajar. Bercerita pula tentang kisah Mark Zuckerberg membesarkan Facebook termasuk konflik yang terjadi dengan rekan-rekannya.

the sosial network
Film ini dimulai dengan adegan pembukaan dengan kecepatan sangat tinggi (secara verbal), dan keseluruhan dari film adalah pertempuran untuk mengikuti apa Zuckerberg lakukan. Setelah diputus oleh kekasihnya, ia menghabiskan malam sambil mabuk memosting foto-foto teman kampusnya di Harvard, yang mencuri perhatian si kembar Winklevoss, Kyle dan Cameron, (Armie Hammer) dan teman mereka Divya Narendra (Max Minghella).

Winklevoss bersaudara dan Narendra mengira Zuckerberg memiliki keahlian untuk memrogram konsep mereka bagi proyek Facebook. Mereka memunculkan gagasan, ia setuju untuk bekerja dengan mereka, dan kurang dari dua bulan kemudian lahirlah Facebook. Namun yang terjadi adalah Zuckerberg mengeluarkan si kembar dan teman mereka dalam proyek besar ini.

Daftar selanjutnya dalam film adalah sahabat terbaik Zuckerberg, Eduardo Saverin (diperankan Andrew Garfield). Di tengah hujaman komentar pedas yang sinis dan samar-samar, Zuckerberg meyakinkan temannya untuk menanam investasi ribuan dollar sebagai uang muka dan menjadikannya CFO perusahaan.
Saverin sudah ditakdirkan sejak awal — kemungkinan karena Zuckerberg yang pencemburu berat dan pendendam — dan pada keseluruhan film ia berusaha mengejar ketinggalan. Keseluruhan cerita sebagian besar berputar di beberapa karakter ini, yang ditulis dengan sempurna dan didukung pemain berpengalaman.

Sean Parker (Justin Timberlake) menunjukkan bakat aktingnya yang luar biasa, dengan tingkah lakunya yang menyeramkan dan entah bagaimana sangat mencurigakan serta masa lalu yang mengikutinya ke mana-mana. Anda tidak pernah yakin apa yang disembunyikan di balik lengan bajunya, apa yang berusaha ia gunakan, atau siapa yang akan ditusuknya dari belakang.
the sosial network

Dalam skenario yang ditulis Aaron Sorkin, Zuckerberg dicitrakan sebagai sosok autis sosial yang brilian sekaligus angkuh, dua modal yang membuat dia menjadi miliuner termuda.
Zuckerberg, seperti digambarkan orang-orang di sekelilingnya dalam film itu, adalah sosok yang hanya berfokus melihat masa depannya. Saat orang di sekelilingnya tak bisa seiring dengan visinya, dia akan menggilas atau menghempaskan mereka.
CEO Facebook Mark Zuckerberg bukannya senang dibuatkan film tentang dirinya malah mengimbuhkan fitur "dislike" (tidak menyenangkan) dalam film The Social Network..

Dalam satu wawacancara dengan New Yorker bulan lalu, Zuckerberg mengatakan dia tidak berencana menonton film yang skenarionya ditulis oleh penulis skenario The West Wing Aaron Sorkin dan disutradarai oleh David Fincher.

Namun New York Times dan media lainnya melaporkan bahwa orang-orang Facebook, termasuk Zuckerberg, telah menghadiri film itu di sebuah teater dekat markas besar Facebook di Palo Alto, California, pada penayangan perdanan film itu Jumat lalu. "Kami pikir film sejenis ini akan menjadi bahan lawakan," juru bicara Facebook, Larry Yu, kepada the Times.

Pendiri Facebook dihormati karena berjuang sendiri membangun situs jejaring sosial itu. Namun dia juga disebut orang yang tidak dipercaya dan tidak setia kepada kawan sekampusnya di Harvard dan juga sesama pendiri Facebook, Eduardo Saverin.

Dalam wawancara dengan pengasuh acara bincang-bicang Oprah Winfrey menyusul rilis film itu, Zuckerberg yang berusia 26 tahun itu berkelit dengan mengatakan bahwa film itu karya khayalan dan menyebut kehidupannya tidak sedramatis itu. "Enam tahun terkakhir lebih banyak mengkoding, fokus dan bekerja keras, namun itu akan menyenangkan untuk diingat sebagaimana halnya berpesta dan semua drama gila itu," katanya.

Produser Film The Social Network ini sempat melakukan pendekatan kepada pihak Facebook terkait akan dibuat dan dirilisnya film ini, namun pihak Facebook meminta perombakan besar-besaran terhadap cerita di film ini, hingga akhirnya sang produser menolaknya.

“Sejujurnya, saya sangat berharap agar saat seseorang hendak mengerjakan karya jurnalistik, atau menulis sesuatu tentang Facebook, setidaknya mereka berusaha untuk menulis dengan benar,” kata Zuckerberg. “Film itu adalah karya fiksi.”
Facebook asli memang tidak “happy” dengan film itu, terlihat dari pernyataan-pernyataan mereka. Reaksi lainnya adalah Zuckerberg asli yang “tiada angin tiada hujan” menyumbang 100 juta dolar untuk sekolah-sekolah di Newark seiring beredarnya “The Social Network”.

Facebook maupun Zuckerberg menyebut penghianatan yang ada di film itu adalah fiksi. Lewat majalah New Yorker, Zuckerberg membantah jika karakternya seperti yang digambarkan di film tersebut. Tapi, dia juga mengakui dirinya sedikit tersanjung dengan citra mahasiswa tingkat 2 yang sombong.

Kemudian, dia melakukan siasat cerdas untuk memperbaiki citranya; Zuckerberg pada akhir pecan lalu nonton bareng “The Social Network” bersama para karyawan.
Seiring “The Social Network” meledak, para pendiri Facebook, yang kini sekedar punya saham dan tak terlibat dalam perusahaan, membuat berita.

Sean Parker (tokoh yang dalam film diperankan Justin Timberlake) menyumbang 100 ribu dolar AS untuk mendukung rencana legalisasi ganja di California. Pendiri lainnya, Dustin Moskovitz, sudah menyumbang 70 ribu dolar untuk kampanye serupa.
Parker (30) adalah presiden pertama Facebook dan dialah yang mengubah perusahaan itu dari skala usaha “kamar kos” menjadi bisnis besar. Saat usia 19, Parker membantu mengembangkan Napster, piranti lunak berbagi musik yang menjungkirbalikkan industri rekaman.

Facebook adalah salah satu fenomena terbesar dalam Internet. Cukup beberapa tahun sejak berdiri telah menjadikan para pembuatnya sebagai miliyuner terkaya. Meski demikian, Facebook di dunia nyata tak lepas dari kontroversi.

Tiga mahasiwa di Harvard menyatakan bahwa merekalah yang punya ide orisinil. Mereka menuduh Zuckerberg, yang disewa untuk menyusun “code” situs tersebut, mencuri ide itu lalu menciptakan Facebook. Gugatan yang sudah berjalan lama di pengadilan itu masih tertunda.

Sedikit tentang Facebook, jejaring sosial terbesar, didirikan tahun 2004 oleh mahasiswa Harvard, Zuckerberg. Awalnya Facebook melayani para mahasiswa perguruan tinggi terkemuka itu tapi selanjutnya berkembang ke semua SMA dan perguruan tinggi.
Tahun 2007, Facebook mengumumkan Facebook Platform sehingga orang bisa beriklan. prakarsa itu juga membuat para pembuat perangkat lunak menciptakan program untuk jejaring sosial tersebut. Sejak itu ratusan games, musik, hingga peralatan berbagi foto Facebook juga bisa untuk beriklan.

Kembali ke “The Social Network”. Sosok entepreneur yang “tega” sebenarnya sudah biasa di film Hollywood. Film yang juga sedang tayang, “Wall Street: Money Never Sleeps,” malah menampilkan dua sosok seperti itu, : Gordon Gekko, yang diperankan Michael Douglas, dan Bretton James, yang diperankan Josh Brolin. Bedanya, (selain mereka tak muda), dua sosok itu tak menciptakan apapun kecuali menimbun kekayaan.
Nick Denton, pendiri Gawker, perusahaan media digital, mengemukakan bahwa “The Social Network” menyajikan pertanyaan “bisakah sukses dicapai tanpa sedikitpun bersikap kejam”. Dia mengatakan film tersebut intinya tentang “sikap keras kepala, tak mau mendengar hal yang dikatakan orang pada kita.”

Kolumnis The New York Times, David Carr, melihat hal lain. Setelah menonton film tersebut, katanya, para penonton akan pulang dengan dua kesan; memuja atau kasihan pada Zuckerberg.

“Film itu bisa untuk membagi generasi tua ataupun muda berdasarkan anggapan mereka tentang ambisi dan caplok-mencaplok dalam bisnis.” kata Carr meski mengakui film itu banyak bumbu-bumbu fiksi.

Menurut Carr, orang yang lebih tua akan prihatin terhadap Mark Zuckerberg (diperankan Jesse Eisenberg), anak muda yang mengkhianati teman-temannya, para mitranya, bahkan prinsipnya sendiri demi harta dan ketenaran.

Sebaliknya, generasi muda yang dibesarkan pada era Facebook, akan melihat Zuckerberg (26) sebagai orang yang jeli mengambil kesempatan dan meraihnya dengan upaya keras, cukup lewat papan ketik dan meng-”coding” hal yang belum pernah dilakukan orang lain.

Kolumnis New York Times itu menulis bahwa kalangan muda segenerasi dengan Zuckerberg berpikiran bahwa, untuk menghasilkan karya besar, wajar jika ada yang dikorbankan. (Sesuai dengan tagline film tersebut “You don’t get to 500 million friends without making a few enemies along the way.”)

Soal dua persepsi dari film tersebut diakui oleh Scott Rudin, salah satu produser “The Social Network”. Menurut dia, penonton “tua” akan menilai Zuckerberg sebagai sosok tragis yang mengawali sesuatu dengan baik tapi selanjutnya menyedihkan.
“Kalangan muda akan melihat Zuckerberg sebagai sosok yang benar-benar maju, selebritis, dan bertekad bulat melindungi sesuatu yang telah dia buat.”
Sosok Zuckerberg tentunya tak baik secara sosial tapi dia mewujudkan optimisme dan kreativitas millennium. Dalam skenario yang ditulis Aaron Sorkin, Zuckerberg dicitrakan sebagai sosok autis sosial yang brilian sekaligus angkuh, dua modal yang membuat dia menjadi miliuner termuda.

Zuckerberg, seperti digambarkan orang-orang di sekelilingnya dalam film itu, adalah sosok yang hanya berfokus melihat masa depannya. Saat orang di sekelilingnya tak bisa seiring dengan visinya, dia akan menggilas atau menghempaskan mereka.
“Mereka itu korban atau hambatan, tergantung cara pandang anda, merenungi sesuatu yang sudah terjadi atau selalu menatap jalan di depan yang penuh peluang,” kata Carr.

Cara pandang yang berbeda itu dirasakan juga oleh Eisenberg yang memerankan tokoh utama film itu. “Orang tua akan bilang peranku sangatlah jahat tapi orang muda punya pandangan lain, mereka bilang, sosok ini genius, lihat hal yang dia ciptakan.”
Apapun sikap anda, media dan para bekas mitra Zuckerberg menobatkannya sebagai “Raja muda kapitalisme baru Amerika Serikat yang akan terus berkembang”. Jadi kita jangan berharap pergi menonton The Social Network dengan gagasan bahwa kita akan mendapatkan pandangan mengenai kisah sukses CEO Facebook Mark Zuckerberg. Namun kita mungkin akan meninggalkan rasa kasihan padanya setelah melihat kisah seorang anak muda yang brilian dan kaya, tetapi secara moral dan sosial bangkrut. Padahal slogan Facebook adalah "Facebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda".

sumber :http://blogmagis.com/blogmagis.com/wp/category_base/category_name/social-network,oase.kompas.com,http://www.republika.co.id/berita/senggang/film-musik/10/10/05/138384-mark-zuckerberg-sebut-film-the-social-network-lawakan-belaka,http://goyangkarawang.com/2010/09/film-facebook-the-social-network-bukan-kisah-si-pembuat-facebook/,Epochtimes.co.id,filmoo



Madame X : Membela Kebenaran Menjaga Penampilan

madame x
Sebagai produser, sutradara, maupun penulis, Nia Dinata selalu menampilkan sesuatu yang beda. Berawal dari obrolannya dengan Aming, dia kembali hadir dengan “Madame X”. Kalo biasanya jago itu cowok atau cewek dan macho - macho, kali ini jagoaannya "setengah - setengah" dan nyentrik. Film debut dari sutradara Lucky Kuswandi ini disebut sebagai sebuah film superhero.“Madame X” masuk ke dalam deretan film superhero yang menceritakan karakter superhero yang eksentrik. Sebelumnya, “Kick-Ass” sudah disuguhkan kepada penonton. Film tersebut berusaha memberikan karakter superhero baru dengan sudut pandang baru pula. Melihat kondisi ini, kita bisa merasa bangga dengan proses kreativitas dibalik “Madame X” yang tepat sekali dalam melihat kecenderungan trend genre film tahun ini.Tetapi “Madame X” sungguh terasa mengekor Kick - Ass, sama - sama from zero to hero.

Tokoh utama MADAME X, Aming, merupakan perias salon transgender. MADAME X adalah perubahan seorang waria Adam. Kelucuan film ini berawal dari tingkah kemayu Adam. Kisahnya berawal dari Adam saat sedang berulang tahun. Hari bahagia tersebut pun dirayakan oleh ibu angkatnya yang dipanggil Tante Liem (Baby Jim), bersama dengan waria bernama Aline (Joko Anwar) yang merupakan sahabat karibnya, dan Cun Cun (Fitri Tropica).

Tiba-tiba seorang wanita bernama Bunda Lilis (Sarah Sechan) datang berkunjung ke salonnya dan memperingatkannya agar tidak mempelajari sebuah tarian yang bisa membunuhnya. Tanpa mengerti maksud dari Bunda Lilis, Adam pun hanya mendengarkan ramalan itu saja. Di malam harinya, Adam bersama Aline dan Cun Cun merayakan ulang tahunnya di sebuah klub waria. Ternyata tempat itu diserang oleh sebuah ormas yang suka melakukan tindak kekerasan dan dipimpin oleh Kanjeng Badai (Marcell Siahaan).

Semua waria diangkut ke dalam sebuah truk. Aline, yang memang selalu bicara sesuka hati tanpa melihat kondisi di sekitarnya, harus berakhir dilempar keluar truk. Adam pun marah dan berusaha melawan, tapi nasibnya pun sama dengan Aline. Ia dilempar keluar dari truk. Lalu, Adam diselamatkan oleh sepasang suami istri, Om Rudy (Robby Tumewu) dan Tante Yantje (Ria Irawan). Pasangan tersebut memiliki kelompok penari yang menarikan Tari Lenggok.



Berkat latihan tari tersebut, Adam jadi mahir. Sesuai dengan keahlian yang dimiliki, Adam menggunakan senjata tas make-up untuk membeladiri. Karena dorongan yang kuat untuk menyelamatkan kawan-kawannya, Adam kembali ke ibukota sebagai 'Madame X'. Di kota, Kanjeng Badai ternyata sibuk berkampanye untuk pemilihan pemimpin. Adam merasa tak rela jika orang sejahat Kanjeng Badai terpilih.

Dengan kekuatan tas make-up dan peralatan dandan, juga perpaduan seksi antara seni bela diri dan gerak tari, Madame X harus mengalahkan Kanjeng Badai dengan gemulai sebelum musuhnya itu memenangkan pemilu. Halangan terbesarnya adalah pendukung partai politik Kanjeng Badai yang terkenal militan dan homophobia.

Dari sinopsis di atas, mungkin sudah dirasakan ada bagian yang relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. Nyatanya, film ini memang tidak malu-malu dalam melemparkan berbagai macam sindiran ke berbagai macam kalangan di Indonesia. Hal ini terlihat dari karakter, adegan, dan dialog yang dilontarkan. “Madame X” memperlakukan isu-isu sosial yang disinggungnya itu seperti meneriakkan betapa gilanya kondisi di Indonesia yang dianggap semakin absurd. Teriakan tersebut begitu jelas dan lantang. Dengan menggunakan medium film superhero, penyelesaian yang diberikan oleh film ini pun membuat keseluruhan film bernuansa fabel.

Semua ini menjadi jembatan bagi penonton untuk menyeberang ke dalam dunia superhero dan villain yang mengenakan pakaian layaknya model dalam sebuah fashion show. Untuk bisa menyeberang, semua tergantung dari penonton. Jika sindiran yang membangun jembatan tersebut mampu mengusik Anda hingga mengurangi kenikmatan menonton, maka mungkin “Madame X” akan mengganggu Anda sepanjang film. Kebalikannya, jika Anda tidak merasa terganggu, maka Anda bisa melihat “Madame X” sebagai sebuah film yang menghibur dengan cukup baik dalam hal relevansinya dengan kondisi sosial di Indonesia. Tidak banyak film Indonesia yang sekedar ingin menghibur penontonnya, tapi gagal dalam membangun koneksi yang baik dengan penonton. Banyak di antaranya justru hanya membuat kita mengernyit dan mempertanyakan logika dibalik motif dan cerita dalam film.

Dalam berbagai film superhero, spesial efek banyak dijadikan sebagai menu utama dari sajiannya. Dengan menggunakan teknologi CGI (Computer-generated Imagery), efek visual “Madame X” yang terlihat cheesy justru menjadi sesuatu yang disengaja untuk menghadirkan tontonan tentang superhero yang eksentrik layaknya karakter-karakter dalam film ini. Di departemen kostum, Tania Soeprapto, Isabelle Patrice, Jeffrey Tan, dan Lenny Agustin menambah warna-warni dari penampilan visual “Madame X”. Kemeriahan dari CGI dan kostum ini sayangnya tampak kurang menonjol dengan baik karena tampilan dari “Madame X” yang kurang terasa tajam. Meskipun begitu, hal tersebut tidaklah terlalu menganggu kenikmatan menonton.

Dengan tujuan ingin menjadi film yang menghibur dan meninggalkan sesuatu untuk dibicarakan oleh penonton setelah menontonnya, “Madame X” sebenarnya kurang berhasil. Terlepas dari keunikan dari segi ide, karakter, skenario, efek visual, dan kostum, ternyata hiburan yang disuguhkan kurang dapat terjaga sepanjang film. Lelucon-lelucon yang dilontarkan kurang menggigit walaupun terasa pedas. Aktor-aktor yang berakting dalam film ini memang ekspresif dalam menghidupkan karakter mereka. Tapi, hal tersebut sebenarnya sudah dapat terduga hanya dengan membaca deretan nama pemainnya saja. Tidak ada sesuatu yang terasa seperti kejutan atau pun istimewa dari penampilan mereka. Mungkin Vincent dan Joko Anwar belum pernah berakting sebagai waria, tapi kita tahu mereka mau dan bisa melakukannya.

Meski terasa kurang dapat menjaga hiburannya dan tidak meninggalkan sesuatu di dalam benak penonton, “Madame X” tetap dapat dinikmati sebagai film yang memberikan kesegaran kreativitas dan berbeda.

Mengangkat tema gender dan politik, film ini menghilangkan batasan jenis kelamin yang selama ini masih banyak menjadi penghalang seseorang berkarya. Jadi, selain menghibur kita bisa juga belajar menghargai orang lain tanpa batas gender. Yang asyik, film ini juga memadukan tari-tari tradisional yang ada di Indonesia sebagai bentuk beladiri.

Tetapi yang penting Madame X itu "membela kebenaran menjaga penampilan" .

Studio : Kalyana Shira Films
Genre : Comedy, Action
Director : Lucky Kuswandi
Producer : Nia Dinata
Starring : Amink, Marcell, Shanty, Titi Dj, Sarah Sechan, Fitri Tropica, Robby Tumewu, Ria Irawan, Joko Anwar



Sumber : Flick Magazine. Kapanlagi.com, filmoo

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme