The Social Network :Sosok entepreneur yang “tega”

The-Social-Network-movie
Film The Social Network, mungkin lebih familiar dipanggil dengan film Facebook. Yah gak bisa dipungkirin kalau Facebook memang fenomenal. Kehadirannya menjadi buah bibir hingga tak kurang dari 500 juta orang di seluruh dunia menggunakannya. Mark Zuckerberg, si pendiri Facebook, kini tak lagi tampil sebagai sosok pria muda sederhana. Ia kini menjadi salah satu pria dengan kekayaan mencapai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 13,5 triliun. Nama Facebook pastinya jadi magnet untuk penonton, dan Hollywood segera mengambil kesempatan membuat film tentang awal berdirinya jejaring sosial yang kini anggotanya sudah lebih dari 500 juta itu. Tak heran bila kemudian Facebook pun difilmkan oleh perusahaan raksasa Columbia Pictures yang dirilis Oktober 2010 di seluruh dunia.
Sebagian dari adegan film berjudul The Social Network ini diadaptasi dari buku Ben Mezrich “The Accidental Billionaires: The Founding of Facebook” yang diterbitkan 2009. Buku itu menceritakan hari-hari Mark mendirikan Facebook, pertumbuhan dan berjayanya situs jejaring sosial tersebut.

Skenario The Social Network ditulis oleh Aaron Sorkin dan disutradarai oleh David Fincher. Jesse Eisenberg berperan sebagai Mark Zuckerberg. Bintang lain adalah: Brenda Song, Justin Timberlake, Andrew Garfield, Rooney Mara dan Armie Hammer.
Film The Social Network bercerita tentang Mark Zuckerberg yang saat menciptakan Facebook hanya dari kamarnya di Asrama Universitas Harvard Amerika Serikat, tempat Zuckerberg belajar. Bercerita pula tentang kisah Mark Zuckerberg membesarkan Facebook termasuk konflik yang terjadi dengan rekan-rekannya.

the sosial network
Film ini dimulai dengan adegan pembukaan dengan kecepatan sangat tinggi (secara verbal), dan keseluruhan dari film adalah pertempuran untuk mengikuti apa Zuckerberg lakukan. Setelah diputus oleh kekasihnya, ia menghabiskan malam sambil mabuk memosting foto-foto teman kampusnya di Harvard, yang mencuri perhatian si kembar Winklevoss, Kyle dan Cameron, (Armie Hammer) dan teman mereka Divya Narendra (Max Minghella).

Winklevoss bersaudara dan Narendra mengira Zuckerberg memiliki keahlian untuk memrogram konsep mereka bagi proyek Facebook. Mereka memunculkan gagasan, ia setuju untuk bekerja dengan mereka, dan kurang dari dua bulan kemudian lahirlah Facebook. Namun yang terjadi adalah Zuckerberg mengeluarkan si kembar dan teman mereka dalam proyek besar ini.

Daftar selanjutnya dalam film adalah sahabat terbaik Zuckerberg, Eduardo Saverin (diperankan Andrew Garfield). Di tengah hujaman komentar pedas yang sinis dan samar-samar, Zuckerberg meyakinkan temannya untuk menanam investasi ribuan dollar sebagai uang muka dan menjadikannya CFO perusahaan.
Saverin sudah ditakdirkan sejak awal — kemungkinan karena Zuckerberg yang pencemburu berat dan pendendam — dan pada keseluruhan film ia berusaha mengejar ketinggalan. Keseluruhan cerita sebagian besar berputar di beberapa karakter ini, yang ditulis dengan sempurna dan didukung pemain berpengalaman.

Sean Parker (Justin Timberlake) menunjukkan bakat aktingnya yang luar biasa, dengan tingkah lakunya yang menyeramkan dan entah bagaimana sangat mencurigakan serta masa lalu yang mengikutinya ke mana-mana. Anda tidak pernah yakin apa yang disembunyikan di balik lengan bajunya, apa yang berusaha ia gunakan, atau siapa yang akan ditusuknya dari belakang.
the sosial network

Dalam skenario yang ditulis Aaron Sorkin, Zuckerberg dicitrakan sebagai sosok autis sosial yang brilian sekaligus angkuh, dua modal yang membuat dia menjadi miliuner termuda.
Zuckerberg, seperti digambarkan orang-orang di sekelilingnya dalam film itu, adalah sosok yang hanya berfokus melihat masa depannya. Saat orang di sekelilingnya tak bisa seiring dengan visinya, dia akan menggilas atau menghempaskan mereka.
CEO Facebook Mark Zuckerberg bukannya senang dibuatkan film tentang dirinya malah mengimbuhkan fitur "dislike" (tidak menyenangkan) dalam film The Social Network..

Dalam satu wawacancara dengan New Yorker bulan lalu, Zuckerberg mengatakan dia tidak berencana menonton film yang skenarionya ditulis oleh penulis skenario The West Wing Aaron Sorkin dan disutradarai oleh David Fincher.

Namun New York Times dan media lainnya melaporkan bahwa orang-orang Facebook, termasuk Zuckerberg, telah menghadiri film itu di sebuah teater dekat markas besar Facebook di Palo Alto, California, pada penayangan perdanan film itu Jumat lalu. "Kami pikir film sejenis ini akan menjadi bahan lawakan," juru bicara Facebook, Larry Yu, kepada the Times.

Pendiri Facebook dihormati karena berjuang sendiri membangun situs jejaring sosial itu. Namun dia juga disebut orang yang tidak dipercaya dan tidak setia kepada kawan sekampusnya di Harvard dan juga sesama pendiri Facebook, Eduardo Saverin.

Dalam wawancara dengan pengasuh acara bincang-bicang Oprah Winfrey menyusul rilis film itu, Zuckerberg yang berusia 26 tahun itu berkelit dengan mengatakan bahwa film itu karya khayalan dan menyebut kehidupannya tidak sedramatis itu. "Enam tahun terkakhir lebih banyak mengkoding, fokus dan bekerja keras, namun itu akan menyenangkan untuk diingat sebagaimana halnya berpesta dan semua drama gila itu," katanya.

Produser Film The Social Network ini sempat melakukan pendekatan kepada pihak Facebook terkait akan dibuat dan dirilisnya film ini, namun pihak Facebook meminta perombakan besar-besaran terhadap cerita di film ini, hingga akhirnya sang produser menolaknya.

“Sejujurnya, saya sangat berharap agar saat seseorang hendak mengerjakan karya jurnalistik, atau menulis sesuatu tentang Facebook, setidaknya mereka berusaha untuk menulis dengan benar,” kata Zuckerberg. “Film itu adalah karya fiksi.”
Facebook asli memang tidak “happy” dengan film itu, terlihat dari pernyataan-pernyataan mereka. Reaksi lainnya adalah Zuckerberg asli yang “tiada angin tiada hujan” menyumbang 100 juta dolar untuk sekolah-sekolah di Newark seiring beredarnya “The Social Network”.

Facebook maupun Zuckerberg menyebut penghianatan yang ada di film itu adalah fiksi. Lewat majalah New Yorker, Zuckerberg membantah jika karakternya seperti yang digambarkan di film tersebut. Tapi, dia juga mengakui dirinya sedikit tersanjung dengan citra mahasiswa tingkat 2 yang sombong.

Kemudian, dia melakukan siasat cerdas untuk memperbaiki citranya; Zuckerberg pada akhir pecan lalu nonton bareng “The Social Network” bersama para karyawan.
Seiring “The Social Network” meledak, para pendiri Facebook, yang kini sekedar punya saham dan tak terlibat dalam perusahaan, membuat berita.

Sean Parker (tokoh yang dalam film diperankan Justin Timberlake) menyumbang 100 ribu dolar AS untuk mendukung rencana legalisasi ganja di California. Pendiri lainnya, Dustin Moskovitz, sudah menyumbang 70 ribu dolar untuk kampanye serupa.
Parker (30) adalah presiden pertama Facebook dan dialah yang mengubah perusahaan itu dari skala usaha “kamar kos” menjadi bisnis besar. Saat usia 19, Parker membantu mengembangkan Napster, piranti lunak berbagi musik yang menjungkirbalikkan industri rekaman.

Facebook adalah salah satu fenomena terbesar dalam Internet. Cukup beberapa tahun sejak berdiri telah menjadikan para pembuatnya sebagai miliyuner terkaya. Meski demikian, Facebook di dunia nyata tak lepas dari kontroversi.

Tiga mahasiwa di Harvard menyatakan bahwa merekalah yang punya ide orisinil. Mereka menuduh Zuckerberg, yang disewa untuk menyusun “code” situs tersebut, mencuri ide itu lalu menciptakan Facebook. Gugatan yang sudah berjalan lama di pengadilan itu masih tertunda.

Sedikit tentang Facebook, jejaring sosial terbesar, didirikan tahun 2004 oleh mahasiswa Harvard, Zuckerberg. Awalnya Facebook melayani para mahasiswa perguruan tinggi terkemuka itu tapi selanjutnya berkembang ke semua SMA dan perguruan tinggi.
Tahun 2007, Facebook mengumumkan Facebook Platform sehingga orang bisa beriklan. prakarsa itu juga membuat para pembuat perangkat lunak menciptakan program untuk jejaring sosial tersebut. Sejak itu ratusan games, musik, hingga peralatan berbagi foto Facebook juga bisa untuk beriklan.

Kembali ke “The Social Network”. Sosok entepreneur yang “tega” sebenarnya sudah biasa di film Hollywood. Film yang juga sedang tayang, “Wall Street: Money Never Sleeps,” malah menampilkan dua sosok seperti itu, : Gordon Gekko, yang diperankan Michael Douglas, dan Bretton James, yang diperankan Josh Brolin. Bedanya, (selain mereka tak muda), dua sosok itu tak menciptakan apapun kecuali menimbun kekayaan.
Nick Denton, pendiri Gawker, perusahaan media digital, mengemukakan bahwa “The Social Network” menyajikan pertanyaan “bisakah sukses dicapai tanpa sedikitpun bersikap kejam”. Dia mengatakan film tersebut intinya tentang “sikap keras kepala, tak mau mendengar hal yang dikatakan orang pada kita.”

Kolumnis The New York Times, David Carr, melihat hal lain. Setelah menonton film tersebut, katanya, para penonton akan pulang dengan dua kesan; memuja atau kasihan pada Zuckerberg.

“Film itu bisa untuk membagi generasi tua ataupun muda berdasarkan anggapan mereka tentang ambisi dan caplok-mencaplok dalam bisnis.” kata Carr meski mengakui film itu banyak bumbu-bumbu fiksi.

Menurut Carr, orang yang lebih tua akan prihatin terhadap Mark Zuckerberg (diperankan Jesse Eisenberg), anak muda yang mengkhianati teman-temannya, para mitranya, bahkan prinsipnya sendiri demi harta dan ketenaran.

Sebaliknya, generasi muda yang dibesarkan pada era Facebook, akan melihat Zuckerberg (26) sebagai orang yang jeli mengambil kesempatan dan meraihnya dengan upaya keras, cukup lewat papan ketik dan meng-”coding” hal yang belum pernah dilakukan orang lain.

Kolumnis New York Times itu menulis bahwa kalangan muda segenerasi dengan Zuckerberg berpikiran bahwa, untuk menghasilkan karya besar, wajar jika ada yang dikorbankan. (Sesuai dengan tagline film tersebut “You don’t get to 500 million friends without making a few enemies along the way.”)

Soal dua persepsi dari film tersebut diakui oleh Scott Rudin, salah satu produser “The Social Network”. Menurut dia, penonton “tua” akan menilai Zuckerberg sebagai sosok tragis yang mengawali sesuatu dengan baik tapi selanjutnya menyedihkan.
“Kalangan muda akan melihat Zuckerberg sebagai sosok yang benar-benar maju, selebritis, dan bertekad bulat melindungi sesuatu yang telah dia buat.”
Sosok Zuckerberg tentunya tak baik secara sosial tapi dia mewujudkan optimisme dan kreativitas millennium. Dalam skenario yang ditulis Aaron Sorkin, Zuckerberg dicitrakan sebagai sosok autis sosial yang brilian sekaligus angkuh, dua modal yang membuat dia menjadi miliuner termuda.

Zuckerberg, seperti digambarkan orang-orang di sekelilingnya dalam film itu, adalah sosok yang hanya berfokus melihat masa depannya. Saat orang di sekelilingnya tak bisa seiring dengan visinya, dia akan menggilas atau menghempaskan mereka.
“Mereka itu korban atau hambatan, tergantung cara pandang anda, merenungi sesuatu yang sudah terjadi atau selalu menatap jalan di depan yang penuh peluang,” kata Carr.

Cara pandang yang berbeda itu dirasakan juga oleh Eisenberg yang memerankan tokoh utama film itu. “Orang tua akan bilang peranku sangatlah jahat tapi orang muda punya pandangan lain, mereka bilang, sosok ini genius, lihat hal yang dia ciptakan.”
Apapun sikap anda, media dan para bekas mitra Zuckerberg menobatkannya sebagai “Raja muda kapitalisme baru Amerika Serikat yang akan terus berkembang”. Jadi kita jangan berharap pergi menonton The Social Network dengan gagasan bahwa kita akan mendapatkan pandangan mengenai kisah sukses CEO Facebook Mark Zuckerberg. Namun kita mungkin akan meninggalkan rasa kasihan padanya setelah melihat kisah seorang anak muda yang brilian dan kaya, tetapi secara moral dan sosial bangkrut. Padahal slogan Facebook adalah "Facebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan Anda".

sumber :http://blogmagis.com/blogmagis.com/wp/category_base/category_name/social-network,oase.kompas.com,http://www.republika.co.id/berita/senggang/film-musik/10/10/05/138384-mark-zuckerberg-sebut-film-the-social-network-lawakan-belaka,http://goyangkarawang.com/2010/09/film-facebook-the-social-network-bukan-kisah-si-pembuat-facebook/,Epochtimes.co.id,filmoo



Madame X : Membela Kebenaran Menjaga Penampilan

madame x
Sebagai produser, sutradara, maupun penulis, Nia Dinata selalu menampilkan sesuatu yang beda. Berawal dari obrolannya dengan Aming, dia kembali hadir dengan “Madame X”. Kalo biasanya jago itu cowok atau cewek dan macho - macho, kali ini jagoaannya "setengah - setengah" dan nyentrik. Film debut dari sutradara Lucky Kuswandi ini disebut sebagai sebuah film superhero.“Madame X” masuk ke dalam deretan film superhero yang menceritakan karakter superhero yang eksentrik. Sebelumnya, “Kick-Ass” sudah disuguhkan kepada penonton. Film tersebut berusaha memberikan karakter superhero baru dengan sudut pandang baru pula. Melihat kondisi ini, kita bisa merasa bangga dengan proses kreativitas dibalik “Madame X” yang tepat sekali dalam melihat kecenderungan trend genre film tahun ini.Tetapi “Madame X” sungguh terasa mengekor Kick - Ass, sama - sama from zero to hero.

Tokoh utama MADAME X, Aming, merupakan perias salon transgender. MADAME X adalah perubahan seorang waria Adam. Kelucuan film ini berawal dari tingkah kemayu Adam. Kisahnya berawal dari Adam saat sedang berulang tahun. Hari bahagia tersebut pun dirayakan oleh ibu angkatnya yang dipanggil Tante Liem (Baby Jim), bersama dengan waria bernama Aline (Joko Anwar) yang merupakan sahabat karibnya, dan Cun Cun (Fitri Tropica).

Tiba-tiba seorang wanita bernama Bunda Lilis (Sarah Sechan) datang berkunjung ke salonnya dan memperingatkannya agar tidak mempelajari sebuah tarian yang bisa membunuhnya. Tanpa mengerti maksud dari Bunda Lilis, Adam pun hanya mendengarkan ramalan itu saja. Di malam harinya, Adam bersama Aline dan Cun Cun merayakan ulang tahunnya di sebuah klub waria. Ternyata tempat itu diserang oleh sebuah ormas yang suka melakukan tindak kekerasan dan dipimpin oleh Kanjeng Badai (Marcell Siahaan).

Semua waria diangkut ke dalam sebuah truk. Aline, yang memang selalu bicara sesuka hati tanpa melihat kondisi di sekitarnya, harus berakhir dilempar keluar truk. Adam pun marah dan berusaha melawan, tapi nasibnya pun sama dengan Aline. Ia dilempar keluar dari truk. Lalu, Adam diselamatkan oleh sepasang suami istri, Om Rudy (Robby Tumewu) dan Tante Yantje (Ria Irawan). Pasangan tersebut memiliki kelompok penari yang menarikan Tari Lenggok.



Berkat latihan tari tersebut, Adam jadi mahir. Sesuai dengan keahlian yang dimiliki, Adam menggunakan senjata tas make-up untuk membeladiri. Karena dorongan yang kuat untuk menyelamatkan kawan-kawannya, Adam kembali ke ibukota sebagai 'Madame X'. Di kota, Kanjeng Badai ternyata sibuk berkampanye untuk pemilihan pemimpin. Adam merasa tak rela jika orang sejahat Kanjeng Badai terpilih.

Dengan kekuatan tas make-up dan peralatan dandan, juga perpaduan seksi antara seni bela diri dan gerak tari, Madame X harus mengalahkan Kanjeng Badai dengan gemulai sebelum musuhnya itu memenangkan pemilu. Halangan terbesarnya adalah pendukung partai politik Kanjeng Badai yang terkenal militan dan homophobia.

Dari sinopsis di atas, mungkin sudah dirasakan ada bagian yang relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. Nyatanya, film ini memang tidak malu-malu dalam melemparkan berbagai macam sindiran ke berbagai macam kalangan di Indonesia. Hal ini terlihat dari karakter, adegan, dan dialog yang dilontarkan. “Madame X” memperlakukan isu-isu sosial yang disinggungnya itu seperti meneriakkan betapa gilanya kondisi di Indonesia yang dianggap semakin absurd. Teriakan tersebut begitu jelas dan lantang. Dengan menggunakan medium film superhero, penyelesaian yang diberikan oleh film ini pun membuat keseluruhan film bernuansa fabel.

Semua ini menjadi jembatan bagi penonton untuk menyeberang ke dalam dunia superhero dan villain yang mengenakan pakaian layaknya model dalam sebuah fashion show. Untuk bisa menyeberang, semua tergantung dari penonton. Jika sindiran yang membangun jembatan tersebut mampu mengusik Anda hingga mengurangi kenikmatan menonton, maka mungkin “Madame X” akan mengganggu Anda sepanjang film. Kebalikannya, jika Anda tidak merasa terganggu, maka Anda bisa melihat “Madame X” sebagai sebuah film yang menghibur dengan cukup baik dalam hal relevansinya dengan kondisi sosial di Indonesia. Tidak banyak film Indonesia yang sekedar ingin menghibur penontonnya, tapi gagal dalam membangun koneksi yang baik dengan penonton. Banyak di antaranya justru hanya membuat kita mengernyit dan mempertanyakan logika dibalik motif dan cerita dalam film.

Dalam berbagai film superhero, spesial efek banyak dijadikan sebagai menu utama dari sajiannya. Dengan menggunakan teknologi CGI (Computer-generated Imagery), efek visual “Madame X” yang terlihat cheesy justru menjadi sesuatu yang disengaja untuk menghadirkan tontonan tentang superhero yang eksentrik layaknya karakter-karakter dalam film ini. Di departemen kostum, Tania Soeprapto, Isabelle Patrice, Jeffrey Tan, dan Lenny Agustin menambah warna-warni dari penampilan visual “Madame X”. Kemeriahan dari CGI dan kostum ini sayangnya tampak kurang menonjol dengan baik karena tampilan dari “Madame X” yang kurang terasa tajam. Meskipun begitu, hal tersebut tidaklah terlalu menganggu kenikmatan menonton.

Dengan tujuan ingin menjadi film yang menghibur dan meninggalkan sesuatu untuk dibicarakan oleh penonton setelah menontonnya, “Madame X” sebenarnya kurang berhasil. Terlepas dari keunikan dari segi ide, karakter, skenario, efek visual, dan kostum, ternyata hiburan yang disuguhkan kurang dapat terjaga sepanjang film. Lelucon-lelucon yang dilontarkan kurang menggigit walaupun terasa pedas. Aktor-aktor yang berakting dalam film ini memang ekspresif dalam menghidupkan karakter mereka. Tapi, hal tersebut sebenarnya sudah dapat terduga hanya dengan membaca deretan nama pemainnya saja. Tidak ada sesuatu yang terasa seperti kejutan atau pun istimewa dari penampilan mereka. Mungkin Vincent dan Joko Anwar belum pernah berakting sebagai waria, tapi kita tahu mereka mau dan bisa melakukannya.

Meski terasa kurang dapat menjaga hiburannya dan tidak meninggalkan sesuatu di dalam benak penonton, “Madame X” tetap dapat dinikmati sebagai film yang memberikan kesegaran kreativitas dan berbeda.

Mengangkat tema gender dan politik, film ini menghilangkan batasan jenis kelamin yang selama ini masih banyak menjadi penghalang seseorang berkarya. Jadi, selain menghibur kita bisa juga belajar menghargai orang lain tanpa batas gender. Yang asyik, film ini juga memadukan tari-tari tradisional yang ada di Indonesia sebagai bentuk beladiri.

Tetapi yang penting Madame X itu "membela kebenaran menjaga penampilan" .

Studio : Kalyana Shira Films
Genre : Comedy, Action
Director : Lucky Kuswandi
Producer : Nia Dinata
Starring : Amink, Marcell, Shanty, Titi Dj, Sarah Sechan, Fitri Tropica, Robby Tumewu, Ria Irawan, Joko Anwar



Sumber : Flick Magazine. Kapanlagi.com, filmoo

Eat,Pray,Love : Perjalanan yang Melelahkan Penuh Makna

Eat,Pray,Love : Perjalanan yang Melelahkan Penuh Makna
Bulan November lalu, perhatian masyarakat Indonesia sempat tertuju pada syuting film Eat, Pray , Love yang dilakukan di Bali. Selama 2 pekan, Julia Robert bersama sejumlah kru dari Hollywood melakukan syuting dibawah penjagaan yang super ketat. Kini, Eat, Pray & Love bisa dinikmati di bioskop – bioskop.

Eat, Pray, Love mengisahkan seorang perempuan bernama Elizabeth Gilbert (Julia Robert) yang bosan dengan kemewahan yang dimiliki kemudian memutuskan mencari makna kehidupan dan cinta di berbagai negara; Italia, India dan Bali. Di Bali, Elizabeth bersahabat dengan seorang dukun bernama Ketut Liyer dan seorang pelukis bernama Nyoman. Sampai pada akhirnya, Elizabeth menemukan kembali cinta sejatinya, Felipe (Javier Bardem), seorang pria blasteran Brazil di Bali.

Pada awalnya Elizabeth Gilbert (Julia Robert) bisa dibilang adalah wanita paling beruntung, dia memiliki apa yang wanita modern dambakan. Tetapi punya seorang suami, rumah, dan karir yang sukses ternyata tidak membuat Liz menikmati hidupnya lagi. Dia kehilangan keseimbangan, bingung dengan dirinya sendiri beserta kehidupan asmaranya. Pada saat sedang meraba-raba apa yang sebenarnya ia cari dalam hidup ini, dia justru kehilangan apa arti cinta dan mencintai, keyakinannya mulai redup, dan kenikmatan hidup tidak lagi terkecap manis, apa yang diharapkannya ketika “selera” hidup itu mulai menjauh.

Pernikahannya dengan Steven (Billy Crudup) pun kandas di tengah persimpangan jalan, diantara lalu lalang problematika hubungan suami-istri dan keinginan-keinginan yang selama ini hanya terpendam di hati. Liz memang pada akhirnya menemukan sosok pria pengganti dalam diri David (James Franco), melupakan sejenak bahwa dia masih terluka dan mencoba menikmati “pelarian”-nya. Tapi pada akhirnya hubungan keduanya gagal, Liz pun lelah berlari di jalan yang sama. Kini tiba waktunya untuk Liz mengambil rute yang berbeda, mengambil keputusan yang mungkin seharusnya dia ambil dari awal. Satu-satunya yang dia inginkan sekarang adalah keliling dunia selama satu tahun dan berharap bisa menemukan potongan “puzzle” dirinya yang hilang.
eat,pray,love
Seperti judulnya Eat, Pray, Love mewakili kegiatan yang Elizabeth lakukan pada tiap negara. Eat ; ketika berada di Italia, Elizabeth mengumbar nafsu makannya pada masakan-masakan Italia. Tak heran, beratnya bertambah menjadi 12 kilogram. Pray ; Dari Italia menuju India. Elizabeth menghabiskan waktu 4 bulan untuk menjalani meditasi dan mengeksplorasi sisi spiritual. Untuk lebih menggali sisi spiritualnya, Elizabeth menyerahkan dirinya pada Ashram (padepokan Hindu). Love ; menjadi tujuan terakhir Elizabeth, yaitu Bali tempat yang eksotik. Elizabeth menemukan kembali cinta sejatinya bernama Felipe di Bali. Jelas, Eat, Pray, Love adalah menjadi bukti catatan kegiatan perjalanan spiritual Elizabeth dalam mencari jati diri. Dan secara juga bisa diartikan ini adalah kebutuhan makanan jasmani dan batin.

Eat, Pray, Love yang diadaptasi dari memoir laris karya jurnalis Elizabeth Gilbert yang melakukan perjalanan solo ke berbagai negara untuk mencari makna kehidupan dan cinta. Buku perjalanan Elizabeth Gilbert adalah buku yang laris sehingga sudah terjual lebih dari 8 juta copy. Tetapi Keekonomian penerbitan buku dan Hollywood sungguh berbeda satu sama lain. Hanya sedikit buku yang bisa dicetak lebih dari satu juta kopi, namun untuk membuat sebuah film menjadi laris, studio film perlu menjual jutaan tiket. tu adalah tantangan yang dihadapi pula oleh studio, produser, sutradara, dan penulis film lainnya ketika mereka berusaha melayarlebarkan novel-novel berceritakan wanita. "Eat Pray Love" sendiri menghadapi kompetisi yang keras. 

Salah satunya dari film laga produksi Lionsgate "The Expendables" yang juga akan dirilis Jumat ini.  Film ini diperkirakan bakal mendapat sambutan luar biasa dari pria dewasa sampai anak-anak sehingga semestinya berada di puncak di pekan ini. 

Seperti telah diduga, "Eat Pray Love" menarik perhatian perempuan berusia 30an dan di atasnya, tetapi film itu ternyata juga sangat disukai perempuan berumur 20an, bahkan kalangan remaja. 

Sony berharap film itu mendapat sambutan hangat penonton, pujian dan bertahan lama di puncak 10 film terlaris, seperti dialami film yang juga garapan Sony "Julie & Julia" setahun lalu.

Manakala "Eat Pray Love" difilmkan, pembuatnya telah memilih aktor dan aktris kawakan dengan harapan menjadi daya tarik penonton untuk menyaksikannya. 

Bintang-bintangnya memang menjanjikan mendatangkan banyak penonton, sebutlah aktris berusia 42 tahun Julia Roberts yang memerankan Elizabeth Gilbert, sutradara Ryan Murphy ( yang juga menyutradarai "Glee"), produser Dede Gardner ("The Time Traveler's Wife"), James Franco yang memerankan guru yoga David Piccolo, Richard Jenkins yang berusia lawas memerankan penasihat spiritual Richard dari Texas, dan aktor Spanyol berusia 41 tahun Javier Bardem yang memerankan kekasih Elizabeth Gilbert, Felipe.

"Saya harap mereka bisa menarik segmen penontonnya masing-masing," kata Gardner.

Gardner menyebut film ini reflektif, tidak hanya karena para bintangnya, namun juga karena orang-orang di belakang kamera seperti Murphy dan sinematografis Robert Richardson (pemenang Oscar untuk film "The Aviator" and "JFK")

Menonton film ini tentu sangat melelahkan tidak hanya karena perjalanan panjang yang ditempuh Liz ke berbagai kota berbeda untuk menemukan kembali kehidupannya, tapi juga karena ditambah perjalanan tersebut berdurasi 2 jam lebih. Sayangnya film ini kurang berhasil mengisi setiap menitnya dengan menarik.

Kata terakhir “Love” pun tidak tersampaikan dengan sempurna, parahnya Javier Bardem berlakon kaku disini. Beruntung ketika akting makin payah dan jalan cerita makin terlunta, Bali masih tetap terlihat indah walau tidak ditangkap kamera semeriah kota Roma. Pulau yang terkenal dengan sebutan pulau Dewata ini pun sanggup memaksa saya dengan lembut untuk tetap betah dalam bioskop. Apalagi rasa betah itu makin terasa ketika Christine Hakim dan Hadi Subiyanto muncul dan menampilkan porsi akting yang maksimal walau hanya sebentar saja. Hadi Subiyanto yang berperan sebagai Ketut, sang “yoda” bagi Liz, tampil sangat lucu dan sukses membuat saya beberapa kali tertawa. Eat, Pray, Love akhirnya hanya menjadi kisah percintaan berujung membosankan tapi pesan-pesan kehidupannya memang sangat positip dan sayang untuk tidak dipetik maknanya.

Inilah untuk pertama kalinya, sebuah film Hollywood bernilai milyaran dolar, dengan bintang sekaliber Julia Roberts dan Javier Bardem, mengambil setting di Indonesia, tepatnya Bali. Deborah Gabinetti dari Bali Film Center, organisasi yang sejak tahun 2002, aktif mempromosikan Indonesia sebagai lokasi syuting film layar lebar, menilai ini terobosan berarti.
"Dengan film ini, kita membuktikan kita bisa melakukan sesuatu sekaliber ini. Indonesia sangat luas, sangat tidak tersentuh, jadi ini sangat menarik," ujar Gabinetti.
Upaya Bali Film Center mendapat dukungan dari Pemda Bali, serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, yang optimis fillm ini akan mendongkrak kembali pamor Indonesia di mata dunia, yang sempat turun akibat serangkaian serangan terorisme.
"Kita harapkan film ini dapat memacu produser-produser lain untuk membuat film di Indonesia," ujar Sapta Nirwandar, Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Namun, menurut Deborah, untuk mampu bersaing dalam industri film internasional, tak cukup hanya dnegan membuka tangan selebar-lebarnya. Untuk setting negara tropis, Indonesia sering kalah bersaing dengan lokasi lain, yang sudah mempunyai program insentif khusus untuk industri perfilman.
"Fiji dan Thailand memiliki program insentif yang bagus sekali. Ini sesuatu yang dicari semua studio, tak hanya dari Amerika, tapi juga dari seluruh dunia. Baik dalam potongan pajak, atau tambahan dana, hibah dan lain-lain," jelas Gabinetti.
Menurut Christine Hakim, yang juga hadir pada malam premier "Eat, Pray, Love" di Siegfeld Theater, New York, pelaku industri film Indonesia bisa belajar dari sistem dan etos kerja insan perfilman Hollywood.
"Seorang profesional, sekaliber Julia Roberts, memang harus disiplin pada dirinya. Bukan hanya Julia saya lihat, yang lainpun, kru-krunya juga seperti itu. Tidak ada orang yang tidak berkepentingan berada dalam set, tidak ada becanda cekikikan. Semua hanya fokus padajob description masing-masing," kata Christine. Ia menambahkan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak pembuat film dan aktor-aktor yang potensial.
Selain potensi pengembangan industri perfilman tanah air, film ini diharapkan akan menggairahkan kembali industri pariwisata. Malah menurut pengamat, kini yang sedang menjadi trend di kalangan warga Amerika adalah wisata spiritual, dan salah satu tujuan wisata spiritual yang mereka nanti-nantikan adalah Bali.
Kedua pemain pendukung "Eat, Pray, Love" mengaku sangat terkesan dengan Bali, dan bahkan ingin pindah ke sana, setelah enam minggu syuting di Pulau Dewata tersebut.
"Saya suka pantainya, tapi Ubud juga cantik dengan sawah-sawahnya. Kita juga pergi arung jeram," ujar TJ Power, pemeran Leon.
Sementara itu, Arlene Tur, pemeran Armenia sangat terkesan dengan masakan Indonesia. "Saya suka sekali nasi goreng dengan telur di pagi hari. Itu sarapan saya setiap pagi. Enak sekali," kenang Arlene.

Di Indonesia, film "Eat, Pray, Love" baru akan mulai diputar pertengahan Oktober, sejalan dengan berlangsungnya Balinale, festival film internasional yang dikelola Bali Film Center.
eat,pray,love

Studio : Columbia Pictures, Plan B Entertainment
Genre : Drama, Romance
Director : Ryan Murphy
Producer : Dede Gardner, Brad Pitt

Starring :
Julia Roberts, Javier Bardem, James Franco, Billy Crudup, Richard Jenkins, Viola Davis, Christine Hakim

Sumber:Filmoo, Flick Magazine, http://www.voanews.com/indonesian/news/Setelah-Eat-Pray-Love-Bali-Ingin-Tarik-Lebih-Banyak-Film.html, http://www.antaranews.com/berita/1281662200/eat-pray-love-segera-hadir-di-bioskop , http://lintas21.blogspot.com/search?q=julia+robert






powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme